Risale-i NurAl-Maktubat

Benih-Benih Hakikat

Al-Maktubat · hlm. 545

[Ini adalah aforisme dari risalah bernama "Benih-Benih Hakikat" yang dicetak tiga puluh lima tahun lalu.]

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ وَ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ٓ اَجْمَع۪ينَ

1- Resep bagi suatu abad yang sakit, suatu unsur yang sakit, suatu anggota yang sakit; adalah ittiba' pada Al-Qur'an. 2- Resep bagi suatu benua yang agung namun malang, suatu negara yang mulia namun tak beruntung, suatu kaum yang berharga namun tanpa tuan; adalah persatuan Islam (ittihâd-ı İslâm).

3- Siapa yang tak memiliki suatu tangan kuat yang mampu mengangkat dan memutar Bumi serta seluruh bintang dan matahari bagai biji tasbih, tak dapat mendakwa penciptaan dan mengklaim pengadaan di alam semesta. Karena segala sesuatu terikat dengan segala sesuatu.

4- Menghidupkan seluruh makhluk berruh pada hari kebangkitan; tak dapat lebih berat bagi kudrat daripada menghidupkan dan menyusun kembali seekor lalat yang kaku di musim dingin dengan suatu tidur bagai kematian, di musim semi. Karena kudrat azali bersifat zati; ia tak berubah, ketakberdayaan tak dapat menyusup ke dalamnya, penghalang tak dapat masuk. Pada-Nya tak ada tingkatan, segala sesuatu sama dibandingkan dengan-Nya.

5- Yang menciptakan mata nyamuk, Ia pula yang menciptakan Matahari. 6- Yang menata lambung kutu, Ia pula yang menata Tata Surya (Manzhûmah Syamsiyah).

7- Dalam penyusunan alam semesta ada suatu kemukjizatan sedemikian sehingga; andaikan — sebagai pengandaian mustahil — seluruh sebab alami adalah pelaku berkehendak yang berdaya, mereka pun tetap akan bersujud menghadapi kemukjizatan itu dengan ketakberdayaan sempurna seraya berkata سُبْحَانَكَ لاَ قُدْرَةَ لَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَز۪يزُ الْحَك۪يمُ.

8- Kepada sebab tak diberikan pengaruh hakiki, keesaan dan keagungan menghendaki demikian. Tetapi dari sisi mulk (kerajaan lahiriah), sebab telah menjadi tabir bagi tangan kudrat, kemuliaan dan keagungan menghendaki demikian. Agar dalam pandangan lahiriah, tangan kudrat tak terlihat bersentuhan langsung dengan urusan-urusan hina di sisi mulk.

9- Sisi malakutiyah pada segala sesuatu yang merupakan tempat berkaitnya kudrat adalah bening dan suci. 10- Alam kesaksian adalah suatu tabir berenda di atas alam-alam gaib.

11- Untuk mengadakan sebuah titik tepat pada tempatnya, dibutuhkan suatu kudrat tak terhingga yang akan mengadakan seluruh alam semesta. Karena setiap huruf kitab besar alam semesta ini, terutama setiap huruf yang bernyawa, memiliki suatu wajah yang menghadap ke setiap kalimatnya, suatu mata yang memandang.

12- Masyhur bahwa: mereka memandang hilal hari raya. Tak seorang pun melihat sesuatu. Seorang tua bersumpah dan berkata "Aku melihat hilal." Padahal yang ia lihat bukan hilal, melainkan sehelai bulu matanya yang putih dan melengkung. Di mana bulu itu? Di mana bulan? Di mana gerak zarah? Di mana Pembentuk jenis-jenis makhluk?

13- Tabiat adalah suatu percetakan misali, bukan pencetak; ia ukiran, bukan pengukir; ia penerima, bukan pelaku; ia penggaris, bukan sumber; ia tatanan, bukan penata; ia undang-undang, bukan kudrat; ia syariat iradiyah (hukum kehendak), bukan hakikat luar. 14- Ketertarikan dan tarikan dalam hati nurani yang merupakan fitrah berkesadaran, adalah dengan tarikan suatu hakikat yang menarik.

15- Fitrah tak berdusta. Kecenderungan tumbuh dalam sebuah benih berkata: "Aku akan bertangkai, akan berbuah." Ia berkata benar. Pada telur ada suatu kecenderungan hidup. Ia berkata: "Aku akan menjadi anak ayam." Dengan izin Allah ia terjadi. Ia berkata benar. Segenggam air, dengan kecenderungan membeku berkata: "Aku akan menempati tempat lebih." Besi yang kokoh tak dapat mendustakannya; kebenaran ucapannya menghancurkan besi. Kecenderungan-kecenderungan ini adalah tajalli dan manifestasi perintah takwini (evâmir-i tekvîniye) yang datang dari kehendak (iradah).

