Risale-i NurAl-Maktubat

Nuktah Keenam

Al-Maktubat · hlm. 456

Untuk menerangi makna ini, aku menyebutkan suatu keadaan bercahaya dan suatu khayal penuh hakikat yang kualami sendiri. Yaitu:

Suatu ketika aku memikirkan nun mutakallim ma'al-ghair pada اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ, dan kalbuku mencari sebab perpindahan dari bentuk mutakallim wahdah ke bentuk "Na'budu". Tiba-tiba, keutamaan dan rahasia jamaah dalam salat tersingkap dari nun itu. Kulihat bahwa keikutsertaanku dengan jamaah di Masjid Bayezid tempat aku salat, dan bahwa masing-masing mereka berkedudukan sebagai semacam pemberi syafaatku, serta menjadi saksi dan penguat bagi hukum dan dakwaan yang kutampakkan dalam bacaanku. Datanglah keberanian untuk mempersembahkan ubudiyahku yang cacat ke hadirat Ilahi di dalam ibadah jamaah itu yang besar dan banyak. Tiba-tiba satu tabir lagi tersingkap: yakni seluruh masjid Istanbul menyatu. Kota itu berkedudukan sebagai Masjid Bayezid. Tiba-tiba, aku merasakan secara maknawi semacam meraih doa dan pembenaran mereka. Dalam hal itu pun; di masjid muka bumi, di sekeliling Ka'bah Mukarramah, di dalam saf-saf melingkar, kulihat diriku. Kukatakan اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ. Aku memiliki sekian banyak pemberi syafaat; setiap perkataan yang kuucapkan dalam salat, mereka ucapkan persis, mereka benarkan. Karena tabir ini terbuka secara khayal; Ka'bah Mukarramah berkedudukan sebagai mihrab. Aku memanfaatkan kesempatan ini, kupersaksikan saf-saf itu, dan penerjemah iman yang kubawa dalam tahiyat — yaitu اَشْهَدُ اَنْ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ — kutitipkan dan kutinggalkan sebagai amanah kepada Hajar Aswad yang diberkahi; tatkala kukatakan itu, tiba-tiba terbuka satu keadaan lagi. Kulihat bahwa jamaah yang kumasuki terbagi menjadi tiga lingkaran: