Risale-i NurAl-Maktubat

Kelima

Al-Maktubat · hlm. 12

Dalam sebuah surat, engkau pernah menuliskan hasratmu untuk turut merasakan perasaan-perasaanku di sini. Maka, dengarkanlah satu dari seribunya. Pada suatu malam, di ketinggian seratus tingkat, dari sebuah sarang di pucuk sebuah pohon katran, aku menatap wajah langit nan elok, yang bersepuhkan gemerlap bintang-bintang; dan aku menyaksikan dalam sumpah فَلآَ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ ❊ اَلْجَوَارِ الْكُنَّسِ pada al-Qur'an al-Hakîm suatu nur kemukjizatan nan luhur serta suatu rahasia balâghah nan berkilauan. Ya, ayat ini — yang mengisyaratkan kepada bintang-bintang yang berkelana serta kepada persembunyian dan penampakannya — memperlihatkan kepada pandangan yang menyaksikannya suatu ukiran seni nan teramat luhur dan suatu lembaran ibrah nan tinggi. Ya, benda-benda beredar ini keluar dari lingkaran matahari — sang panglima mereka — lalu memasuki lingkaran bintang-bintang yang tetap, seraya memperlihatkan di langit ukiran-ukiran dan karya-karya seni yang senantiasa baru. Adakalanya mereka bahu-membahu dengan sebuah bintang cemerlang laksana diri mereka, memperlihatkan suatu keadaan nan elok. Adakalanya mereka masuk ke tengah bintang-bintang kecil, lalu menampakkan rupa seorang panglima. Teristimewa pada musim ini, sesudah senja di ufuk tampaklah bintang Zuhrah, dan sebelum fajar seorang kawannya yang cemerlang yang lain, memperlihatkan suatu keadaan nan teramat manis dan elok. Kemudian, setelah menunaikan tugas pemeriksaan mereka serta khidmat sebagai torak dalam menenun ukiran seni, mereka pun kembali masuk dan tersembunyi ke dalam lingkaran matahari nan gilang-gemilang, sang sultan mereka. Kini, planet-planet yang disebut 'Khunnas, Kunnas' ini — bersama bumi kita ini — memperlihatkan dengan kecemerlangan bagaikan matahari: keagungan rububiyah serta kegemerlapan kerajaan uluhiyah dari Zat yang memutar keduanya di angkasa alam semesta dalam rupa kapal-kapal dan pesawat-pesawat dengan keteraturan yang sempurna, seraya memperjalankan dan mengembarakannya. Pandanglah keagungan suatu kerajaan yang di antara kapal-kapal dan pesawat-pesawatnya terdapat yang sedemikian rupa — yaitu yang besarnya seribu kali lipat bola bumi, dan berkecepatan menempuh jarak delapan jam perjalanan dalam satu detik.

Maka kiaskanlah, betapa luhur kebahagiaan dan betapa besar kemuliaan untuk berintisab kepada sultan yang sedemikian itu dengan ubudiyah dan iman, serta menjadi tamu-Nya di dunia ini.

Kemudian aku menatap Bulan. Aku menyaksikan bahwa ayat وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَد۪يمِ menyatakan suatu nur kemukjizatan yang teramat cemerlang. Ya, penetapan Bulan, peredarannya, pengaturannya, dan penyinarannya, serta kedudukan-kedudukannya terhadap bumi dan matahari dengan suatu perhitungan yang teramat teliti, sedemikian menakjubkan dan sedemikian ajaib, sehingga bagi Sang Qadîr yang menata dan menetapkannya sedemikian itu, tiada sesuatu pun yang terasa berat. Ia mengajarkan kepada setiap makhluk berkesadaran yang menyaksikannya buah pikiran: "Zat yang membuatnya sedemikian itu, kuasa membuat segala sesuatu." Lagi pula ia mengikuti Matahari dengan cara yang sedemikian rupa sehingga sesaat pun tiada menyimpang dari jalannya, dan sezarah pun tiada tertinggal dari tugasnya. Kepada siapa yang memandangnya dengan saksama, ia menuntun bibirnya mengucap: سُبْحَانَ مَنْ تَحَيَّرَ ف۪ى صُنْعِهِ الْعُقُولُ. Teristimewa sebagaimana pada penghujung bulan Mei, pada saat-saat tertentu manakala ia — dalam bentuk hilal yang tipis — memasuki manzilah Tsurayya, karena ia menampakkan rupa sebuah dahan kurma putih yang melengkung, sedang Tsurayya menampakkan rupa setandan buah, maka di balik tabir langit yang hijau itu ia menerbitkan dalam khayal bayangan akan wujud sebuah pohon bercahaya nan besar. Seolah-olah ujung runcing sebuah dahan dari pohon itu telah menembus tabir tersebut, lalu menjulurkan kepalanya beserta setandan buahnya, menjelma Tsurayya dan Hilal; dan ia membisikkan kepada khayal bahwa bintang-bintang yang lain pun merupakan buah-buah dari pohon gaib itu. Maka pandanglah kehalusan dan balâghah perumpamaan كَالْعُرْجُونِ الْقَد۪يمِ.

Kemudian teringatlah olehku ayat هُوَ الَّذ۪ى جَعَلَ لَكُمُ اْلاَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا ف۪ى مَنَاكِبِهَا, yang mengisyaratkan bahwa bumi ini adalah sebuah bahtera yang ditundukkan, sebuah kendaraan tunggangan. Dari isyarat itu, aku mendapati diriku berada di suatu anjungan yang tinggi pada sebuah kapal yang teramat besar, yang mengembara dengan laju di angkasa alam semesta. Maka aku membaca ayat سُبْحَانَ الَّذ۪ى سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِن۪ينَ, yang disunnahkan pembacaannya tatkala seseorang menaiki suatu kendaraan seumpama kuda dan kapal.

Dan aku menyaksikan pula bahwa bola bumi, dengan gerakannya ini, telah mengambil kedudukan sebuah mesin yang menayangkan lembaran-lembaran sinema; ia menggerakkan segenap langit, dan mulai menghela segenap bintang bagaikan suatu bala tentara yang megah. Ia memperlihatkan pemandangan-pemandangan yang sedemikian manis dan luhur, sehingga memabukkan lagi mempesonakan para ahli pikir. Maka aku berucap, "Fasubhânallâh!" — betapa dengan biaya yang teramat sedikit, terlihat pekerjaan-pekerjaan yang sedemikian banyak, besar, ganjil, dan menakjubkan, luhur lagi berharga. Dari titik ini, terlintaslah dalam ingatan dua nuktah keimanan: