Ketujuh
Al-Maktubat · hlm. 248
Dengan mata kepala, pada ciptaan ini terdapat pempercantikan yang teramat indah, hiasan yang teramat berhias. Dan dengan sendirinya, pempercantikan serta hiasan semacam ini menunjukkan bahwa pada Pembuatnya ada kehendak mempercantik dan maksud menghias yang teramat kuat. Dan kehendak mempercantik serta menghias itu secara niscaya menunjukkan bahwa pada Pembuat itu ada kesukaan yang kuat dan kecintaan suci terhadap seninya. Dan di antara ciptaan, sosok yang paling menghimpun, yang menunjukkan sekaligus mengetahui dan memberitahukan kelembutan seni pada dirinya, mencintakan dirinya, serta memuji keindahan ciptaan lain dengan berkata "Mâsyâallah" — dengan mata kepala, dialah yang paling dicintai dalam pandangan Sang Pembuat yang cinta seni lagi teramat mencintai seni-Nya itu.
Nah, sosok yang membuat langit bergema dengan "Subhânallah, Mâsyâallah, Allâhu Akbar" terhadap keutamaan dan keindahan yang menyepuh ciptaan serta kelembutan dan kesempurnaan yang menerangi segenap wujud, membuat alam raya bergemuruh dengan alunan Al-Qur'an, dan membawa daratan serta lautan ke dalam gelora dengan penghargaan dan pujian, tafakur dan pertunjukan, zikir dan tauhid — dengan mata kepala, dialah sosok itu.
Nah, sosok semacam ini yang — sesuai rahasia اَلسَّبَبُ كَالْفَاعِلِ — pada timbangannya terdapat semisal seluruh kebaikan yang dikerjakan seluruh umatnya, yang salawat seluruh umatnya menolong kesempurnaan maknawinya, dan yang memperoleh limpahan tak terhingga rahmat dan kecintaan Ilahi beserta hasil serta upah maknawi dari tugas-tugas yang ia lihat dalam risalahnya — sudah pasti naik dengan tangga Mi'raj hingga ke surga, Sidratul Muntaha, Arasy, dan Qâba Qausain adalah haq itu sendiri, hakikat itu sendiri, dan hikmah yang murni. اَلْبَاق۪ى هُوَ الْبَاق۪ى
Said Nursî
(Catatan kaki): Pada sebuah surat kabar Islam terpenting, para filsuf asing penting pada sebuah kongres yang berkumpul di Eropa pada tahun 1927 — kongres para ahli hukum yang berkaitan dengan seluruh alam Islam dan teramat penting secara politik serta kehidupan sosial — telah mengucapkan dengan bahasa mereka sendiri hal yang sama dengan petikan Arab tentang syariat Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم yang ditulis di bawah ini. Kami menuliskan ungkapan Arab yang dinukil surat kabar Arab itu apa adanya, dan menambahkan terjemahannya di bawah ungkapan Arab itu. Pernyataan empat puluh tiga filsuf asing yang ditulis di akhir Nur Çeşmesi, bersama pernyataan kedua filsuf pahlawan ini, menjadi empat puluh lima saksi jujur. اَلْفَضْلُ مَا شَهِدَتْ بِهِ اْلاَعْدَٓاءُ "Keutamaan itu ialah yang bahkan musuh pun membenarkannya."
Pernyataan surat kabar Arab: وَقَدْ اِعْتَرَفَ حَتّٰى عُلَمَٓاءُ الْغَرْبِ بِسُمُوِّ مَبَادِى اْلاِسْلاَمِ وَصَلاَحِهَا لِلْعَالَمِ... قَالَ عَم۪يدُ كُلِّيَّةِ الْحُقُوقِ بِجَامِعَةِ ڤ۪ييَنَا َاْلاُسْتَاذُ شَبُولْ ف۪ى مُؤْتَمَرِ الْحُقُوقِيّ۪ينَ الْمُنْعَقَدِ ف۪ى سَنَةِ ﴿١٩٢٧﴾ اِنَّ الْبَشَرِيَّةَ لَتَفْتَخِرُ بِاِنْتِسَابِ رَجُلٍ كَمُحَمَّدٍ ﴿ع ص م﴾ اِلَيْهَا اِذْ اِنَّهُ رَغْمَ اُمِّيَّتِه۪ اِسْتَطَاعَ قَبْلَ بِضْعَةِ عَشَرَ قَرْنًا اَنْ يَاْت۪ى بِتَشْرِيعٍ سَنَكُونُ نَحْنُ اْلاَوْرُوبَائِيّ۪ينَ اَسْعَدَ مَا نَكُونُ لَوْ وَصَلْنَا اِلٰى قِيْمَتِه۪ بَعْدَ اَلْفَىْ عَامٍ وَ قَالَ بَرْنَارْد شَوْ : لَقَدْ كَانَ د۪ينُ مُحَمَّدٍ ﴿ع ص م﴾ مَوْضِعَ التَّقْد۪يرِ السَّام۪ى دَٓائِمًا لِمَا يَنْطَو۪ى عَلَيْهِ مِنْ حَيَوِيَّةٍ مُدْهِشَةٍ ِلاَنَّهُ عَلٰى مَا يَلُوحُ ل۪ى هُوَ الدّ۪ينُ الْوَح۪يدُ الَّذ۪ى لَهُ مَلَكَةُ الْهَضْمِ ِلاَطْوَارِ الْحَيَاةِ الْمُخْتَلِفَةِ وَالَّذ۪ى يَسْتَط۪يعُ لِذٰلِكَ اَنْ يَجْذِبَ اِلَيْهِ كُلَّ جَيْلٍ مِنَ النَّاسِ وَ اَرٰى وَاجِبًا اَنْ يُدْعٰى مُحَمَّدٌ ﴿ع ص م﴾ مُنْقِذَ اْلاِنْسَانِيَّةِ وَ اَعْتَقِدُ اَنَّ رَجُلاً مِثْلَهُ اِذَا تَوَلّٰى زَعَامَةَ الْعَالَمِ الْحَد۪يثِ نَجَحَ ف۪ى حَلِّ مُشْكِلاَتِه۪ وَاَحَلَّ فِى الْعَالَمِ السَّلاَمَةَ وَالسَّعَادَةَ ﴿يَعْنِى الْمُسَالَمَةَ وَالصُّلْحَ الْعُمُومِىَّ﴾ وَمَا اَشَدَّ حَاجَةَ الْعَالَمِ اَلْيَوْمَ اِلَيْهَا
