Telvih Keempat
Al-Maktubat · hlm. 519
Jalan wilayah, selain amat mudah, juga amat sukar; selain amat pendek, juga amat panjang; selain amat berharga, juga amat berbahaya; selain amat luas, juga amat sempit.
Maka karena rahasia inilah; mereka yang menempuh jalan itu kadang tenggelam, kadang jatuh merugi, kadang berbalik dan menyesatkan orang lain dari jalan. Antara lain: dalam tarekat ada dua masyrab di bawah istilah "seyr-i enfüsî (perjalanan ke dalam diri)" dan "seyr-i âfâkî (perjalanan ke ufuk)".
Masyrab pertama adalah masyrab enfüsî; ia mulai dari nafsu, menarik pandangannya dari luar, memandang kalbu, menembus egoisme, membuka jalan dari kalbunya, menemukan hakikat. Kemudian ia masuk ke ufuk (âfâq). Ketika itu ia melihat ufuk bercahaya. Ia cepat menyelesaikan perjalanan itu. Hakikat yang ia lihat dalam lingkup enfüsî, ia lihat pula pada ufuk dalam skala yang besar. Kebanyakan tarekat tersembunyi (turuk-u hafiyah) berjalan dengan jalan ini. Asas terpentingnya pun; mematahkan egoisme, meninggalkan hawa nafsu, mematikan nafsu.
Masyrab kedua; mulai dari ufuk, menyaksikan manifestasi nama dan sifat pada tempat-tempat penampakan lingkup terbesar itu, lalu masuk ke lingkup enfüsî (batin). Dalam skala kecil, di lingkup kalbunya ia menyaksikan cahaya-cahaya itu, membuka jalan terdekat padanya. Ia melihat bahwa kalbu adalah cermin Sang Shamad, ia sampai ke maksud yang dicarinya.
Maka jika manusia yang menempuh masyrab pertama tak berhasil mematikan nafsu ammârah, tak meninggalkan hawa dan tak mematahkan egoisme; ia jatuh dari maqam syukur ke maqam kebanggaan (fahr).. dari kebanggaan ia jatuh ke kesombongan (gurur). Jika bersamaan dengan itu ada suatu ketertarikan yang datang dari cinta dan semacam mabuk yang datang dari ketertarikan itu, maka lahir darinya dakwa-dakwa yang jauh melampaui batas dengan nama "syathahat (ucapan ekstatik)". Ia merugikan diri sendiri, dan juga menjadi sebab kerugian orang lain. Misalnya: sebagaimana seorang letnan, jika bangga dengan cita rasa dan sukacita kepemimpinan yang ada padanya, ia menyangka dirinya seorang marsekal. Ia mengacaukan lingkup kecilnya dengan lingkup universal itu. Dan menjadi sebab kekacauan — dari satu sisi keserupaan — antara matahari yang tampak di sebuah cermin kecil dengan matahari yang manifestasinya tampak megah di permukaan laut; demikian pula: ada banyak ahli wilayah yang; seperti nisbah seekor lalat terhadap seekor merak, memandang dirinya lebih besar dari mereka yang sedemikian besar darinya, dan ia menyaksikannya demikian, memandang dirinya benar. Bahkan aku melihat seseorang yang: hanya kalbunya yang tersadar, dari kejauhan ia merasakan rahasia wilayah pada dirinya, ia menganggap dirinya qutub agung dan mengambil sikap itu. Kukatakan: "Saudaraku! Sebagaimana undang-undang kesultanan memiliki manifestasi parsial dan universal dalam satu bentuk, dari lingkup perdana menteri hingga lingkup kepala distrik; demikian pula wilayah dan kutubiyah pun memiliki lingkup dan manifestasi yang berbeda-beda. Setiap maqam memiliki banyak bayang dan naungan. Engkau melihat manifestasi terbesar kutubiyah bagai perdana menteri di lingkupmu sendiri yang berkedudukan bagai lingkup seorang kepala distrik, engkau tertipu. Yang kaulihat benar, tetapi hukummu keliru. Bagi seekor lalat, secangkir air adalah suatu laut kecil." Tokoh itu, insya Allah, tersadar dari jawabanku dan terselamatkan dari jurang itu.
