Kisah Pertama
Al-Maktubat · hlm. 67
Dua tahun yang silam, seorang kepala tanpa sebab telah mengucapkan kata-kata yang merendahkan lagi menghina tentang diriku di belakangku. Kemudian orang menyampaikannya kepadaku. Selama kira-kira satu jam aku tergores perasaan oleh watak Said Lama. Kemudian, dengan rahmat Cenâb-ı Haqq, suatu hakikat datang ke dalam kalbu, menghapuskan kesusahan itu dan membuatku merelakan orang itu pula. Hakikat itu ialah sebagai berikut:
Kukatakan kepada nafsuku: Jika penghinaannya dan cacat-cacat yang ia sebutkan itu berkaitan dengan pribadi dan nafsuku; semoga Allah meridhainya, karena ia menyebutkan aib-aib nafsuku. Jika ia berkata benar, maka ia mendorongku ke arah pendidikan nafsuku dan menjadi pertolongan untuk menyelamatkanku dari kesombongan. Jika ia berkata dusta, maka ia menjadi pertolongan untuk menyelamatkanku dari riya dan dari kemasyhuran palsu yang menjadi dasar riya. Ya, aku belum berdamai dengan nafsuku. Sebab aku belum mendidiknya. Seandainya seseorang mengatakan atau menunjukkan bahwa ada seekor kalajengking di leherku atau di balik bajuku; maka yang semestinya bukanlah marah kepadanya, melainkan justru bergembira. Jika penghinaan orang itu berkaitan dengan sifatku sebagai pelayan iman dan al-Qur'an, maka hal itu bukanlah urusanku. Orang itu kuserahkan kepada Pemilik al-Qur'an yang mempekerjakanku. Dia-lah Al-'Azîz, Al-Hakîm. Jika hal itu semata-mata dari jenis mencaci, menghina, dan menjatuhkanku; maka itu pun bukanlah urusanku. Oleh karena aku adalah orang buangan, tawanan, asing, dan tangan yang terikat, maka tidaklah patut bagiku berusaha memperbaiki harga diriku dengan tanganku sendiri. Justru hal itu adalah urusan mereka yang berkuasa atas desa ini tempat aku menumpang dan yang mengawasiku, kemudian atas distrik, kemudian atas provinsi. Menghina tawanan yang berada di tangan seseorang adalah urusan si pemiliknya; dialah yang membelanya. Oleh karena hakikatnya demikian, kalbuku pun menjadi tenteram. وَاُفَوِّضُ اَمْر۪ٓى اِلَى اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ بَص۪يرٌ بِالْعِبَادِ kataku. Kejadian itu kuanggap seolah tak pernah terjadi, lalu kulupakan. Akan tetapi, sungguh disayangkan, kemudian dipahami bahwa al-Qur'an tidak menghalalkannya...