Risale-i NurAl-Maktubat

Jawaban

Al-Maktubat · hlm. 544

Sudah dimaklumi bahwa ada suatu masa, satu menit; memberi hasil dan menjadi penting seperti satu jam bahkan satu hari, bahkan bertahun-tahun; dan satu jam; seperti setahun, bahkan seumur hidup. Misalnya: seorang yang syahid dalam satu menit, meraih suatu wilayah; dan pada saat membeku karena dinginnya cuaca dan pada dahsyatnya serangan musuh, satu jam berjaga dapat berkedudukan sebagai ibadah setahun. Maka persis demikian pula: kepentingan yang diberikan kepada Risalah Nur pun — dari kepentingan zaman, dari dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan abad ini terhadap syariat Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم dan syiar Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم, dari sisi bahwa seluruh umat sejak zaman dahulu berlindung dari fitnah akhir zaman ini, dan dari titik menyelamatkan iman kaum mukmin dari serbuan fitnah itu — Risalah Nur telah memperoleh suatu kepentingan sedemikian sehingga: Al-Qur'an memandangnya dengan isyarat yang kuat, Imam Ali Radhiyallâhu Anhu memberinya kabar gembira dengan tiga karamah, dan Ghauts A'zham (qaddasallâhu sirrahu) mengabarkannya secara penuh karamah, membangkitkan semangat penerjemahnya.

Ya, menghadapi kedahsyatan abad ini, karena benteng sandaran keyakinan yang bersifat taklid telah tergoncang, menjauh, dan tertabiri; setiap mukmin membutuhkan suatu iman tahkiki yang amat kuat yang akan membuatnya mampu bertahan sendirian menghadapi serbuan kesesatan yang berjamaah, agar ia dapat bertahan. Risalah Nur melaksanakan tugas ini; pada masa yang paling dahsyat dan waktu genting yang paling diperlukan, dengan cara yang dapat dipahami semua orang; dengan membuktikan hakikat Qur'ani dan imani yang paling dalam dan tersembunyi dengan bukti-bukti yang amat kuat; dan para pelajarnya yang murni dan setia yang mengusung iman tahkiki itu pun — di kota, desa, dan kota tempat mereka berada, dari sisi khidmat imani — bagai qutub-qutub tersembunyi, sebagai titik sandaran maknawi bagi kaum mukmin, meskipun tak dikenal, tak terlihat, dan tak ditemui, dengan kekuatan maknawi keyakinan mereka bagai perwira yang berani; memberi kekuatan maknawi ke kalbu ahli iman, memberi daya tahan dan keberanian secara maknawi kepada kaum mukmin.

Jika oleh seorang penentang dikatakan: "Imam Ali Radhiyallâhu Anhu tak memaksudkan seluruh makna majazi ini." Kami pun berkata: andaikan Imam Ali Radhiyallâhu Anhu tak memaksudkannya, tetapi kalamnya menunjukkan dan dengan kekuatan qarinah, dengan penunjukan isyari dan tersirat, memasukkan makna-makna itu ke dalamnya. Dan selama makna majazi dan konsep isyari itu hak, benar, sesuai kenyataan, layak akan perhatian ini, dan qarinahnya kuat; tentu andaikan tak ada suatu perhatian menyeluruh Imam Ali Radhiyallâhu Anhu yang akan memaksudkan seluruh makna isyari semacam ini; dari sisi Celcelutiye merupakan wahyu, pemilik hakikinya — Nabi yang Mulia صلى الله عليه وسلم, ustaz Imam Ali Radhiyallâhu Anhu — perhatian menyeluruhnya dan ilmu meliputi Sang Ustaz Dzul-Jalâl dari ustaznya, memandang mereka, memasukkannya ke dalam lingkup kehendak.

Salah satu sebab keyakinanku yang pasti dan sampai derajat yaqin dalam hal ini adalah: karena aku sangat kesulitan dalam menulis Sinar Ketujuh yang merupakan tafsir terbesar Al-Âyat al-Kubrâ di tengah kesukaran besar, aku sungguh amat membutuhkan suatu hiburan dan dorongan yang suci. Sampai kini, dengan pengalaman berulang, dalam keadaan semacam ini, inayah Ilahi datang menolongku. Pada saat yang sama aku menyelesaikan risalah itu — padahal sama sekali tak terlintas di benakku — tiba-tiba munculnya karamah Alawiyah ini, tak menyisakan keraguan apa pun padaku bahwa; ini pun, seperti inayah Ilahi lain yang datang menolongku, adalah suatu inayah dari Rabb Yang Maha Pengasih. Adapun inayah tak menipu, tak mungkin tanpa hakikat.

Said Nursî