Masalah Kedelapan (Risalah Kedelapan)
Al-Maktubat · hlm. 584
Adalah "Delapan Nuktah" yang merupakan jawaban enam pertanyaan. Nuktah Pertama: tentang bahwa isyarat gaib dalam tawâfuq terdapat secara parsial dan universal di seluruh bagian Risalah Nur.
Nuktah Kedua: menerangkan rahasia mengapa keistimewaan tawâfuq tak dituntut secara luar biasa dalam Al-Qur'an selain pada Lafzul Jalâl.
Nuktah Ketiga: adalah jawaban indah bahwa kehati-hatian berlebih dan ketiadaan keberanian salah seorang saudara kami tak pada tempatnya, dan terhadap kritik dangkal seorang mufti terhadap Kelimat Kesepuluh. (Tetapi tak dimasukkan ke kumpulan ini.)
Nuktah Keempat: adalah jawaban meyakinkan dan masuk akal atas enam pertanyaan yang membangkitkan rasa penasaran: "Bagaimana manusia akan berkumpul di Padang Mahsyar, dalam keadaan telanjangkah? Dapatkah setiap orang melihat kekasih-kekasihnya? Bagaimana kita akan menemukan Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم untuk syafaat? Bagaimana Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم yang satu tokoh akan berjumpa dengan manusia yang tak terhingga? Bagaimana busana penghuni Surga dan neraka? Dan siapa yang akan menunjukkan jalan kepada kita?"
Nuktah Kelima: dalam jawaban "Apakah leluhur Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم pada masa fatrah (kekosongan risalah) menganut suatu agama?", diterangkan suatu hakikat yang indah.
Nuktah Keenam: adalah jawaban yang amat penting atas pertanyaan "Setelah Hazrat Ismail Alaihissalâm, adakah nabi yang datang dari leluhur Nabi صلى الله عليه وسلم?"
Nuktah Ketujuh: adalah jawaban yang amat penting dan masuk akal atas pertanyaan "Manakah kabar paling sahih tentang iman ayah dan ibu Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم serta kakeknya Abdul Muththalib?"
Nuktah Kedelapan: adalah jawaban indah atas pertanyaan "Apa yang paling sahih tentang iman pamannya Abu Thalib? Dapatkah ia masuk Surga?"