Risale-i NurAl-Maktubat

Kisah Kedua

Al-Maktubat · hlm. 68

Pada tahun ini aku mendengar bahwa telah terjadi suatu peristiwa. Meskipun setelah terjadinya peristiwa itu aku hanya mendengar kejadiannya secara garis besar, aku diperlakukan seolah-olah aku benar-benar terlibat serius dengan kejadian tersebut. Lagi pula aku memang tidak melakukan surat-menyurat; sekalipun aku melakukannya, sangat jarang, hanya menuliskan suatu masalah imani kepada seorang sahabatku. Bahkan dalam empat tahun, hanya satu surat yang kutulis kepada saudaraku. Dan dari pergaulan yang bercampur-baur, aku menahan diriku sendiri, dan ahli dunia pun menghalangiku. Hanya dengan satu-dua kawan, seminggu sekali aku dapat berjumpa. Adapun para tamu yang datang ke desa; satu-dua orang dalam sebulan, kadang selama satu-dua menit, berbincang denganku mengenai suatu masalah akhirat. Dalam keadaan terasing ini; asing, seorang diri, tanpa sanak, di sebuah desa yang tidak cocok bagi orang-orang sepertiku untuk bekerja mencari nafkah, aku dilarang dari segala sesuatu dan dari setiap orang. Bahkan empat tahun yang silam, aku memperbaiki sebuah masjid yang telah runtuh. Oleh karena surat izin keimaman dan kekhatiban di negeriku ada di tanganku, sekalipun selama empat tahun aku menjadi imam di masjid itu (semoga Allah menerimanya), pada bulan Ramadan yang mubarak yang baru berlalu ini aku tidak dapat pergi ke masjid. Terkadang aku menunaikan salatku seorang diri. Aku terhalang dari dua puluh lima pahala dan kebaikan salat yang ditunaikan secara berjamaah.

Nah, terhadap dua peristiwa yang menimpaku ini, aku menunjukkan kesabaran dan ketabahan yang sama persis dengan yang kutunjukkan dua tahun yang silam terhadap perlakuan pegawai itu kepadaku. Insya Allah aku pun akan terus melanjutkannya. Aku pun berpikir dan berkata demikian: Jika gangguan, kesusahan, dan tekanan yang menimpaku dari pihak ahli dunia ini adalah disebabkan nafsuku yang penuh aib dan cacat, maka aku menghalalkannya. Barangkali nafsuku dengan hal ini memperbaiki keadaannya; lagi pula ia menjadi kaffârah bagi dosa-dosa. Aku telah banyak merasakan kesenangan wisma tamu dunia ini; seandainya aku merasakan sedikit deritanya, aku tetap bersyukur. Jika ahli dunia menekanku dari sisi kekhidmatanku kepada iman dan al-Qur'an, maka pembelaannya bukanlah urusanku; hal itu kuserahkan kepada Sang 'Azîz al-Jabbâr. Jika yang dimaksudkan adalah merusak simpati orang banyak terhadap diriku demi memecahkan suatu kemasyhuran palsu yang tak berdasar, yang menjadi sebab riya dan yang akan menghancurkan keikhlasan, maka rahmat bagi mereka. Sebab memperoleh simpati orang banyak dan meraih kemasyhuran dalam pandangan khalayak, kukira, adalah kemudaratan bagi orang-orang sepertiku. Orang-orang yang bersentuhan denganku mengetahui diriku bahwa; aku tidak menginginkan penghormatan terhadap pribadiku, bahkan aku membencinya. Bahkan seorang sahabatku yang berharga lagi penting, karena penghormatannya yang berlebihan, barangkali telah lima puluh kali kutegur. Jika maksud mereka dari menjatuhkanku dan menggugurkanku dari opini umum berkaitan dengan hakikat-hakikat imani dan Qur'ani yang kuterjemahkan, maka itu sia-sia belaka. Karena bintang-bintang al-Qur'an tidak dapat ditutupi tabir. Barangsiapa memejamkan matanya, ia hanya membuat dirinya sendiri tidak melihat; ia tidak dapat menjadikan malam bagi orang lain.