Nuktah Kedua
Al-Maktubat · hlm. 451
Allah bersumpah dengan banyak hal dalam Al-Qur'an. Dalam sumpah Qur'ani ada nuktah yang amat besar, ada banyak rahasia.
Misalnya: sumpah pada وَالشَّمْسِ وَضُحٰيهَا mengisyaratkan asas perumpamaan megah pada Kelimat Kesebelas. Ia menunjukkan alam semesta dalam bentuk sebuah istana dan sebuah kota.
Lagi pula dengan sumpah pada يٰسٓ ❊ وَالْقُرْاٰنِ الْحَك۪يمِ, Ia memperingatkan kesucian kemukjizatan Qur'ani dan bahwa ia berada pada derajat kehormatan yang layak disumpahi. Sumpah pada وَ النَّجْمِ اِذَا هَوٰى ❊ فَلآَ اُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ❊ وَاِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظ۪يمٌ; di samping mengisyaratkan bahwa dengan jatuhnya bintang, agar tak menimbulkan keraguan pada wahyu, ia menjadi tanda terputusnya jin dan setan dari kabar gaib; dengan sumpah itu Ia memperingatkan keagungan kudrat dan kesempurnaan hikmah dalam menempatkan bintang di tempatnya dengan keagungan dahsyat dan keteraturan sempurna serta memutar planet dengan cara yang menakjubkan. Dalam sumpah pada وَالذَّارِيَاتِ ❊ وَالْمُرْسَلاَتِ; untuk memperingatkan hikmah penting dalam gelombang dan pengaturan udara, Ia menarik perhatian dengan sumpah kepada malaikat yang ditugaskan atas angin, bahwa unsur yang disangka kebetulan menunaikan hikmah yang amat halus dan tugas yang penting. Dan demikianlah... Setiap tempat memiliki nuktah dan faedah yang berbeda-beda. Karena waktu tak mengizinkan, kami hanya akan mengisyaratkan secara ringkas satu nuktah dari banyak nuktah pada sumpah وَ التّ۪ينِ وَ الزَّيْتُونِ. Yaitu:
Allah, dengan perantaraan sumpah pada tin dan zaitun, memperingatkan keagungan kudrat, kesempurnaan rahmat, dan nikmat-nikmat besar-Nya, lalu memalingkan wajah manusia yang pergi ke arah asfal safilin dari arah itu, dan mengisyaratkan bahwa ia dapat meraih kemajuan maknawi hingga a'la illiyyin dengan syukur, pikir, iman, dan amal saleh. Sebab pengkhususan tin dan zaitun di antara nikmat adalah karena kedua buah itu amat diberkahi dan bermanfaat, dan pada penciptaannya pun terdapat banyak hal yang menjadi sumber perhatian dan nikmat. Karena sebagaimana zaitun membentuk asas terbesar bagi kehidupan sosial, perdagangan, penerangan, dan gizi manusia; penciptaan buah tin — dengan menyimpan dan menyisipkan piranti pohon tin yang besar ke dalam benih sekecil zarah — menunjukkan suatu mukjizat kudrat yang luar biasa; demikian pula, dengan sumpah Ia mengingatkan nikmat Ilahi pada rasanya, manfaatnya, keawetannya yang berbeda dengan kebanyakan buah, dan manfaat lainnya. Sebagai balasannya, Ia memberi pelajaran untuk mengangkat manusia ke iman dan amal saleh serta tak menjatuhkannya ke asfal safilin.