Kata Pertama
Al-Maktubat · hlm. 268
Pada لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ terdapat suatu tauhid uluhiyah dan ma'budiyah. Kepada suatu bukti yang teramat kuat atas martabat ini, kami mengisyaratkan demikian: Pada wajah alam semesta ini, khususnya pada lembaran bumi, tampak suatu kegiatan yang teramat teratur. Dan kami menyaksikan suatu hallâqiyah (daya cipta) yang teramat penuh hikmah. Dan kami menyaksikan dengan 'ainal-yaqîn suatu fattâhiyah yang teramat teratur — yakni membukakan suatu bentuk dan menganugerahkan suatu rupa yang layak bagi segala sesuatu. Kami pun menyaksikan suatu wahhâbiyah dan curahan kebajikan yang teramat penuh kasih, kemurahan, dan rahmat. Kalau begitu, niscaya keadaan dan kondisi ini membuktikan — bahkan membuat terasa — kemestian wujud dan keesaan suatu Zat Dzul-Jalâl Yang Maha Berbuat, Maha Pencipta, Maha Pembuka, lagi Maha Pemberi. Ya, lenyapnya makhluk-makhluk secara terus-menerus dan pembaruannya menunjukkan bahwa makhluk-makhluk itu adalah kilau-kilau asma suci Sang Pembuat Yang Mahakuasa, bayangan-bayangan cahaya asma-Nya, jejak-jejak perbuatan-Nya, ukiran-ukiran serta lembaran-lembaran pena takdir dan kudrat, dan cermin-cermin keindahan kesempurnaan-Nya.
Kepada hakikat teragung ini dan kepada martabat tauhid yang tertinggi ini — sebagaimana Pemilik alam semesta ini menunjukkan tauhid itu dengan seluruh kitab suci dan lembaran suci (suhuf) yang Dia turunkan — demikian pula seluruh ahli hakikat dan insan-insan kamil dari bani manusia, dengan penyelidikan dan penyingkapan mereka, menunjukkan martabat tauhid yang sama. Dan alam semesta pun, beserta kelemahan dan kefakirannya, dengan kesaksian mukjizat-mukjizat seni yang abadi, keajaiban kuasa, serta perbendaharaan kekayaan yang menjadi tempat penampakannya, mengisyaratkan kepada martabat tauhid yang sama. Berarti Sang Saksi Azali dengan seluruh kitab dan suhuf-Nya, ahli penyaksian dengan seluruh penyelidikan dan penyingkapan mereka, dan alam syahadah dengan seluruh keadaannya yang teratur serta urusan-urusannya yang penuh hikmah, bersepakat secara ijmak pada martabat tauhid itu.
Nah, siapa yang tidak menerima Sang Wâhid Ahad itu, ia harus menerima tuhan-tuhan yang tak berhingga, atau — seperti kaum Sufasthâ'i yang dungu — mengingkari wujud dirinya sendiri sekaligus wujud alam semesta.