Telvih Kedua
Al-Maktubat · hlm. 517
Kunci dan sarana seyr u sulûk kalbu dan gerak ruhani ini adalah zikir Ilahi dan tafakur. Kebaikan zikir dan pikir ini tak habis dihitung. Terlepas dari faedah ukhrawi dan kesempurnaan insani yang tak terhingga, hanya satu faedah parsial yang berkaitan dengan kehidupan dunia yang penuh gejolak ini adalah: setiap manusia, untuk sedikit terbebas dari gejolak hidup dan beban beratnya serta untuk bernapas; bagaimanapun menginginkan suatu hiburan, mencari suatu kenikmatan, dan mencari suatu keakraban yang akan menghilangkan keliaran. Perkumpulan akrab yang menjadi hasil peradaban manusia, memberi keakraban, keramahan, dan hiburan sementara — bahkan secara lalai dan bagai mabuk — hanya kepada satu-dua dari sepuluh manusia. Tetapi delapan puluh persen entah hidup menyendiri di gunung dan lembah, atau derita penghidupan menggiringnya ke sudut-sudut terpencil, atau mereka terhalang dari keakraban yang datang dari perkumpulan manusia karena sarana yang membuat orang memikirkan akhirat seperti musibah dan ketuaan. Keadaan itu tak memberi mereka keakraban dan tak menghibur mereka.
Maka hiburan hakiki, keakraban sungguh-sungguh, dan kenikmatan manis orang-orang semacam itu adalah; membuat kalbu bekerja melalui zikir dan pikir, di sudut-sudut terpencil itu, di gunung yang liar dan lembah yang menyesakkan itu, dengan menghadapkan diri ke kalbunya dan berkata "Allah!" lalu berakrab dengan kalbunya, dan dengan keakraban itu memikirkan benda-benda yang di sekelilingnya memandangnya dengan liar dalam keadaan tersenyum akrab, seraya berkata "Sebagaimana hamba-hamba tak terhingga Khâliq-ku yang kuzikirkan berada di segala penjuru, di tempat liarku ini pun mereka banyak. Aku tak sendiri, keliaran ini tak bermakna," lalu ia meraih suatu kenikmatan akrab dari kehidupan yang berpaut iman. Ia memahami makna kebahagiaan hidup, ia bersyukur kepada Allah.