16- Kudrat azali yang tak membiarkan semut tanpa pemimpin dan lebah tanpa ratunya; tentu tak membiarkan manusia tanpa nabi. Sebagaimana terbelahnya bulan (insyiqâqul qamar) adalah suatu mukjizat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم bagi manusia di alam kesaksian, demikian pula mikraj adalah suatu mukjizat terbesar Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم bagi malaikat dan makhluk ruhani di alam malakut; sehingga wilayah kenabiannya dibuktikan dengan karamah terang ini, dan tokoh yang cemerlang itu bercahaya bagai kilat dan bulan di alam malakut.

17- Dua kalimat syahadat saling bersaksi satu sama lain. Yang pertama adalah bukti limmî (dari sebab ke akibat) bagi yang kedua; yang kedua adalah bukti innî (dari akibat ke sebab) bagi yang pertama. 18- Kehidupan adalah semacam tajalli keesaan dalam kejamakan. Karena itu ia menggiring kepada persatuan. Kehidupan menjadikan satu hal memiliki segala hal.

19- Ruh adalah suatu undang-undang berwujud luar, suatu hukum berkesadaran. Seperti hukum-hukum fitri yang tetap dan kekal, ruh pun datang dari alam perintah (âlam amr), dari sifat kehendak, dan kudrat telah mengenakan padanya suatu wujud inderawi. Ia menjadikan suatu cairan halus sebagai cangkang bagi jauhar itu. Ruh yang maujud adalah saudara hukum yang masuk akal. Keduanya kekal, dan keduanya datang dari alam perintah. Andai kudrat azali mengenakan suatu wujud luar pada hukum-hukum dalam jenis-jenis makhluk, ia akan menjadi ruh. Jika ruh dikeluarkan wujudnya, diturunkan kesadaran dari kepalanya, ia pun akan tetap menjadi suatu hukum yang tak mati (lâ yamût).

20- Dengan cahaya, maujud terlihat; dengan kehidupan, keberadaan maujud diketahui. Masing-masing adalah suatu penyingkap (kasysyâf).

21- Nasrani (Kekristenan), entah padam atau tersaring, akan meletakkan senjata menghadapi Islam. Nasrani telah terkoyak beberapa kali, sampai ke Protestanisme. Protestanisme pun terkoyak, mendekat ke tauhid. Ia sedang bersiap terkoyak lagi. Entah ia padam dan menghilang, atau ia akan melihat hakikat Islam yang menghimpun asas Nasrani hakiki di hadapannya, lalu berserah. Maka Nabi صلى الله عليه وسلم telah mengisyaratkan rahasia agung ini: "Nabi Isa akan turun dan datang, akan menjadi bagian dari umatku, dan akan beramal dengan syariatku."

22- Massa awam digiring untuk mengamalkan (sesuatu) lebih oleh kesucian sumbernya daripada oleh bukti. 23- Sembilan puluh persen syariat — hal-hal yang pasti dan disepakati dalam agama — adalah tiang-tiang intan. Persoalan ijtihadi yang diperselisihkan hanya sepuluh persen. Sembilan puluh tiang intan tak diserahkan ke perlindungan sepuluh emas. Kitab-kitab dan ijtihad seharusnya menjadi teropong bagi Al-Qur'an, menjadi cermin; bukan menjadi bayang dan wakil!

24- Setiap orang yang berbakat; dapat berijtihad untuk dirinya sendiri, tetapi tak dapat menetapkan syariat (bagi orang lain). 25- Mengajak kepada suatu pikiran bergantung pada penerimaan mayoritas ulama. Jika tidak, ajakan itu bidah, ditolak.

26- Karena manusia secara fitrah dimuliakan, ia mencari kebenaran. Kadang yang batil datang ke tangannya; ia menyimpannya di dadanya seraya menyangkanya kebenaran. Saat menggali hakikat, tanpa sengaja kesesatan jatuh ke kepalanya; ia mengenakannya di kepalanya seraya menyangkanya hakikat.

