Risale-i NurAl-Maktubat

Ketiga

Al-Maktubat · hlm. 29

Aku melihat bahwa: Yang paling berbahagia dalam kehidupan dunia ini adalah orang yang memandang dunia sebagai sebuah pesanggrahan militer, meyakininya demikian, dan bertindak sesuai dengan itu. Dan dengan pandangan itu, ia dapat dengan cepat meraih maqâm ridha, yang merupakan maqâm paling agung. Ia tidak membayar harga sebuah intan yang kekal untuk sebuah kaca yang akan pecah; ia menjalani hidupnya dengan istiqamah dan kelezatan. Ya, urusan-urusan yang berkaitan dengan dunia adalah laksana kaca-kaca yang divonis untuk pecah; sedangkan urusan-urusan ukhrawi yang kekal berharga laksana intan-intan yang teramat kokoh. Rasa penasaran yang dahsyat, kecintaan yang membara, ketamakan yang mengerikan, tuntutan yang penuh kekerasan hati, dan demikian pula perasaan-perasaan kuat lainnya dalam fitrah manusia, dianugerahkan untuk memenangkan urusan-urusan ukhrawi. Mengarahkan perasaan-perasaan itu dengan menggebu-gebu kepada urusan-urusan duniawi yang fana berarti membayarkan harga intan yang kekal untuk kaca-kaca fana yang akan pecah. Sehubungan dengan hal ini, terlintaslah suatu nuktah dalam ingatan, akan aku sampaikan. Yaitu demikian:

Isyq adalah kecintaan yang dahsyat; ketika ia terarah kepada kekasih-kekasih yang fana, maka adakalanya isyq itu meninggalkan pemiliknya dalam azab dan derita yang tak berkesudahan, atau adakalanya — karena kekasih majâzî itu tidak sepadan dengan harga kecintaan yang dahsyat tersebut — ia membuat pemiliknya merindukan seorang kekasih yang kekal; maka isyq majâzî pun berubah menjadi isyq hakiki.

Maka pada diri manusia terdapat ribuan perasaan. Masing-masingnya memiliki dua tingkatan sebagaimana isyq. Yang satu majâzî, yang satu hakiki. Misalnya: Perasaan cemas akan masa depan ada pada setiap orang; ketika ia dicekam kecemasan yang dahsyat, ia pun melihat bahwa di tangannya tiada jaminan untuk mencapai masa depan yang ia cemaskan itu. Lagi pula, masa depan yang pendek dan yang telah berada di bawah suatu jaminan dari sisi rezeki itu, tidaklah sepadan dengan kecemasan yang dahsyat tersebut. Ia pun memalingkan wajahnya dari masa depan itu, lalu mengarah kepada masa depan yang hakiki, yang panjang, dan yang tidak diberi jaminan bagi orang-orang yang lalai — yakni masa depan setelah alam kubur. Lagi pula, ia menunjukkan ketamakan yang dahsyat terhadap harta dan kedudukan.. lalu ia melihat bahwa harta fana yang untuk sementara diserahkan ke bawah pengawasannya, ketenaran yang penuh bencana, serta kedudukan yang berbahaya lagi menjadi sumber riya itu, tidaklah sepadan dengan ketamakan yang dahsyat tersebut. Ia pun beralih dari situ menuju kedudukan yang hakiki, yaitu maqâm-maqâm maknawi dan derajat-derajat kedekatan (kepada Allah), bekal akhirat, serta harta yang hakiki, yaitu amal-amal saleh. Adapun ketamakan majâzî yang merupakan perangai buruk, ia pun berubah menjadi ketamakan hakiki yang merupakan perangai luhur.

Dan misalnya pula: Dengan kekerasan hati yang dahsyat, ia menghamburkan perasaannya terhadap urusan-urusan yang tak berarti, yang sirna, dan yang fana. Ia pun melihat bahwa terhadap sesuatu yang tak layak dikerasi hati bahkan untuk sekejap, ia mengerasi hati selama setahun. Lagi pula, atas nama kekerasan hati, ia berteguh pada sesuatu yang berbahaya lagi beracun. Ia pun melihat bahwa perasaan yang kuat ini tidaklah dianugerahkan untuk hal-hal semacam itu. Menghamburkannya untuk hal-hal itu bertentangan dengan hikmah dan hakikat. Maka kekerasan hatinya yang dahsyat itu tidak ia berikan kepada urusan-urusan sirna yang tak perlu itu, melainkan ia hamburkan untuk hakikat-hakikat keimanan, asas-asas keislaman, dan khidmat-khidmat ukhrawi yang luhur lagi kekal. Maka kekerasan hati majâzî yang merupakan perangai hina itu pun berubah menjadi kekerasan hati hakiki yang merupakan perangai indah lagi luhur — yakni keteguhan yang dahsyat di atas kebenaran.

Maka sebagaimana ketiga contoh ini; apabila manusia menggunakan perangkat-perangkat maknawi yang dianugerahkan kepadanya demi kepentingan nafsu dan dunia, serta berlaku lalai seolah-olah akan kekal abadi di dunia, maka hal itu menjadi sumber akhlak-akhlak yang hina, pemborosan, dan kesia-siaan. Namun apabila ia menghamburkan yang ringan-ringannya untuk urusan dunia dan yang kuat-kuatnya untuk tugas-tugas ukhrawi dan maknawi, maka hal itu menjadi sumber akhlak-akhlak yang terpuji, dan — selaras dengan hikmah dan hakikat — menjadi sumber kebahagiaan dua negeri.

Maka aku memperkirakan bahwa salah satu sebab tak berpengaruhnya nasihat para penasihat di masa ini adalah demikian: Mereka berkata kepada orang-orang yang tak berakhlak: "Jangan dengki! Jangan tamak! Jangan bermusuhan! Jangan keras hati! Jangan cintai dunia!" Yakni, secara lahiriah mereka mengajukan suatu tuntutan yang bagi orang-orang itu bagaikan mustahil dipikul, seolah-olah (berkata) "ubahlah fitrahmu". Seandainya mereka berkata: "Palingkanlah wajah perasaan-perasaan ini kepada hal-hal yang baik, ubahlah salurannya," niscaya nasihat itu berpengaruh, dan sekaligus menjadi suatu tuntutan yang berada dalam lingkup ikhtiar mereka.