Nuktah Ketujuh
Al-Maktubat · hlm. 458
Kemudian dalam keadaan itu, tatkala kukatakan اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَق۪يمَ ❊ صِرَاطَ الَّذ۪ينَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ, kulihat: di dalam kafilah manusia yang berpindah dan pergi ke arah masa lampau, kulihat kafilah para nabi, shiddiqin, syuhada, wali, dan orang saleh yang amat bercahaya dan cemerlang, yang menyebarkan kegelapan masa depan dan berjalan di suatu jalan raya besar yang lurus menuju keabadian. Kata ini menunjukkan jalan kepadaku untuk bergabung dengan kafilah itu, bahkan membuatku bergabung. Tiba-tiba, kukatakan fasubhanallah. Betapa besar kerugian dan kebinasaan untuk tak bergabung dengan kafilah teragung yang bercahaya ini — yang menerangi kegelapan masa depan dan berjalan dengan keselamatan sempurna — semestinya diketahui oleh siapa pun yang memiliki kesadaran sekecil zarah. Gerangan, orang yang menyimpang dari kafilah teragung itu dengan mengada-adakan bidah; dari mana ia dapat menemukan cahaya, jalan mana yang dapat ia tempuh? Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, pembimbing kami, bersabda: كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ Gerangan, menghadapi firman yang pasti ini, sebagian orang malang yang layak disebut "ulama su' (ulama jahat)" menemukan maslahat apa, memberi fatwa apa, sehingga secara tak perlu dan merugikan mereka melawan hal-hal yang jelas dari syiar Islam; mereka memandangnya dapat diganti? Paling-paling, suatu kesadaran sementara yang datang dari suatu manifestasi makna sementara telah menipu ulama su' itu. Misalnya: sebagaimana jika kulit seekor hewan atau sebuah buah dikupas, ia menunjukkan keanggunan sementara; tetapi dalam waktu singkat daging yang anggun dan buah yang indah itu menghitam dan membusuk di bawah kulit liar, berkarat, pekat, dan tambahan itu. Demikian pula, ungkapan Nabawi صلى الله عليه وسلم dan Ilahi dalam syiar Islam berkedudukan sebagai suatu kulit yang hidup dan berpahala. Dengan pengupasannya, suatu kebercahayaan dalam makna tampak telanjang sementara — sampai derajat tertentu; tetapi bagai buah yang terpisah dari kulitnya, ruh makna yang diberkahi itu terbang, meninggalkan kulit manusiawinya di kalbu dan kepala yang gelap lalu pergi.. cahaya terbang, asapnya tinggal. Bagaimanapun...