27- Kudrat memiliki banyak cermin yang satu lebih bening dan halus dari yang lain; ia beragam dari air ke udara, dari udara ke eter, dari eter ke alam misal, dari alam misal ke alam ruh, bahkan ke waktu dan pikiran. Dalam cermin udara, satu kata menjadi jutaan kata. Pena kudrat menyalin rahasia perkembangbiakan ini secara amat menakjubkan. Pemantulan, entah hanya menangkap identitas, atau menangkap identitas beserta mahiyah. Bayangan yang kasar (kesif) adalah mayat yang bergerak. Bayangan suatu ruh bercahaya yang ada di cermin-cerminnya adalah makhluk hidup yang terhubung; meskipun bukan yang sama, ia pun bukan yang lain.

28- Jika Matahari berguncang dengan gerak porosnya, buah-buahnya tak jatuh; jika ia tak berguncang, planet-planet yang menjadi buahnya akan jatuh dan berserak. 29- Jika cahaya pikiran tak bercahaya dan berpadu dengan cahaya kalbu, ia adalah kegelapan, dan kezaliman memancar darinya. Sebagaimana putih siang yang gelap pada mata, jika tak berpadu dengan hitam biji mata yang bercahaya bagai malam (catatan kaki), maka mata tak dapat melihat; demikian pula jika pada pikiran yang putih tak ada titik hitam kalbu, ia tanpa bashirah (mata batin).

{(Catatan kaki): Maknanya: jika putih mata yang menyerupai siang tak bersama hitamnya yang menyerupai malam; maka mata bukanlah mata.}

30- Jika dalam ilmu tak ada keyakinan kalbu, ia adalah kebodohan. Berpegang (secara formal) itu satu hal, meyakini itu hal lain. 31- Menggambarkan hal-hal batil secara rinci adalah menyesatkan pikiran-pikiran yang jernih. 32- Seorang alim pembimbing seharusnya menjadi domba, bukan burung. Domba memberi anaknya susu; burung memberi anaknya muntahan.

33- Adanya sesuatu bergantung pada adanya seluruh bagiannya. Adapun ketiadaannya terjadi dengan ketiadaan satu bagiannya saja; karena itu orang lemah, untuk menunjukkan kemampuannya, menjadi pendukung perusakan, bergerak secara negatif sebagai ganti positif.

34- Dustur hikmah, jika tak berpadu dengan hukum-hukum pemerintahan; dan undang-undang kebenaran, jika tak berpadu dengan ikatan kekuatan, tak dapat berbuah pada massa awam. 35- Kezaliman telah mengenakan topi keadilan di kepalanya; pengkhianatan telah mengenakan pakaian semangat; jihad diberi nama pemberontakan (bagyu), perbudakan diberi nama kebebasan. Hal-hal yang berlawanan telah bertukar rupa.

36- Politik yang berputar di atas kepentingan adalah binatang buas. 37- Menunjukkan cinta kepada binatang buas yang lapar; bukan membuka belas kasihnya, melainkan seleranya. Ia pun meminta sewa gigi dan cakarnya.

38- Zaman telah menunjukkan bahwa: Surga tak murah, dan neraka pun tak tak-diperlukan. 39- Keistimewaan pada orang-orang yang dikenal khawas secara duniawi, yang semestinya menjadi sebab kerendahan hati dan kesahajaan; justru menjadi sebab penindasan dan kesombongan. Ketakberdayaan orang fakir dan kefakiran orang awam, yang semestinya menjadi sebab belas kasih dan ihsan; justru berujung pada perbudakan dan penghukuman mereka.

40- Setiap kali kebaikan dan kemuliaan dihasilkan pada sesuatu, mereka mempersembahkannya kepada khawas; jika ada keburukan, mereka membagikannya kepada orang awam.

41- Jika tak ada tujuan idaman, atau ia dilupakan atau sengaja dilupakan; pikiran-pikiran berpaling ke "aku"-nya masing-masing dan mengembara di sekelilingnya.

42- Tambang asal seluruh kekacauan dan kerusakan, serta penggerak dan sumber seluruh akhlak hina, hanyalah dua kalimat: Kelimat Pertama: "Asalkan aku kenyang, apa peduliku jika orang lain mati kelaparan!" Kelimat Kedua: "Bersusahlah demi istirahatku; kau bekerja, aku makan." Satu-satunya obat yang akan memutus akar Kelimat pertama adalah kewajiban zakat. Obat Kelimat kedua adalah haramnya riba. Keadilan Qur'ani berdiri di pintu alam dan berkata kepada riba "Terlarang, kau tak punya hak masuk." Manusia tak mendengar perintah ini, ia menerima tamparan besar. Sebelum menerima yang lebih dahsyat, hendaklah ia mendengar!..