Dan aku melihat beberapa orang yang mengetahui dirinya semacam Mahdi dan berkata "Aku akan menjadi Mahdi". Tokoh-tokoh ini bukan pendusta dan penipu, melainkan mereka tertipu. Mereka menyangka apa yang mereka lihat sebagai hakikat. Sebagaimana tajalli nama Ilahi memiliki manifestasi dari lingkup Arasy A'zham hingga sebutir zarah, dan pencapaian nama itu pun berbeda-beda menurut nisbah itu. Demikian pula tingkatan wilayah — yang tak lain adalah pencapaian nama-nama — pun berbeda-beda demikian. Sebab terpenting kekacauan ini adalah ini:
Sebagaimana di sebagian maqam dari maqam para wali terdapat kekhususan tugas Mahdi, dan tampak suatu nisbah khas dengan qutub agung, dan ada suatu hubungan khusus Hazrat Khidir, demikian pula ada sebagian maqam yang berkaitan dengan sebagian tokoh masyhur. Bahkan maqam-maqam itu disebut "Maqam Khidir", "Maqam Uwais", "Maqam Mahdiyah".
Maka berdasarkan rahasia ini, mereka yang masuk ke maqam itu, atau ke suatu contoh parsial atau suatu bayang dari maqam itu, menyangka dirinya tokoh masyhur yang berhubungan khusus dengan maqam itu. Ia menganggap dirinya Khidir, atau meyakini dirinya Mahdi, atau membayangkan dirinya qutub agung. Jika ia tak memiliki egoisme yang menghasratkan hubbul jâh, dalam keadaan itu ia tak dihukum. Dakwa-dakwanya yang melampaui batas terhitung syathahat. Dengan itu boleh jadi ia tak dituntut. Tetapi jika di balik tabir egoismenya tertuju pada hubbul jâh; tokoh itu kalah oleh egoisme, meninggalkan syukur dan masuk ke kebanggaan, lalu dari kebanggaan lambat laun jatuh ke kesombongan. Ia entah jatuh sampai derajat kegilaan, atau menyimpang dari jalan hak. Karena ia menganggap para wali besar seperti dirinya, prasangka baiknya terhadap mereka pun runtuh. Sebab nafsu, betapa pun sombongnya, ia mengetahui celanya sendiri. Ia mengiaskan para tokoh besar itu pada dirinya, lalu menyangka mereka bercela. Bahkan penghormatannya terhadap para nabi pun berkurang.
Maka mereka yang terjerat keadaan ini, seharusnya memegang timbangan syariat, menjadikan dustur para ulama Ushuluddin sebagai ukuran bagi dirinya, menjadikan ajaran para wali muhaqqiq seperti Imam Ghazâlî dan Imam Rabbânî sebagai pedoman. Dan senantiasa menuduh nafsunya. Dan tak memberi ke tangan nafsu selain cela, ketakberdayaan, dan kefakiran. Syathahat dalam masyrab ini lahir dari cinta-diri. Karena mata cinta tak melihat cela. Karena cinta pada nafsunya, ia menyangka nafsunya yang bercela dan tak layak bagai sekeping kaca sebagai suatu berlian, suatu intan. Kesalahan paling berbahaya dalam jenis ini adalah: mereka membayangkan makna parsial yang datang ke kalbunya dalam bentuk ilham sebagai "Kalâmullah" dan menyebutnya ayat. Dengan itu terjadi suatu ketakhormatan terhadap tingkat wahyu yang tertinggi dan tersuci. Ya, mulai dari ilham lebah dan hewan, hingga ilham orang awam dan khawas manusia, dan dari ilham malaikat awam hingga ilham malaikat kerubiyyin khusus, seluruh ilham adalah semacam kalimat Rabbaniyah. Tetapi menurut kemampuan tempat penampakan dan maqam, kalam Rabbani; adalah manifestasi khitab Rabbani yang berbeda-beda yang berkilau di tujuh puluh ribu tabir.
Adapun memberikan nama "ayat" — nama khas bagi bintang-bintang (najam) Al-Qur'an yang merupakan nama khas wahyu dan Kalâmullah serta contoh nyatanya yang paling terang — kepada ilham semacam itu, adalah kesalahan murni. Sebagaimana dijelaskan dan dibuktikan di Kelimat Kedua Belas, Kedua Puluh Lima, dan Ketiga Puluh Satu, sebagaimana nisbah matahari kecil, redup, dan bertabir yang tampak di cermin berwarna di tangan kita terhadap matahari di langit; demikian pula nisbah ilham di kalbu para pendakwa itu terhadap ayat-ayat matahari Al-Qur'an yang merupakan Kalam Ilahi secara langsung, adalah sedemikian itu. Ya, jika dikatakan bahwa contoh-contoh matahari yang tampak di setiap cermin adalah milik matahari dan berkaitan dengannya, itu benar; tetapi Bola Bumi tak dapat disangkutkan ke cermin matahari-matahari kecil itu dan tak terikat dengan gaya tariknya!