Telvih Ketiga
Al-Maktubat · hlm. 518
Wilayah adalah suatu hujah risalah; tarekat adalah suatu bukti syariat. Karena hakikat imani yang disampaikan risalah, wilayah melihat dan membenarkannya pada derajat ainul yaqin dengan semacam penyaksian kalbu dan cita rasa ruhani. Pembenarannya adalah hujah pasti bagi kebenaran risalah. Hakikat hukum yang diajarkan syariat, tarekat — dengan cita rasa, kasyaf, pemanfaatan, dan limpahan darinya — adalah bukti terang bahwa hukum syariat itu hak dan datang dari Yang Mahahak. Ya, sebagaimana wilayah dan tarekat adalah hujah dan dalil risalah dan syariat; demikian pula ia adalah suatu rahasia kesempurnaan Islam, sumber cahayanya, tambang kemajuan manusia melalui rahasia Islam, dan mata air limpahan.
Maka selain rahasia agung ini sedemikian penting, sebagian golongan sesat justru pergi ke arah pengingkarannya. Mereka sendiri terhalang dari cahaya itu, dan mereka menjadi sebab keterhalangan orang lain. Yang paling menyedihkan adalah: sebagian ulama lahiriah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan sebagian orang lalai ahli politik yang tergabung dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah; dengan berdalih sebagian penyalahgunaan dan sebagian kesalahan yang mereka lihat di kalangan ahli tarekat, berupaya menutup — bahkan merusak — perbendaharaan terbesar itu, dan mengeringkan mata air kautsar yang menyebarkan air kehidupan itu. Padahal pada segala hal, sesuatu, masyrab, dan jalan yang tanpa cela dan baik dari segala segi jarang ditemukan. Bagaimanapun akan ada sebagian cela dan penyalahgunaan. Karena jika orang yang tak ahli masuk ke suatu pekerjaan, tentu ia menyalahgunakannya. Tetapi Allah di akhirat, dengan dustur perhitungan amal, menunjukkan keadilan rabbani-Nya dengan penimbangan kebaikan dan keburukan. Yakni jika kebaikan lebih unggul dan berat, Ia memberi ganjaran, menerima; jika keburukan lebih unggul, Ia menghukum, menolak. Penimbangan kebaikan dan keburukan tak memandang kuantitas, ia memandang kualitas. Kadang, satu kebaikan mengungguli seribu keburukan, membuatnya diampuni. Selama keadilan Ilahi menghukumi demikian dan hakikat pun memandangnya benar; dalil bahwa kebaikan tarekat — yakni tarekat dalam lingkup Sunnah yang Mulia — pasti mengungguli keburukannya adalah: ahli tarekat memelihara imannya pada saat serangan ahli kesesatan. Seorang ahli tarekat biasa yang tulus; memelihara dirinya lebih daripada seorang ahli sains yang lahiriah dan permukaan. Melalui cita rasa tarekat itu dan melalui cinta kepada para wali itu, ia menyelamatkan imannya. Ia menjadi fasik karena dosa besar, tetapi tak menjadi kafir; ia tak mudah dimasukkan ke zindik. Suatu silsilah masyayikh yang ia terima sebagai para qutub dengan cinta yang kuat dan keyakinan yang kokoh, tak dapat dirobohkan kekuatan apa pun dalam pandangannya. Karena tak dirobohkan, ia tak dapat memutus kepercayaannya kepada mereka. Jika kepercayaannya kepada mereka tak terputus, ia tak dapat masuk ke zindik. Adapun seorang alim muhaqqiq yang tak memiliki bagian dalam tarekat dan kalbunya tak bergerak, memelihara dirinya secara sempurna menghadapi tipu daya para zindik sekarang telah menjadi sukar.
Ada satu hal lagi: tarekat tak dapat dihukum dengan keburukan sebagian masyrab yang mengambil rupa di luar lingkup takwa — bahkan di luar lingkup Islam — dan orang-orang yang secara tak berhak menyematkan nama tarekat pada dirinya. Terlepas dari hasil-hasil tarekat yang amat penting dan luhur secara agama, ukhrawi, dan ruhani; sebagaimana tarekat adalah sarana pertama, paling berpengaruh, dan paling hangat bagi tersingkap dan meluasnya ukhuwah — suatu ikatan suci di dalam Alam Islam — demikian pula ia adalah salah satu dari tiga benteng Islam yang penting dan tak tergoyahkan menghadapi serangan dahsyat alam kekufuran dan politik Kristen untuk memadamkan cahaya Islam. Yang membuat Istanbul — pusat Khilafah — terjaga selama lima ratus lima puluh tahun di hadapan seluruh alam Kristen adalah: cahaya tauhid yang memancar dari lima ratus tempat di Istanbul, dan suatu titik sandaran penting bagi ahli iman di pusat Islam itu, yaitu kekuatan iman orang-orang yang berkata "Allah Allah!" di tekke-tekke (zawiyah) di belakang masjid-masjid besar itu, dan gelora mereka dengan suatu cinta ruhani yang datang dari makrifat Ilahi.
Maka wahai para penjaja semangat tak berakal dan para pemuja kebangsaan palsu! Keburukan tarekat yang mana yang akan merobohkan kebaikannya dalam kehidupan sosial kalian ini, katakanlah?