43- Peperangan antarnegara dan antarbangsa; menyerahkan tempatnya kepada peperangan antarlapisan manusia. Karena manusia, sebagaimana tak ingin menjadi budak, juga tak ingin menjadi buruh upahan. 44- Yang mengejar suatu maksud dengan jalan tak sah, umumnya dihukum dengan kebalikan maksudnya. Ganjaran akibat cinta tak sah seperti cinta pada Eropa, adalah permusuhan bengis dari yang dicintai.

45- Seharusnya memandang masa lampau dan musibah dengan pandangan takdir, dan memandang masa depan serta maksiat dari titik taklif. Jabariyah dan I'tizal berdamai di sini. 46- Seharusnya tak berlindung pada ketakberdayaan dalam hal yang ada solusinya, dan tak berlindung pada keluh-kesah dalam hal yang tak ada solusinya.

47- Luka kehidupan terpulihkan. Luka kemuliaan Islam, kehormatan, dan kemuliaan kebangsaan amat dalam. 48- Ada suatu masa ketika; sebuah kata menenggelamkan sebuah pasukan, sebutir peluru menjadi sebab binasanya tiga puluh juta jiwa (catatan kaki). Ada di bawah suatu syarat ketika; suatu gerak kecil menaikkan manusia ke a'lâ 'illiyyîn (tempat tertinggi), dan ada suatu keadaan ketika; suatu perbuatan kecil menurunkan manusia ke asfala sâfilîn.

{(Catatan kaki): Sebutir peluru yang ditembakkan seorang prajurit Serbia kepada Putra Mahkota Austria; meletuskan Perang Umum (Perang Dunia I) yang lalu, menjadi sebab binasanya tiga puluh juta jiwa.}

49- Satu kejujuran membakar setumpuk kebohongan. Satu hakikat lebih diunggulkan daripada setumpuk khayalan. لاَ يَلْزَمُ مِنْ لُزُومِ صِدْقِ كُلِّ قَوْلٍ قَوْلُ كُلِّ صِدْقٍ Setiap ucapanmu harus benar; tetapi mengatakan setiap yang benar, tidaklah benar.

50- Yang memandang indah, berpikir indah. Yang berpikir indah, meraih kenikmatan dari hidupnya. 51- Yang menghidupkan manusia adalah harapan; yang mematikan adalah keputusasaan. 52- Musibah negara Islam ini — yang sejak dahulu memikul fardu kifayah jihad demi menegakkan kalimat Allah (i'lâ kalimatillâh) dan langgengnya kemerdekaan Islam, memandang dirinya bertugas mengorbankan diri bagi Alam Islam yang menyatu dan sebagai pembawa bendera khilafah — akan ditebus dengan kebahagiaan dan kebebasan Alam Islam di masa depan. Karena musibah ini secara luar biasa mempercepat tersingkapnya ukhuwah Islam yang menjadi ragi kehidupan kita.

53- Menisbatkan kebaikan peradaban yang bukan milik Kekristenan kepadanya, dan menunjukkan kemunduran yang merupakan musuh Islam sebagai sahabatnya, adalah dalil berputarnya nasib secara terbalik. 54- Sebuah intan tiada tara yang berkarat, senantiasa lebih diunggulkan daripada kaca yang mengkilap.

55- Akal orang-orang yang mencari segala sesuatu dalam materi ada di mata mereka, padahal mata buta dalam hal maknawi. 56- Jika majaz jatuh dari tangan ilmu ke tangan kebodohan, ia berubah menjadi (dianggap) hakikat; ia membuka pintu bagi khurafat.

57- Kebaikan yang melebihi kebaikan Ilahi, bukanlah kebaikan. Seharusnya menyifati segala sesuatu sebagaimana adanya. 58- Ketenaran menisbatkan kepada seseorang bahkan apa yang bukan miliknya. 59- Hadis adalah tambang kehidupan dan pengilham hakikat. 60- Menghidupkan agama adalah menghidupkan bangsa. Kehidupan agama adalah cahaya kehidupan.

61- Al-Qur'an yang menjadi rahmat bagi jenis manusia; hanya menerima suatu peradaban yang mengandung kebahagiaan umum, atau sekurang-kurangnya kebahagiaan mayoritas. Peradaban masa kini didirikan di atas lima asas negatif: 1- Titik sandarannya adalah kekuatan. Adapun sifat kekuatan adalah pelanggaran. 2- Sasaran maksudnya adalah kepentingan. Adapun sifat kepentingan adalah saling berebut. 3- Dusturnya dalam kehidupan adalah pertikaian. Adapun sifat pertikaian adalah saling bertentangan. 4- Ikatan antarmassanya adalah rasialisme dan nasionalisme negatif yang tumbuh dengan menelan yang lain. Adapun sifatnya adalah benturan yang dahsyat. 5- Khidmatnya yang memikat adalah mendorong hawa nafsu dan memuaskan keinginan. Adapun hawa nafsu itu adalah sebab kerusakan maknawi manusia.

