Risale-i NurAl-Maktubat

Keenam

Al-Maktubat · hlm. 246

Sebagaimana diisyaratkan pada Isyarat Kedua Kelimat Kesepuluh: sebagai imbalan atas kehendak uluhiyah untuk menampakkan diri sebagai tuntutan hikmah, Zat Ahmadi صلى الله عليه وسلم telah menampakkannya pada derajat yang paling gemilang dengan ubudiyah teragung dalam agamanya.

Dan sebagai imbalan atas kehendak Khâliq Alam untuk menampakkan keindahan-Nya yang berada pada puncak kesempurnaan melalui suatu perantara sebagai tuntutan hikmah dan hakikat; sudah pasti sosok itu jugalah penunjuk dan pengenal yang paling indah.

Dan sebagai imbalan atas kehendak Sang Pembuat Alam untuk menarik perhatian dan mempertontonkan kesempurnaan seni-Nya yang berada pada puncak keindahan; dengan mata kepala, sosok itu jugalah penyeru dengan suara yang paling tinggi.

Dan sebagai imbalan atas kehendak Rabb seluruh alam untuk mengumumkan keesaan pada tingkatan kemajemukan; secara niscaya sosok itu jugalah yang mengumumkan seluruh tingkat tauhid pada derajat teragung.

Dan sebagai imbalan atas kehendak Pemilik Alam untuk melihat dan menampakkan keindahan zati-Nya yang tak terhingga, keindahan wajah-Nya, dan kelembutan keindahan-Nya di cermin-cermin — sebagai tuntutan hakikat dan hikmah, dengan isyarat keindahan pada jejak-Nya; dengan mata kepala, sosok itu jugalah yang menjadi cermin dengan cara yang paling gemilang, menampakkannya, mencintainya, dan mencintakannya kepada yang lain.

Dan sebagai imbalan atas kehendak Sang Pembuat istana alam ini untuk menampakkan dan mempertontonkan khazanah gaib-Nya yang penuh dengan mukjizat luar biasa dan permata berharga, serta memperkenalkan dan memberitahukan kesempurnaan-Nya dengannya; dengan mata kepala, sosok itu jugalah yang paling agung dalam mempertontonkan, menyifati, dan memperkenalkannya.

Dan sebagai imbalan atas cara Sang Pembuat alam raya menghias alam raya ini dengan beragam keajaiban dan hiasan, memasukkan makhluk berkesadaran ke dalamnya untuk menyaksikan, mengambil pelajaran, dan bertafakur, serta — sebagai tuntutan hikmah — kehendak-Nya memberitahukan makna dan nilai jejak serta seni itu kepada ahli tontonan dan tafakur; dengan mata kepala, sosok itu jugalah yang paling agung dalam membimbing jin dan manusia, bahkan para ruhani dan malaikat, melalui Al-Qur'an Yang Mahabijaksana.

Dan sebagai imbalan atas kehendak Sang Hâkim Yang Mahabijaksana atas alam raya untuk membuka — melalui seorang utusan — tilsim rumit yang mengandung maksud dan tujuan dalam perubahan alam raya, serta teka-teki tiga pertanyaan sulit segenap wujud yaitu "Dari mana? Ke mana? Dan apa mereka?" kepada seluruh makhluk berkesadaran; dengan mata kepala, sosok itu jugalah yang paling jelas lagi paling agung dalam membuka tilsim itu dan memecahkan teka-teki itu melalui hakikat-hakikat Al-Qur'an.

Dan sebagai imbalan atas kehendak Sang Pembuat Dzul-Jalâl atas alam ini untuk mengenalkan diri-Nya kepada makhluk berkesadaran dengan seluruh ciptaan-Nya yang indah, mencintakan diri-Nya dengan nikmat berharga, dan secara niscaya memberitahukan keridhaan serta kehendak Ilahi-Nya kepada makhluk berkesadaran melalui seorang utusan; dengan mata kepala, sosok itu jugalah yang paling tinggi lagi paling sempurna dalam menerangkan dan membawa keridhaan serta kehendak itu melalui Al-Qur'an.

Dan sebagai imbalan atas kehendak Rabbul Âlamîn — karena Ia memberi manusia, buah alam, keluasan bakat yang dapat menampung alam, menyiapkannya bagi ubudiyah menyeluruh, sedang dari sisi perasaan ia terjerumus pada kemajemukan dan dunia — untuk memalingkan wajah mereka dari kemajemukan kepada kesatuan, dari yang fana kepada yang kekal, melalui seorang pembimbing; dengan mata kepala, sosok itu jugalah yang membimbing pada derajat teragung, dengan cara paling fasih, melalui Al-Qur'an dengan cara paling baik, serta menunaikan tugas risalah dengan cara paling sempurna.

Nah, sosok yang menunaikan tugas-tugas terdahulu pada derajat teragung lagi cara paling sempurna — makhluk hidup yang paling mulia di antara segenap wujud, yang paling mulia berkesadaran di antara makhluk hidup, insan hakiki yang paling mulia di antara yang berkesadaran, dan yang paling mulia di antara insan hakiki — sudah pasti dialah yang akan naik dengan Mi'raj Teragung ke Qâba Qausain, mengetuk pintu kebahagiaan abadi, membuka khazanah rahmat, dan menyaksikan hakikat gaib iman.