Risale-i NurAl-Maktubat

Nuktah Kedua

Al-Maktubat · hlm. 83

Pada suatu masa, seseorang berada di dalam sebuah penjara. Seorang anaknya yang menggemaskan dikirimkan ke sisinya. Tawanan yang malang itu, di samping menanggung deritanya sendiri, juga tersiksa oleh kesusahan anaknya karena ia tidak mampu memenuhi kenyamanan sang anak. Kemudian seorang hakim yang penuh belas kasih mengutus seseorang kepadanya, seraya berkata: "Anak ini memang benar buah hatimu, tetapi ia adalah rakyat dan wargaku. Aku akan mengambilnya dan memeliharanya di sebuah istana yang indah." Orang itu pun menangis dan meratap; katanya, "Aku tidak akan menyerahkan anakku yang menjadi sumber penghiburanku." Maka teman-temannya berkata kepadanya: "Kesedihanmu itu sia-sia belaka. Jika engkau mengasihani sang anak, ketahuilah bahwa — sebagai ganti penjara yang kotor, berbau busuk, lagi menyesakkan ini — ia akan pergi menuju sebuah istana yang lapang lagi membahagiakan. Jika engkau berduka demi dirimu sendiri dan mencari keuntunganmu, ketahuilah bahwa seandainya anak itu tinggal di sini, bersama keuntunganmu yang sementara lagi meragukan, engkau justru akan menanggung banyak kesusahan dan derita akibat kesukaran-kesukaran sang anak; sedangkan jika ia pergi ke sana, ada seribu keuntungan bagimu. Sebab, ia menjadi sebab tertariknya belas kasih sang raja, dan ia menjadi laksana pemberi syafaat bagimu. Sang raja akan berkeinginan mempertemukannya denganmu. Tentu, untuk pertemuan itu, ia tidak akan mengirim anak itu ke penjara, melainkan akan mengeluarkanmu dari penjara dan memanggilmu ke istana itu, lalu mempertemukanmu dengan sang anak — dengan syarat, jika engkau memiliki kepercayaan dan ketaatan kepada sang raja..."

Demikianlah, sebagaimana perumpamaan itu, wahai saudaraku yang mulia, tatkala anak orang-orang mukmin sepertimu wafat, hendaklah ia berpikir demikian: Anak ini suci tak berdosa, dan Khâliq-nya pun Yang Maha Rahîm lagi Maha Karîm. Sebagai ganti dari didikan dan kasih sayangku yang serba kurang, Dia telah mengambilnya ke dalam inayah serta rahmat-Nya yang sungguh sempurna. Dia telah mengeluarkannya dari penjara dunia yang penuh derita, musibah, lagi kesukaran, lalu mengirimnya ke Surga yang tertinggi. Alangkah beruntungnya anak itu! Seandainya ia tetap tinggal di dunia ini, siapa tahu akan menjadi seperti apa jadinya? Karena itulah aku tidak mengasihaninya; bahkan aku memandangnya berbahagia. Adapun mengenai keuntungan bagi diriku sendiri, aku pun tidak mengasihani diriku dan tidak berduka pilu. Sebab, seandainya ia tetap tinggal di dunia, ia hanya akan memberiku cinta seorang anak yang bercampur derita sementara selama sepuluh tahun. Andaikan ia menjadi anak yang saleh dan cakap dalam urusan dunia, mungkin ia akan menolongku. Akan tetapi, dengan wafatnya, ia menjadi laksana pemberi syafaat yang menjadi sumber cinta seorang anak bagiku selama sepuluh juta tahun di dalam surga yang abadi, sekaligus menjadi wasilah menuju kebahagiaan yang kekal. Sungguh, pasti dan pasti, orang yang kehilangan satu keuntungan yang meragukan lagi segera, tetapi memperoleh seribu keuntungan yang pasti lagi tertunda, tidak akan menampakkan duka yang menyayat, dan tidak akan meratap dalam keputusasaan.