Risale-i NurAl-Maktubat

Telvih Kelima

Al-Maktubat · hlm. 523

Wahdatusy Syuhûd di bawah nama "Wahdatul Wujûd" — suatu masyrab tarekat yang amat penting — yakni memusatkan pandangan pada wujud Wâjib al-Wujûd, dan memandang seluruh maujud lain sedemikian lemah dan bayang dibandingkan wujud Wâjib itu sehingga ia menghukumi bahwa mereka tak layak menyandang nama wujud, lalu membungkusnya dengan tabir khayal, dan pada maqam meninggalkan selain-Nya (tark-i masiwa) menganggap mereka tiada, bahkan membayangkannya sebagai ketiadaan (ma'dûm), sejauh hanya memberi mereka kedudukan sebagai cermin khayali bagi manifestasi nama-nama Ilahi.

Maka masyrab ini memiliki suatu hakikat penting: wujud Wâjib al-Wujûd, dengan kekuatan iman dan tersingkapnya suatu wilayah tinggi pada derajat haqqul yaqin, membuat wujud makhluk mungkin (mumkinat) turun sedemikian rendah sehingga tak tersisa kedudukan baginya dalam pandangannya selain khayal dan ketiadaan; ia hampir mengingkari alam semesta atas nama Wâjib al-Wujûd.

Tetapi masyrab ini memiliki bahaya. Yang pertama adalah: rukun iman ada enam. Selain iman kepada Allah, ada rukun seperti iman kepada Hari Akhir. Adapun rukun-rukun ini menuntut adanya wujud makhluk mungkin. Rukun iman yang kokoh itu tak dibangun di atas khayal! Karena itu, pemilik masyrab itu, tatkala masuk dari alam istighrak (tenggelam) dan mabuk ke alam sadar (sahw), seharusnya tak membawa masyrab itu bersamanya dan tak beramal dengan tuntutan masyrab itu. Dan tak mengubah masyrab yang bersifat kalbu, hâlî, dan zauqi ini menjadi rupa yang bersifat akli, verbal, dan ilmiah. Karena dustur akal, kaidah ilmiah, dan usul kalam yang datang dari Kitab dan Sunnah tak dapat mengangkat masyrab itu; ia tak dapat diterapkan. Karena itu, masyrab itu tak tampak secara terang dari Khulafâ Rasyidin, para imam mujtahid, dan para tokoh besar salaf saleh. Artinya, ia bukan masyrab yang tertinggi. Melainkan tinggi, tetapi cacat. Amat penting, tetapi amat berbahaya. Amat berat, tetapi amat penuh cita rasa. Demi cita rasa itu, mereka yang masuk ke dalamnya tak ingin keluar darinya, dengan mementingkan diri mereka menyangkanya tingkat tertinggi. Karena kami telah menjelaskan asas dan mahiyah masyrab ini sampai derajat tertentu di Risalah Nuktah, di sebagian Kelimat-kelimat, dan di Al-Maktubat, dengan mencukupkan diri pada itu, di sini kami akan menjelaskan suatu jurang penting dari masyrab penting itu. Yakni:

Masyrab itu adalah masyrab saleh yang dicapai oleh khawasul khawas (yang paling khusus) dalam keadaan tenggelam mutlak, yang melewati lingkup sebab dan memutus kaitan dengan makhluk mungkin dengan rahasia meninggalkan selain-Nya. Menanamkan masyrab ini secara ilmiah kepada pandangan mereka yang tenggelam di dalam sebab, yang jatuh cinta pada dunia, dan yang terjerembab pada tabiat dengan filsafat materialis, adalah menenggelamkan mereka di dalam tabiat dan materi serta menjauhkan mereka dari hakikat Islam. Karena pandangan yang jatuh cinta pada dunia dan terikat pada lingkup sebab ingin memberi semacam kekekalan pada dunia fana ini. Ia tak ingin melepaskan kekasih dunianya dari tangannya; dengan dalih wahdatul wujud ia membayangkan suatu wujud kekal padanya, dan atas nama dunia yang menjadi kekasihnya serta karena menganggap kekekalan dan keabadian sepenuhnya milik dunia itu, ia mengangkatnya sampai derajat ketuhanan. — Na'ûdzu billâh — ia membuka jalan ke jurang mengingkari Allah. Pada abad ini pikiran materialisme telah demikian melanda sehingga mereka menganggap materi sebagai rujukan segala sesuatu. Pada abad semacam ini, karena ahli iman khusus memandang materi tak berarti sampai derajat meniadakannya; jika masyrab Wahdatul Wujûd dilontarkan, boleh jadi kaum materialis akan mengklaimnya, mereka akan berkata "Kami pun berkata demikian". Padahal di antara masyrab di dunia, masyrab yang paling jauh dari jalan kaum materialis dan pemuja tabiat adalah masyrab Wahdatul Wujûd. Karena ahli Wahdatul Wujûd memberi kepentingan pada wujud Ilahi dengan kekuatan iman sedemikian rupa sehingga mereka mengingkari alam semesta dan maujud. Adapun kaum materialis memberi kepentingan pada maujud sedemikian rupa sehingga; atas nama alam semesta, mereka mengingkari Allah. Maka di mana mereka ini? Di mana yang itu?