Kelimat Kedua Puluh Lima
Al-Maktubat · hlm. 453
telah membuktikan bahwa terjemahan hakiki Al-Qur'an al-Hakîm tak mungkin. Lagi pula keluhuran uslub dalam kemukjizatan maknawinya tak dapat diterjemahkan. Menerangkan dan memahamkan cita rasa serta hakikat yang datang dari segi keluhuran uslub dalam kemukjizatan maknawi itu amat sukar. Namun untuk menunjukkan jalan, kami akan mengisyaratkan satu-dua segi. Yaitu:
Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya, dengan ayat seperti وَمِنْ اٰيَاتِهِ خَلْقُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَاخْتِلاَفُ اَلْسِنَتِكُمْ وَ اَلْوَانِكُمْ ❊ وَالسَّمٰوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَم۪ينِه۪ ❊ يَخْلُقُكُمْ ف۪ى بُطُونِ اُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِى ظُلُمَاتٍ ثَلاَثٍ ❊ خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضَ فِى سِتَّةِ اَيَّامٍ ❊ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ ❊ لاَ يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ ❊ يُولِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَ هُوَ عَل۪يمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ, menggambarkan dan menunjukkan hakikat penciptaan (khallâqiyah) ke khayal di dalam suatu keluhuran uslub yang sedemikian luar biasa dan suatu himpunan yang mukjizat, sehingga: "Sang Pembuat Alam, tukang alam semesta ini, dalam keadaan bekerja, dengan palu apa Ia memakukan Matahari dan Bulan ke tempatnya, dengan palu yang sama, pada saat yang sama, Ia menempatkan zarah ke tempatnya — misalnya di biji mata yang hidup. Dengan ukuran apa dan alat maknawi apa Ia menata dan membuka langit, pada saat yang sama, dengan tatanan yang sama, Ia membuka, membuat, menata, dan menempatkan tabir-tabir mata. Lagi pula Sang Pembuat Dzul-Jalâl, dengan palu maknawi apa dari kudrat maknawi Ia memakukan bintang ke langit, dengan palu maknawi yang sama, Ia mengukir titik-titik tanda pembeda yang tak terhingga dan indra lahir serta batin pada wajah manusia ke tempatnya." demikian Ia mengungkapkan. Artinya Sang Pembuat Dzul-Jalâl sedang bekerja... Untuk menunjukkan pekerjaan-Nya kepada mata dan telinga sekaligus, dengan ayat Qur'ani Ia memukulkan satu palu ke zarah; dengan kata lain dari ayat yang sama, Ia memukulkan palu itu ke Matahari; bagai memakukannya ke pusatnya, dengan uslub yang luhur Ia menunjukkan wahdaniyah di dalam ainul-ahadiyah, keagungan tak terhingga di dalam keindahan tak terhingga, kebesaran tak terhingga di dalam ketersembunyian tak terhingga, keluasan tak terhingga di dalam kehalusan tak terhingga, kemegahan tak terhingga di dalam rahmat tak terhingga, dan kejauhan tak terhingga di dalam kedekatan tak terhingga. Ia mengungkapkan, membuktikan, dan menunjukkan derajat terjauh dari penghimpunan hal-hal yang berlawanan (jam' al-adhdâd) — yang dianggap mustahil — dalam suatu bentuk pada derajat wajib. Maka cara pengungkapan dan uslub inilah yang membuat para sastrawan paling ulung bersujud kepada balaghahnya.
Lagi pula misalnya, dengan ayat وَمِنْ اٰيَاتِه۪ اَنْ تَقُومَ السَّمَٓاءُ وَاْلاَرْضُ بِاَمْرِه۪ ثُمَّ اِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ اْلاَرْضِ اِذَا اَنْتُمْ تَخْرُجُونَ, dengan suatu uslub luhur sedemikian Ia menunjukkan kemegahan dalam kesultanan rububiyah-Nya. Yaitu:
"Langit dan bumi berkedudukan sebagai dua barak yang taat dan dua pusat tentara yang teratur; dengan satu perintah saja atau dengan suatu isyarat bagai terompet, makhluk yang tidur di tabir kefanaan dan ketiadaan di dua barak itu, terhadap perintah itu dengan kecepatan dan ketaatan sempurna berkata 'Labbaik!' lalu keluar ke medan mahsyar dan ujian."
Maka betapa dengan uslub luhur yang mukjizat Ia mengungkapkan kebangkitan dan kiamat, dan di dalam dakwaan itu mengisyaratkan suatu dalil yang meyakinkan: sebagaimana dengan penyaksian, benih yang tersembunyi dan seakan mati di dalam perut bumi, serta tetesan yang berserak dan tersembunyi di angkasa, di ketiadaan, dan di bola udara; bagaimana dengan keteraturan dan kecepatan sempurna dibangkitkan dan keluar ke medan percobaan dan ujian setiap musim semi; biji-bijian di bumi, tetesan di langit, setiap waktu mengambil rupa serupa mahsyar; demikian pula, kebangkitan agung pun muncul semudah itu. Karena kalian melihat ini, kalian tak dapat mengingkari itu. Dan demikianlah... Bandingkanlah derajat balaghah ayat lain dengan ayat-ayat ini. Gerangan, mungkinkah terjemahan hakiki ayat semacam ini? Tentu tidak! Paling-paling, entah suatu makna ringkas, atau perlu menulis lima-enam baris tafsir untuk setiap kalimat ayat.