Risale-i NurAl-Maktubat

Jawaban

Al-Maktubat · hlm. 516

Tujuan maksud tarekat — sebagai makrifat dan tersingkapnya hakikat imani — adalah pencapaian hakikat imani dan Qur'ani secara zauqi (rasa), hâlî (keadaan), dan sampai derajat tertentu syuhudi (penyaksian), sebagai hasil suatu seyr u sulûk ruhani dengan kaki kalbu, di bawah naungan dan bayang Mikraj Ahmadi صلى الله عليه وسلم; ia — dengan nama "tarekat" dan "tasawuf" — adalah suatu rahasia insani yang luhur dan suatu kesempurnaan manusiawi.

Ya, karena manusia di alam semesta ini adalah suatu fihris (indeks) yang menyeluruh, kalbu manusia berkedudukan bagai peta maknawi ribuan alam. Ya, sebagaimana ada ilmu dan sains manusia tak terhingga yang menunjukkan bahwa otak di kepala manusia — bagai pusat yang disebut sentral dari telegraf dan telepon nirkabel tak terhingga — adalah semacam pusat maknawi alam semesta, demikian pula jutaan kitab bercahaya yang ditulis ahli wilayah yang tak terhitung menunjukkan bahwa kalbu dalam mahiyah manusia pun adalah tempat penampakan, sandaran, dan benih hakikat alam semesta yang tak terhingga.

Maka selama kalbu dan otak manusia berada di pusat ini; ia mengandung dalam keadaan benih piranti sebuah pohon yang mahabesar dan telah tersisip di antara alat dan roda sebuah mesin ukhrawi yang kekal dan megah. Tentu dan bagaimanapun Sang Fâthir (Pencipta) kalbu itu telah menghendaki agar kalbu itu bekerja, keluar dari keadaan potensi ke keadaan aktual, tersingkap, dan bergerak — sehingga Ia berbuat demikian. Selama Ia telah menghendaki, tentu kalbu itu pun akan bekerja seperti akal. Dan sarana terbesar untuk membuat kalbu bekerja adalah menghadap kepada hakikat imani di jalan tarekat dengan zikir Ilahi pada tingkatan-tingkatan wilayah.