Adapun peradaban yang dikandung dan diperintahkan syariat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم: titik sandarannya, sebagai ganti kekuatan, adalah kebenaran (hak) yang sifatnya keadilan dan keseimbangan. Sasarannya, sebagai ganti kepentingan, adalah keutamaan (fadhilah) yang sifatnya cinta dan saling tarik. Sisi kesatuannya, sebagai ganti rasialisme dan kebangsaan, adalah ikatan agama, tanah air, dan golongan yang sifatnya ukhuwah tulus, perdamaian, dan — menghadapi pelanggaran dari luar — hanya pembelaan diri. Dalam kehidupan, sebagai ganti dustur pertikaian adalah dustur tolong-menolong yang sifatnya persatuan dan solidaritas. Sebagai ganti hawa nafsu adalah petunjuk (huda) yang sifatnya kemajuan secara kemanusiaan dan penyempurnaan secara ruhani. Jangan longgarkan tanganmu dari Islam yang menjadi pelindung keberadaan kita, berpeganglah dengan empat tangan; jika tidak, kau binasa.

62- Musibah umum berakibat dari kesalahan mayoritas. Musibah; adalah akibat kejahatan, pengantar bagi ganjaran. 63- Syahid mengetahui dirinya hidup. Karena tak merasakan sakaratul maut, ia memandang hidup yang ia korbankan sebagai tak terputus dan kekal. Hanya ia menemukannya lebih suci.

64- Keadilan murni Qur'ani; tak menyia-nyiakan kehidupan dan darah seorang yang tak berdosa, sekalipun demi seluruh manusia. Sebagaimana keduanya sama dalam pandangan kudrat, keduanya pun sama dalam pandangan keadilan. Dengan mementingkan diri, seseorang menjadi sedemikian sehingga; ia ingin merusak segala hal yang menghalangi ambisinya, bahkan jika mampu, merusak dunia dan membinasakan jenis manusia.

65- Ketakutan dan kelemahan membangkitkan pengaruh-pengaruh luar. 66- Maslahat yang pasti tak dikorbankan demi mudarat yang khayali. 67- Untuk saat ini, politik Istanbul adalah suatu penyakit seperti penyakit Spanyol (flu Spanyol). 68- Tak jarang seorang gila membaik jika dikatakan kepadanya "kau baik, kau baik", dan seorang baik memburuk jika dikatakan kepadanya "kau buruk, kau buruk".

69- Musuh dari musuh, selama ia tetap musuh (bagi musuh kita), adalah sahabat; sahabat dari musuh, selama ia tetap sahabat (bagi musuh kita), adalah musuh. 70- Pekerjaan kekeraskepalaan: jika setan menolong seseorang (yang sepihak dengannya); ia berkata "Ia malaikat", membacakan rahmat; jika ia melihat malaikat pada pihak lawannya, ia berkata "Ia setan yang mengganti pakaiannya", lalu melaknat.

71- Obat suatu penyakit bisa jadi racun bagi penyakit lain. Suatu obat, jika melampaui batasnya, mendatangkan penyakit. 72- اَلْجَمْعِيَّةُ الَّت۪ى ف۪يهَا التَّسَانُدُ اٰلَةٌ خُلِقَتْ لِتَحْر۪يكِ السَّكَنَاتِ وَالْجَمَاعَةُ الَّت۪ى ف۪يهَا التَّحَاسُدُ اٰلَةٌ خُلِقَتْ لِتَسْك۪ينِ الْحَرَكَاتِ

73- Jika dalam jamaah tak ada satuan yang sahih; penjumlahan dan penambahan justru memperkecil, seperti perkalian pecahan.

