Nuktah Pertama
Al-Maktubat · hlm. 450
Pemikiran yang diterangkan "Rahasia Al-Qur'an al-Hakîm tak diketahui, para mufasir tak memahami hakikatnya" memiliki dua wajah, dan yang mengatakannya adalah dua golongan:
Yang pertama: ahli kebenaran dan ahli penelitian. Mereka berkata: "Al-Qur'an adalah khazanah yang tak habis dan tak berkesudahan. Setiap abad, di samping menyerahkan dan menerima nash serta muhkamat-nya, mengambil pula bagiannya dari hakikat tersembunyinya sebagai pelengkap; ia tak mengusik bagian orang lain yang masih tersembunyi." Ya, artinya semakin waktu berlalu, semakin banyak hakikat Al-Qur'an al-Hakîm tersingkap. Bukan — sekali-kali dan sekali-kali tidak — meragukan hakikat lahiriah Qur'ani yang diterangkan salaf saleh. Karena mengimaninya wajib. Mereka itu nash, pasti, asas, dan fondasi. Al-Qur'an dengan firman عَرَبِىٌّ مُب۪ينٌ memberitahukan bahwa maknanya jelas. Seluruh khitab Ilahi berputar pada makna itu, menguatkannya, membawanya ke derajat kejelasan. Dari tak menerima makna-makna yang di-nash-kan itu, — sekali-kali dan sekali-kali tidak — keluar pendustaan terhadap Allah dan pelecehan terhadap pemahaman Hazret Risalah صلى الله عليه وسلم. Artinya, makna yang di-nash-kan diambil secara berantai dari sumber Risalah صلى الله عليه وسلم. Bahkan Ibnu Jarir ath-Thabari menyampaikan seluruh makna Al-Qur'an ke sumber Risalah صلى الله عليه وسلم secara berantai dengan sanad mu'an'an, dan dengan cara itu menulis tafsirnya yang penting dan besar.
Golongan kedua: entah seorang sahabat yang tak berakal — yang tatkala hendak membuat alis malah mencungkil mata — atau seorang musuh yang cerdik bagai setan yang hendak melawan hukum Islam dan hakikat imani. Ia hendak menemukan jalan masuk ke surah-surah berbenteng Al-Qur'an al-Hakîm yang — dengan ungkapanmu — berkedudukan sebagai benteng baja. Yang demikian, — sekali-kali tidak — menyebarkan perkataan jenis ini untuk menimbulkan keraguan pada hakikat imani dan Qur'ani.