Risale-i NurAl-Maktubat

Kedua

Al-Maktubat · hlm. 28

Keberhasilan, kesungguhan, dan semangatmu dalam menyebarkan cahaya-cahaya al-Qur'an adalah suatu karunia Ilahi, bahkan suatu karâmah Qur'aniyah, suatu inâyah Rabbâniyah. Aku mengucapkan selamat kepadamu. Sehubungan dengan disinggungnya perihal karâmah, ikrâm, dan inâyah, akan aku sampaikan satu perbedaan antara karâmah dan ikrâm. Yaitu demikian:

Menampakkan karâmah, tanpa adanya keperluan yang mendesak, adalah suatu bahaya. Adapun menampakkan ikrâm adalah suatu tahdîts bin-ni'mah (mengungkap nikmat sebagai wujud syukur). Jika seseorang yang dimuliakan dengan karâmah, dengan sepengetahuannya menjadi tempat berlakunya suatu perkara luar biasa, maka dalam keadaan itu — apabila nafsu ammârah-nya masih tersisa — hal itu dapat menjelma istidrâj dari sisi mengandalkan diri sendiri, bersandar kepada nafsu dan kasyaf-nya, serta terjatuh ke dalam keangkuhan. Adapun jika ia menjadi tempat berlakunya suatu perkara luar biasa tanpa ia sadari — misalnya, di dalam kalbu seseorang terdapat suatu pertanyaan, lalu dari jenis intâq bil-haq (dibuat berbicara dengan kebenaran) ia memberikan jawaban yang tepat baginya; kemudian barulah ia menyadarinya. Setelah menyadarinya, bertambahlah sandarannya bukan kepada nafsunya, melainkan kepada Rabb-nya, dan ia berkata: "Aku memiliki Hâfizh yang mendidikku lebih daripada diriku sendiri," lalu bertambah pula tawakalnya. Bagian ini adalah karâmah yang tak berbahaya; ia tidak dibebani untuk menyembunyikannya, tetapi ia tidak boleh berupaya menampakkannya dengan sengaja demi kebanggaan. Karena di dalamnya, secara lahiriah, terdapat andil usaha (kasb) manusia, sehingga ia dapat menisbatkannya kepada nafsunya. Adapun ikrâm; ia lebih selamat daripada jenis kedua dari karâmah yang selamat itu, dan menurutku lebih tinggi. Menampakkannya adalah tahdîts bin-ni'mah. Tiada andil usaha di dalamnya, dan nafsu tidak menyandarkannya kepada dirinya sendiri.

Maka wahai saudaraku; ihsan-ihsan Ilahi yang sejak dahulu aku saksikan dan aku tuliskan — baik mengenai dirimu, mengenai diriku, terlebih dalam khidmat kita terhadap al-Qur'an — adalah suatu ikrâm; menampakkannya adalah tahdîts bin-ni'mah. Itulah sebabnya, dari jenis tahdîts bin-ni'mah, kepadamu aku tuliskan keberhasilan-keberhasilan yang berkaitan dengan khidmat kita berdua. Aku tahu bahwa hal itu membangkitkan pada dirimu bukan urat kebanggaan, melainkan urat syukur.