{(Catatan kaki): Dalam hitungan sudah dimaklumi bahwa; perkalian dan penjumlahan memperbesar. Empat kali empat menjadi enam belas. Tetapi pada pecahan, perkalian dan penjumlahan justru memperkecil. Mengalikan sepertiga dengan sepertiga menjadi sepersembilan; yakni menjadi satu per sembilan. Persis seperti itu, jika pada manusia tak ada persatuan dengan kesehatan dan kelurusan; dengan bertambah justru mengecil, menjadi rusak, menjadi tak bernilai.}

74- Tidak-menerima (adem-i kabul) dikacaukan dengan menerima-ketiadaan (kabul-ü adem). Tidak-menerima; dalilnya adalah ketiadaan dalil penetapan. Menerima-ketiadaan menuntut dalil ketiadaan. Yang satu adalah keraguan (syak), yang lain adalah pengingkaran (inkar).

75- Dalam persoalan imani, keraguan sekalipun menggugurkan satu dalil, bahkan seratus dalil; tak dapat merugikan yang ditunjuk (kesimpulan). Karena ada ribuan dalil. 76- Seharusnya mengikuti mayoritas terbesar (sawâdul a'zham). Ketika bersandar pada mayoritas dan mayoritas terbesar, Umayyah yang acuh akhirnya masuk ke jamaah Ahlus Sunnah. Alawiyah yang teguh namun tinggal minoritas dalam jumlah, akhirnya sebagian kecilnya bersandar pada Rafidhah.

77- Karena ada kesepakatan dalam hak dan perbedaan dalam yang lebih hak (ehak); kadang yang hak lebih hak daripada yang (disebut) lebih hak; yang baik (hasan) lebih baik daripada yang (disebut) lebih baik. Setiap orang seharusnya berkata tentang jalannya sendiri "Ia hak (huwa haqq)", bukan "Ia satu-satunya yang hak (huwal haqq)". Atau berkata "Ia baik (huwa hasan)", bukan "Ia satu-satunya yang baik (huwal hasan)".

78- Jika tak ada Surga, neraka tak menyiksa. 79- Semakin zaman menua, Al-Qur'an semakin muda; simbol-simbolnya semakin jelas. Sebagaimana cahaya tampak seperti api; kadang kekuatan balâghah pun tampak seperti hiperbola (mubalaghah).

80- Tingkatan pada panas terjadi dengan menyusupnya dingin; derajat pada keindahan terjadi dengan masuknya keburukan. Kudrat azali bersifat zati, niscaya, dan pasti; ketakberdayaan tak dapat menyusup, tak ada tingkatan, segala sesuatu sama dibandingkan dengannya.

81- Bayangan Matahari yang merupakan limpahan tajallinya, menunjukkan identitas yang sama di permukaan laut dan di setetes air laut. 82- Kehidupan berasal dari manifestasi tauhid, dan puncaknya pun meraih keesaan.

83- Selama wali di antara manusia, menit terkabulnya doa pada Jumat, Lailatul Qadar dalam Ramadan, Ismul A'zham dalam asma'ul husna, dan ajal dalam umur tetap tak diketahui; maka individu-individu lain pun tetap berharga, diberi kepentingan. Umur dua puluh tahun yang samar lebih diunggulkan daripada umur seribu tahun yang akhirnya tertentu. 84- Akibat maksiat di dunia adalah dalil bagi siksa ukhrawi.

85- Rezeki, sepenting kehidupan dalam pandangan kudrat. Kudrat mengeluarkan, takdir mengenakan, inayah memberi makan. Kehidupan; adalah hasil yang tertata, terlihat. Rezeki; tak tertata, tersebar secara berangsur, membuat orang berpikir. Tak ada kematian karena kelaparan. Karena sebelum habis gizi yang tersimpan dalam tubuh dalam bentuk lemak dan sebagainya, ia sudah mati. Artinya, penyakit yang lahir dari meninggalkan kebiasaan-lah yang mematikan; bukan ketiadaan rezeki.

86- Rezeki halal binatang buas pemakan daging adalah jenazah hewan yang tak terhingga; mereka membersihkan muka bumi sekaligus menemukan rezeki mereka. 87- Sesuap seharga empat puluh para, sesuap lain seharga sepuluh kuruş. Sebelum masuk ke mulut dan setelah melewati tenggorokan, keduanya sama. Hanya ada perbedaan beberapa detik di mulut. Bersegera membelanjakan banyak demi menyenangkan dan memuaskan indra perasa yang menjadi inspektur dan penjaga pintu, adalah pemborosan yang paling bejat.

88- Setiap kali kelezatan memanggil, hendaklah berkata "seakan aku telah memakannya". Orang yang menjadikan "seakan aku telah makan" sebagai dustur; sebenarnya dapat memakan (harta untuk) sebuah masjid bernama "Seakan Aku Telah Makan (Sanki Yedim)", tetapi ia tak memakannya. 89- Dahulu kebanyakan Muslim tak lapar, ada pilihan untuk hidup mewah. Kini ia lapar, tak ada pilihan untuk bermewah-mewah.

