Nuktah Kelima
Al-Maktubat · hlm. 454
Misalnya "Alhamdulillah" adalah suatu kalimat Qur'ani. Makna terpendeknya, yang dituntut kaidah ilmu Nahwu dan Bayan, adalah ini: كُلُّ فَرْدٍ مِنْ اَفْرَادِ الْحَمْدِ مِنْ اَىِّ حَامِدٍ صَدَرَ وَعَلٰى اَىِّ مَحْمُودٍ وَقَعَ مِنَ اْلاَزَلِ اِلَى اْلاَبَدِ خَاصٌّ وَمُسْتَحِقٌّ لِلذَّاتِ الْوَاجِبِ الْوُجُودِ الْمُسَمّٰى بِاللّٰهِ
Yakni: "Betapa pun ada pujian dan sanjungan, dari siapa pun datangnya, kepada siapa pun tertuju, dari azali hingga abadi, khusus dan layak bagi Zat Wâjib al-Wujûd yang disebut Allah." Maka "betapa pun ada pujian" keluar dari "lâm istighrâq". Adapun ikatan "dari siapa pun datangnya", karena "hamd" adalah masdar dan pelakunya ditinggalkan, pada maqam demikian mengungkapkan keumuman. Lagi pula pada peninggalan objek, karena pada maqam khitab pun mengungkapkan kemenyeluruhan dan keumuman, ia mengungkapkan ikatan "kepada siapa pun tertuju". Adapun ikatan "dari azali hingga abadi"; karena kaidah perpindahan dari kalimat verbal ke kalimat nominal menunjukkan ketetapan dan keberlanjutan, ia mengungkapkan makna itu. Makna "khusus dan berhak" diungkapkan "lâm jar" pada "Lillâh". Karena "lâm" itu untuk pengkhususan dan kelayakan. Adapun ikatan "Zat Wâjib al-Wujûd"; karena kewajiban wujud adalah keharusan pasti uluhiyah dan suatu gelar perenungan terhadap Zat Dzul-Jalâl, sebagaimana "Lafzhullâh" — dari segi kemenyeluruhannya terhadap seluruh asma dan sifat serta karena ia ism a'zam — menunjukkan dengan penunjukan iltizami; ia menunjukkan gelar Wâjib al-Wujûd pun dengan penunjukan iltizami itu.
Maka jika makna zahir terpendek dan disepakati ulama Arab dari kalimat "Alhamdulillah" adalah demikian, bagaimana ia dapat diterjemahkan ke bahasa lain dengan kemukjizatan dan kekuatan itu?
Lagi pula di antara bahasa-bahasa dunia, selain bahasa nahwu Arab ada satu bahasa lain; dan itu pun tak pernah dapat menyamai kemenyeluruhan bahasa Arab. Gerangan, kata-kata Qur'ani yang muncul dengan cara yang mukjizat melalui bahasa nahwu yang mencakup lagi mukjizat itu — di dalam suatu ilmu yang meliputi, yang mengetahui dan mengehendaki segala segi sekaligus — bagaimana kata-kata terjemahan sebagian manusia yang benaknya parsial, kesadarannya pendek, pikirannya kacau, dan kalbunya gelap, melalui bahasa lain yang bersusun dan bertasrif, dapat menggantikan kata suci itu? Bahkan aku dapat berkata dan mungkin dapat membuktikan bahwa setiap huruf Al-Qur'an berkedudukan sebagai suatu khazanah hakikat; kadang satu huruf saja memberi pelajaran hakikat sebesar sehalaman.