Risale-i NurAl-Maktubat

Nuktah Kedua

Al-Maktubat · hlm. 471

Ini dari segi surah-surah. Ia pun memiliki banyak nuktah. Ia memiliki tawâfuq dengan cara yang menunjukkan suatu keteraturan, suatu maksud, dan suatu kehendak.

Dalam Surah al-Baqarah, bilangan ayat sama dengan bilangan Lafzul Jalâl. Selisihnya empat, karena ada empat lafaz "Huwa" menggantikan lafaz "Allah". Misalnya: "Huwa" dalam "Lâ ilâha illâ Huwa". Dengan itu kesesuaian menjadi sempurna. Dalam Âli 'Imrân pun Lafzul Jalâl bertawâfuq dengan ayatnya, keduanya setara. Hanya saja Lafzul Jalâl dua ratus sembilan, ayat dua ratus. Selisihnya sembilan. Dalam keistimewaan kalam dan nuktah balâghah semacam ini, selisih kecil tak merugikan; tawâfuq yang mendekati sudah memadai. Keseluruhan ayat dari tiga surah — an-Nisâ', al-Mâ'idah, al-An'âm — bertawâfuq dengan bilangan Lafzul Jalâl dalam keseluruhannya. Bilangan ayat empat ratus enam puluh empat, bilangan Lafzul Jalâl empat ratus enam puluh satu; bersama lafaz "Allah" dalam "Bismillah", tawâfuqnya sempurna. Dan misalnya: bilangan Lafzul Jalâl pada lima surah pertama adalah dua kali lipat bilangan Lafzul Jalâl pada Surah al-A'râf, al-Anfâl, at-Taubah, Yûnus, dan Hûd. Artinya lima surah terakhir ini adalah setengah dari lima surah sebelumnya. Bilangan Lafzul Jalâl pada surah berikutnya — Yûsuf, ar-Ra'd, Ibrâhîm, al-Hijr, an-Nahl — adalah setengah dari setengah itu. Kemudian Surah al-Isrâ', al-Kahfi, Maryam, Thâhâ, al-Anbiyâ', al-Hajj;

{(Catatan kaki): Suatu rahasia telah tersingkap atas pembagian per lima ini. Tanpa sepengetahuan kami seorang pun, di sini tercatat enam surah. Tak tersisa keraguan kami bahwa; dari gaib, di luar kehendak kami, yang keenam telah masuk; agar rahasia penting kesetengahan ini tak hilang.}

adalah setengah dari setengah dari setengah itu. Lima-lima berikutnya berjalan kira-kira dengan nisbah itu; hanya ada selisih beberapa pecahan. Selisih semacam itu tak merugikan pada maqam khithâb (kedudukan penyampaian) seperti ini. Misalnya: satu bagian seratus dua puluh satu, satu bagian seratus dua puluh lima, satu bagian seratus lima puluh empat, satu bagian seratus lima puluh sembilan. Kemudian lima surah yang mulai dari Surah az-Zukhruf; turun ke setengah dari setengah-setengah-setengah itu. Lima yang mulai dari Surah an-Najm; adalah setengah dari setengah-setengah-setengah-setengah itu; tetapi mendekati. Selisih pecahan kecil tak merugikan pada maqam-maqam khithâb seperti ini. Kemudian di antara lima-lima kecil berikutnya, tiga kelompok lima hanya memiliki tiga Lafzul Jalâl masing-masing. Keadaan ini menunjukkan bahwa: pada bilangan Lafzul Jalâl tak tercampur kebetulan, bilangannya ditetapkan dengan suatu hikmah dan keteraturan.