90- Seharusnya tersenyum kepada derita sementara lebih daripada kepada kelezatan sementara; hendaklah berkata "selamat datang". Kelezatan yang telah lewat membuat orang berkata "ah, aduh". "Ah!" adalah penerjemah suatu derita yang tersembunyi. Derita yang telah lewat membuat orang berkata "Oh!". "Oh" itu adalah pengabar suatu kelezatan dan nikmat yang terpendam.

91- Lupa pun adalah suatu nikmat. Ia hanya membuat orang menanggung derita setiap hari, dan membuat lupa derita yang menumpuk. 92- Seperti derajat panas, pada setiap musibah ada suatu derajat nikmat. Seharusnya memikirkan yang lebih besar, melihat derajat nikmat pada yang kecil, dan bersyukur kepada Allah. Jika tidak, jika ia ditiup dengan membesar-besarkan, ia membengkak; jika dicemaskan, ia berlipat; bayangan dan khayalnya di kalbu berubah menjadi hakikat.. dan itu pun memukul kalbu.

93- Bagi setiap orang, ada suatu jendela yang disebut martabat untuk melihat dan terlihat dalam masyarakat. Jika jendela itu lebih tinggi daripada tinggi nilainya, ia akan menjulur dengan kesombongan; jika lebih rendah daripada tinggi nilainya, ia akan membungkuk dan merunduk dengan kerendahan hati.. agar ia melihat dan terlihat pada tingkat itu. Ukuran kebesaran pada manusia adalah kekecilan, yakni kerendahan hati. Timbangan kekecilan adalah kebesaran, yakni kesombongan.

94- Harga diri orang lemah menghadapi orang kuat, pada orang kuat menjadi kesombongan; kerendahan hati orang kuat menghadapi orang lemah, pada orang lemah menjadi kehinaan diri. Kesungguhan seorang ulil amri di maqam jabatannya adalah kewibawaan; kesahajaannya adalah kehinaan.. kesungguhannya di rumahnya adalah kesombongan; kesahajaannya adalah kerendahan hati. Jika seorang individu berbicara atas nama dirinya sendiri (mutakallim wahdah), toleransi dan pengorbanannya adalah amal saleh; jika ia berbicara atas nama orang lain (mutakallim ma'al ghair), itu adalah pengkhianatan, amal buruk. Seseorang, atas nama dirinya sendiri, menahan diri, tak boleh membanggakan diri; atas nama bangsa, ia membanggakan (bangsanya), tak boleh mengalah.

95- "Menyerahkan (tafwîdh)" dalam menyusun sebab-sebab adalah kemalasan; dalam (menanti) hasil adalah tawakal. Rida pada buah usahanya dan bagiannya; adalah kanaah, ia menguatkan kecenderungan berusaha. Mencukupkan diri dengan yang ada adalah rendah himmah.

96- Sebagaimana ada ketaatan dan pemberontakan terhadap perintah syar'i, ada pula ketaatan dan pemberontakan terhadap perintah takwini. Pada yang pertama, kebanyakan ganjaran dan hukuman ada di akhirat; pada yang kedua, umumnya di dunia. Misalnya: ganjaran kesabaran adalah kemenangan, hukuman kemalasan adalah kesengsaraan, pahala usaha adalah kekayaan, ganjaran keteguhan adalah kemenangan. Keadilan tanpa persamaan bukanlah keadilan.

97- Keserupaan adalah sebab pertentangan, keselarasan adalah asas solidaritas, kekerdilan jiwa adalah sumber kesombongan, kelemahan adalah tambang kesombongan (gurur), ketakberdayaan adalah sumber perlawanan, rasa ingin tahu adalah guru ilmu.

98- Kudrat Sang Pencipta, dengan kebutuhan, terutama kebutuhan lapar; telah mengekang seluruh hewan mulai dari manusia, dan memasukkannya ke dalam tatanan. Ia pun menyelamatkan alam dari kekacauan, dan dengan menjadikan kebutuhan sebagai guru bagi peradaban, menjamin kemajuan.

