Risale-i NurAl-Maktubat

Kesimpulannya

Al-Maktubat · hlm. 457

Nun "Na'budu" mengisyaratkan tiga jamaah ini. Maka tatkala dalam keadaan ini, tiba-tiba pribadi maknawi Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم — penerjemah dan penyampai Al-Qur'an al-Hakîm — berwujud dengan kemegahannya di mimbar maknawinya yang disebut Madinah Munawwarah, dan aku pun secara maknawi mendengar khitab يَٓا اَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمْ seperti setiap orang; kubayangkan bahwa dalam tiga jamaah itu setiap orang membalas dengan اِيَّاكَ نَعْبُدُ sepertiku. Sesuai kaidah اِذَا ثَبَتَ الشَّيْءُ ثَبَتَ بِلَوَازِمِه۪, tampaklah suatu hakikat kepada pikiran:

Karena Rabb seluruh alam menjadikan manusia sebagai lawan bicara dan berbicara dengan seluruh makhluk, dan Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم ini menyampaikan khitab izzah itu kepada jenis manusia bahkan kepada seluruh yang berruh dan berkesadaran. Maka seluruh masa lampau dan masa depan berkedudukan sebagai masa kini; seluruh jenis manusia dalam satu majelis, dalam bentuk suatu jamaah yang safnya beragam; khitab itu ditujukan kepada mereka dengan cara itu. Saat itu setiap ayat Qur'ani; dalam suatu kekuatan, keluhuran, kefasihan, dan balaghah yang diambil dari suatu maqam yang amat megah dan luas, dari lawan bicaranya yang amat banyak, beragam, dan penting, dari Sang Mutakallim Azali pemilik keagungan dan keluhuran tak terhingga, dan dari Penerjemah Mahaagung صلى الله عليه وسلم pemilik maqam kecintaan teragung; kulihat di dalam suatu cahaya kemukjizatan yang cemerlang, amat cemerlang. Saat itu, bukan hanya seluruh Al-Qur'an; entah satu surah, atau satu ayat, bahkan setiap katanya berkedudukan sebagai suatu mukjizat: kukatakan "Alhamdulillâhi 'alâ nûril-îmân wal-Qur'ân". Sebagaimana aku masuk ke nun "Na'budu" dari khayal yang merupakan hakikat itu sendiri, demikian pula aku keluar, dan aku pahami bahwa bukan hanya ayat Al-Qur'an dan kata-katanya, melainkan bahkan sebagian hurufnya seperti Nun Na'budu adalah kunci bercahaya bagi hakikat yang penting.

Setelah kalbu dan khayal keluar dari Nun Na'budu itu, akal datang di hadapan mereka, berkata: "Aku pun ingin bagian. Aku tak dapat terbang sepertimu. Kakiku adalah dalil, hujah. Pada نَعْبُدُ dan نَسْتَع۪ينُ yang sama pun, perlu ditunjukkan jalan menuju Sang Khâliq yang menjadi Ma'bûd dan Musta'ân, supaya aku dapat datang bersama kalian." Saat itu terlintas di kalbu demikian: katakanlah kepada akal yang bingung itu:

Pandanglah seluruh makhluk di alam semesta; baik yang hidup maupun yang mati, memiliki ubudiyah dalam bentuk tugas dengan ketaatan dan keteraturan sempurna. Sebagian, meski tak berkesadaran dan tak berindra, menunaikan tugas secara amat berkesadaran, penuh keteraturan, dan penuh ubudiyah. Artinya, ada suatu Ma'bûd Bilhaqq dan Âmir Mutlak yang menggiring mereka ke ibadah dan mempekerjakannya.

Lagi pula pandanglah seluruh makhluk, terutama yang hidup.. masing-masing memiliki kebutuhan yang amat banyak dan beragam, dan memiliki banyak tuntutan berbeda yang diperlukan bagi wujud dan kekekalannya; tangan mereka tak sampai ke yang terkecil, kudrat mereka tak mencukupi. Padahal tuntutan yang tak terhingga itu, dari tempat yang tak diduga, pada waktu yang tepat, secara teratur diberikan ke tangan mereka, dan tampak dengan penyaksian.

Maka kefakiran dan kebutuhan makhluk ini yang tak terhingga, serta pertolongan gaib dan bantuan Rahmani yang luar biasa ini, dengan jelas menunjukkan bahwa ada suatu Pelindung dan Pemberi rezeki yang Ghaniyy Mutlak, Karîm Mutlak, dan Qadîr Mutlak, yang setiap sesuatu dan setiap yang hidup meminta pertolongan dari-Nya dan menanti bantuan. Secara maknawi ia berkata اِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ. Saat itu akal berkata "Âmannâ wa shaddaqnâ".