Kalimah Kelima
Al-Maktubat · hlm. 276
لَهُ الْحَمْدُ Yakni: Kesempurnaan yang menjadi sebab pujian pada segenap wujud adalah milik-Nya. Kalau begitu, pujian pun menjadi hak-Nya. Dari azali hingga abadi, pujian yang datang dan akan datang dari siapa pun kepada siapa pun adalah hak-Nya. Sebab nikmat, karunia, kesempurnaan, dan keindahan yang menjadi sebab pujian, serta segala sesuatu yang menjadi poros pujian, adalah milik-Nya, menjadi hak-Nya. Ya, dengan isyarat ayat-ayat Al-Qur'an, dari segenap wujud senantiasa mengalir sebuah ubudiyah, tasbih, sujud, doa, dan pujian ke hadirat Ilahi. Kami mengisyaratkan sebuah bukti terbesar yang membuktikan hakikat tauhid ini demikian:
Tatkala kita memandang alam raya ini, ia tampak dalam bentuk taman; atapnya disepuh dengan bintang-bintang tinggi, dan lantainya dimeriahkan dengan wujud-wujud berhias. Nah, benda-benda langit yang teratur lagi bercahaya dan wujud-wujud bumi yang penuh hikmah lagi berhias di taman ini, seluruhnya dengan lisan khasnya berkata: Kami adalah mukjizat kudrat Sang Qadîr Dzul-Jalâl. Kami bersaksi atas keesaan Sang Khâliq Yang Mahabijaksana dan Sang Pembuat Yang Mahakuasa.
Dan kita memandang bumi di dalam taman alam ini, kita melihat bahwa: golongan tumbuhan berbunga nan berhias, ratusan ribu warna, terhampar di atasnya, dan ratusan ribu jenis hewan yang beragam tersebar di atasnya.
Nah, di kebun bumi ini seluruh tumbuhan berhias dan hewan berhias itu, dengan rupanya yang teratur dan bentuknya yang seimbang, mengumumkan bahwa: Kami adalah mukjizat dan keajaiban dari seni satu Sang Pembuat Yang Mahabijaksana, dan penyeru serta saksi keesaan.
Dan kita memandang pucuk pohon-pohon di kebun itu, kita melihat: buah dan bunga dalam beragam rupa yang dibuat secara teramat berilmu, penuh hikmah, mulia, lembut, lagi indah. Nah, semuanya dengan satu lisan mengumumkan bahwa: Kami adalah hadiah yang menampakkan mukjizat dan karunia yang menakjubkan dari Sang Rahmân Dzul-Jamâl dan Sang Rahîm Dzul-Kamâl.
Nah, benda dan wujud di taman alam raya, tumbuhan dan hewan di kebun bumi, serta pohon dan bunga serta buah di pucuknya; bersaksi dan mengumumkan dengan suara yang teramat tinggi, katanya: Khâliq, Pelukis, dan Pemberi hadiah kami — Sang Qadîr Dzul-Jamâl, Sang Hakîm tanpa bandingan, Sang Kerim yang berlimpah — Mahakuasa atas segala sesuatu. Tak ada sesuatu pun yang berat bagi-Nya. Tak ada sesuatu pun yang keluar dari lingkaran kudrat-Nya. Dibanding kudrat-Nya, zarah dan bintang sama. Yang menyeluruh semudah yang parsial. Yang parsial seberharga yang menyeluruh. Yang terbesar seringan yang terkecil bagi kudrat-Nya. Yang kecil seberseni yang besar.. bahkan dari sisi seni, sebagian yang kecil lebih besar daripada yang besar. Seluruh peristiwa masa silam yang merupakan keajaiban kudrat-Nya bersaksi bahwa; Sang Qadîr Mutlak itu mampu atas seluruh keajaiban kemungkinan di masa depan. Sebagaimana yang mendatangkan kemarin mendatangkan esok; Zat Yang Qadîr yang mengadakan masa silam, mengadakan pula masa depan. Sang Pembuat Yang Mahabijaksana yang membuat dunia, membuat pula akhirat. Ya, sebagaimana Ma'bûd dengan haq hanyalah Sang Qadîr Dzul-Jalâl itu, demikian pula Yang Terpuji secara mutlak hanyalah Dia. Sebagaimana ibadah khusus bagi-Nya, demikian pula pujian khusus bagi-Nya. Mungkinkah Sang Pembuat Yang Mahabijaksana yang menciptakan langit dan bumi membiarkan manusia — hasil terpenting langit dan bumi serta buah alam raya yang paling sempurna — terlantar, menyerahkannya kepada sebab dan kebetulan, mengubah hikmah-Nya yang terang menjadi kesia-siaan? Mahasuci Allah!.. Mungkinkah Zat Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui, yang mengatur dan melukis sebatang pohon dengan teramat saksama serta mengurus dan memeliharanya dengan teramat penuh hikmah, tidak memandang dan tidak mempedulikan buah — yang menjadi tujuan dan faedah pohon itu; membiarkannya tercerai-berai ke tangan pencuri dan tempat kosong, lalu sia-sia? Sudah pasti tak mungkin Ia tidak memandang dan tidak mempedulikan. Sebab mempedulikan pohon adalah demi buahnya.
Nah, yang berkesadaran, buah paling sempurna, hasil, dan tujuan alam raya ini adalah manusia. Mungkinkah Sang Pembuat Yang Mahabijaksana atas alam raya ini memberikan pujian dan ibadah, syukur dan kecintaan — yang merupakan buah dari buah-buah berkesadaran itu — kepada yang lain, lalu menjatuhkan hikmah-Nya yang terang menjadi hampa, atau mengubah kudrat mutlak-Nya menjadi kelemahan, atau memutar ilmu-Nya yang meliputi menjadi kejahilan? Seratus ribu kali Mahasuci Allah!
Mungkinkah syukur dan ibadah yang ditampakkan oleh makhluk berkesadaran — poros maksud-maksud rabbâni dalam pembangunan istana alam raya ini — dan oleh jenis manusia yang menjadi yang termulia di antara mereka, sebagai imbalan atas nikmat yang mereka terima, pergi kepada selain Sang Pembuat istana alam raya itu? Dan mungkinkah Sang Pembuat Dzul-Jalâl itu mengizinkan syukur serta ibadah yang menjadi tujuan tertinggi itu pergi kepada selain-Nya?
Dan mungkinkah Ia mencintakan diri-Nya kepada makhluk berkesadaran dengan beragam nikmat tak terhingga; dan mengenalkan diri-Nya kepada mereka dengan mukjizat seni tak terhingga; lalu meninggalkan syukur dan ibadah, pujian dan kecintaan, makrifat dan rasa terima kasih mereka kepada sebab dan tabiat, tanpa mempedulikannya; membuat hikmah mutlak-Nya diingkari; menjatuhkan kerajaan rububiyah-Nya menjadi hampa! Seratus ribu kali mahasuci Allah!..
Mungkinkah pihak yang tak dapat menciptakan satu musim semi, tak dapat mengadakan seluruh buah, dan tak dapat membangun seluruh apel di muka bumi yang capnya satu; menciptakan sebuah apel yang menjadi miniatur semuanya, lalu memberikannya sebagai nikmat kepada seseorang, memperoleh syukurnya, dan turut serta dengan Yang Terpuji secara mutlak dalam hal pujian? Mahasuci Allah!.. Sebab siapa yang menciptakan sebuah apel, dialah yang dapat mengadakan seluruh apel yang datang ke dunia. Sebab capnya satu. Dan siapa yang mengadakan apel, dialah yang menciptakan biji-bijian dan buah yang menjadi sumber rezeki di seluruh dunia. Berarti, yang memberikan nikmat paling kecil kepada makhluk hidup paling kecil adalah langsung Khâliq alam raya dan Sang Razzâq Dzul-Jalâl. Kalau begitu, syukur dan pujian langsung menjadi hak-Nya. Kalau begitu, hakikat alam raya senantiasa berkata dengan lisan haq: لَهُ الْحَمْدُ مِنْ كُلِّ اَحَدٍ مِنَ اْلاَزَلِ اِلَى اْلاَبَدِ