99- Kesempitan (batin) adalah guru kebejatan. Keputusasaan adalah sumber kesesatan pikiran; kegelapan kalbu adalah sumber kesempitan ruh. 100- اِذَا تَاَنَّثَ الرِّجَالُ بِالتَّهَوُّسِ ❊ تَرَجَّلَ النِّسَٓاءُ بِالتَّوَقُّحِ Setiap kali seorang perempuan cantik masuk ke suatu majelis persaudaraan; urat riya, persaingan, dan kedengkian terbangun. Artinya, dari tersingkapnya kaum perempuan (tanpa tabir), akhlak buruk tersingkap pada manusia berperadaban (materialis).

101- Dalam ruh manusia sekarang yang cemberut dan berlumur keburukan, peran gambar — yang merupakan jenazah-jenazah kecil yang tersenyum — amatlah penting. 102- Patung yang terlarang; entah suatu kezaliman yang membatu, atau suatu hawa nafsu yang berwujud, atau suatu riya yang menjelma.

103- Pada tokoh yang telah masuk secara benar ke lingkup dalam Islam dari sisi mengamalkan sepenuhnya hal-hal yang disepakati dalam Islam; kecenderungan memperluas adalah kecenderungan menyempurnakan. Pada tokoh yang terhitung di luar karena sikap acuh, kecenderungan memperluas adalah kecenderungan merusak. Pada masa badai dan gempa; bukan membuka pintu ijtihad, melainkan menutup jendela-jendelanya pun adalah maslahat. Orang-orang yang lalai tak dibelai dengan rukhsah (keringanan); mereka diingatkan dengan azimah (ketegasan) dan kekerasan.

104- Hakikat-hakikat yang malang menjadi tak bernilai di tangan yang tak bernilai. 105- Bola bumi kita menyerupai hewan, menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Gerangan, jika ia mengecil sampai sebesar telur, bukankah ia akan menjadi semacam hewan? Atau jika sebuah mikroba membesar sampai sebesar bumi kita, bukankah ia akan menyerupainya? Jika ia memiliki kehidupan, ia pun memiliki ruh. Jika alam mengecil sampai sebesar manusia, dan bintang-bintangnya berkedudukan sebagai zarah dan jauhar-jauhar tunggal; bukankah ia pun akan menjadi suatu hewan berkesadaran? Allah memiliki banyak hewan semacam itu.

106- Syariat ada dua: Pertama: syariat yang kita kenal, yang menata perbuatan dan keadaan manusia yang merupakan alam kecil (âlam ashghar), dan datang dari sifat kalam. Kedua: syariat fitri terbesar yang menata gerak dan diamnya alam yang merupakan manusia besar (insan akbar), datang dari sifat kehendak (iradah); yang kadang secara keliru disebut tabiat. Malaikat adalah suatu umat yang mahabesar yang menjadi pengemban, wakil, dan penjelma perintah takwini yang datang dari sifat kehendak dan disebut syariat fitri.

107- اِذَا وَازَنْتَ بَيْنَ حَوَاسِّ حُوَيْنَةٍ خُرْدَب۪ينِيَّةٍ وَحَوَاسِّ اْلاِنْسَانِ تَرٰى سِرًّا عَج۪يبًا اِنَّ اْلاِنْسَانَ كَصُورَةِ يٰسٓ كُتِبَ ف۪يهَا سُورَةُ يٰسٓ 108- Materialisme adalah wabah maknawi yang menjangkitkan demam dahsyat ini pada manusia, menimpakannya pada murka Ilahi. Semakin meluas kemampuan menanamkan (doktrin) dan mengkritik, wabah itu pun semakin meluas.

109- Yang paling celaka, paling menderita, paling sempit (batin); adalah orang yang menganggur. Karena kemalasan adalah keponakan ketiadaan; usaha adalah kehidupan wujud dan kesadaran kehidupan.

110- Manfaat bank yang merupakan wadah dan pintu riba; adalah bagi orang-orang kafir yang merupakan keburukan manusia, bagi yang paling zalim di antara mereka, dan bagi yang paling bejat di antara mereka. Ia adalah kerugian mutlak bagi Alam Islam; kesejahteraan manusia secara mutlak tak dipandang. Karena jika orang kafir itu harbi dan penyerang, ia tak terhormat dan tak terlindungi.

111- Khutbah pada Jumat; adalah mengingatkan hal-hal yang pasti dan disepakati, bukan mengajarkan hal-hal teoretis. Ungkapan Arab mengingatkan secara lebih luhur. Jika hadis dan ayat ditimbang, tampak bahwa; manusia yang paling fasih sekalipun tak dapat menyusul balâghah ayat, tak menyerupainya.

Said Nursî

[Ini adalah suatu syair yang ditulis oleh seorang alim penting yang berada di Madinah al-Munawwarah tentang Risalah Nur.]