Ringkasan terjemahannya: Ya, para ulama dan filsuf Barat telah mengakui dan menegaskan bahwa: "Hukum-hukum Islam cukup untuk memperbaiki dunia pada tingkat yang tinggi." Dan pada perkumpulan Kongres Fakultas Hukum, kongres tempat seluruh ahli hukum berkumpul pada tahun 1927, ketuanya, filsuf ustad Shebol, berkata: "Seluruh kemanusiaan sungguh berbangga dengan penisbahan Muhammad صلى الله عليه وسلم kepada kemanusiaan. Sebab sosok itu, meski ummi, tiga belas abad lalu telah membawa suatu syariat sedemikian rupa, sehingga seandainya kami orang Eropa mencapai nilai dan hakikatnya dua ribu tahun kemudian, kami akan menjadi yang paling bahagia lagi paling beruntung." Yang kedua — atau yang keempat puluh lima bersama yang ditambahkan di akhir Nur Çeşmesi — Bernard Shaw berkata: "Sebab agama Muhammad صلى الله عليه وسلم naik ke maqam penghargaan tertinggi ialah: ia menjamin suatu kehidupan yang teramat menakjubkan lagi kukuh. Yang terbuka bagiku ialah: agama itu satu-satunya, tunggal, tak bertara, agama yang unik, yang mencernakan seluruh cara dan macam kehidupan yang beragam. Yakni, ia menjernihkan dan memajukan dengan cara memperbaiki dan mengubah. Dan agama Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah agama sedemikian rupa, sehingga dapat menarik seluruh bangsa manusia yang beragam kepada dirinya. Aku melihat dan meyakini bahwa: wajib bagi manusia untuk berkata: 'Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah penyelamat kemanusiaan. Dan gelar penyelamat layak diberikan kepadanya.'" Ia juga berkata: "Aku meyakini bahwa: seandainya semisal Muhammad صلى الله عليه وسلم — yakni seorang yang seperti dirinya dalam sirah dan caranya — menjadi pemimpin dan penguasa alam baru sekarang; ia akan memecahkan kesulitan alam baru ini, dan menjadi sebab terwujudnya perdamaian umum serta kebahagiaan hidup di alam baru yang campur aduk ini. Ya, semua orang mengerti betapa keras kebutuhan alam baru ini akan perdamaian dan kebahagiaan hidup!"
---
Martabat Keenam Belas Risalah Âyat al-Kubrâ yang Membahas Risalah Ahmadiyah
(Disisipkan di sini sesuai kesempatan.)
Kemudian sang pengembara dunia berkata kepada akalnya: Selama aku mencari Pemilik dan Khâliqku dengan segenap wujud alam raya ini, sudah pasti sebelum segala sesuatu, kita harus pergi ke Masa Kebahagiaan untuk mengunjungi Muhammad al-Arabî صلى الله عليه وسلم — yang termasyhur di antara segenap wujud ini, yang paling sempurna dengan pembenaran para musuhnya, panglima terbesar, penguasa termasyhur, yang tertinggi ucapannya, yang paling gemilang akalnya, dan yang menerangi empat belas abad dengan keutamaan serta Al-Qur'annya — untuk menanyakan kepadanya apa yang kucari; lalu bersama akalnya ia masuk ke abad itu. Ia melihat bahwa: abad itu, dengan sosok itu, sungguh menjadi abad kebahagiaan manusia. Sebab kaum yang paling badui lagi paling ummi, melalui cahaya yang ia bawa, dalam waktu singkat ia jadikan guru dan penguasa dunia.
Dan ia berkata kepada akalnya: "Mula-mula kita harus mengetahui hingga suatu derajat nilai sosok luar biasa ini, kebenaran ucapannya, dan kejujuran kabarnya, lalu kita menanyakan Khâliq kita kepadanya," lalu ia mulai menyelidiki. Dari tak terhingga dalil pasti yang ia temukan, di sini hanya akan diisyaratkan sembilan yang menyeluruh secara singkat.