Nuktah Keempat
Al-Maktubat · hlm. 357
Ungkapan "Ia melihat Allah di balik tujuh puluh ribu tabir" menyatakan jarak tempat. Padahal Wâjib al-Wujûd tersucikan dari tempat, Ia lebih dekat kepada segala sesuatu daripada segala sesuatu. Apa maksudnya ini?
Jawaban: Pada Kelimat Ketiga Puluh Satu, hakikat itu telah diterangkan secara terperinci dengan bukti-bukti. Di sini kami hanya berkata sedemikian:
Allah amat dekat kepada kita, kita amat jauh dari-Nya. Sebagaimana Matahari amat dekat kepada kita melalui cermin di tangan kita, dan setiap benda bening di bumi menjadi semacam arasy dan kediaman baginya. Seandainya Matahari memiliki kesadaran, ia akan berbincang dengan kita melalui cermin kita. Namun kita berjarak empat ribu tahun darinya. Tanpa penyerupaan dan perumpamaan; Matahari Azali lebih dekat kepada segala sesuatu daripada segala sesuatu. Karena Ia Wâjib al-Wujûd, tersucikan dari tempat. Tak ada sesuatu pun yang dapat menjadi tabir bagi-Nya. Namun segala sesuatu amat jauh dari-Nya hingga derajat tak terhingga.
Maka dengan jarak panjang Mi'raj, beserta rahasia ketiadaan-jarak yang diungkapkan وَ نَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَر۪يدِ; dan dalam kepergian Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم — melintasi jarak yang jauh lalu kembali ke tempatnya dalam satu saat — rahasianya berasal dari sini. Mi'raj Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم adalah perjalanan suluknya, gelar wilayahnya. Sebagaimana ahli wilayah, dengan perjalanan suluk ruhani, naik dengan suatu kemajuan dari empat puluh hari hingga empat puluh tahun ke derajat haqqul-yaqin dari derajat iman.
Demikian pula: Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, sultan seluruh wali; bukan hanya dengan kalbu dan ruhnya, melainkan dengan jasadnya, indranya, dan latifah-latifahnya, dalam empat puluh menit sebagai ganti empat puluh tahun, dengan Mi'raj yang merupakan karamah terbesar wilayahnya, membuka suatu jalan raya besar, pergi ke martabat tertinggi hakikat iman, naik ke Arasy dengan tangga Mi'raj, pada maqam "Qâba Qausain" menyaksikan dengan mata ainul-yaqin hakikat iman terbesar, yaitu Iman kepada Allah dan Iman kepada Akhirat, masuk ke surga, melihat kebahagiaan abadi, membiarkan terbuka jalan raya besar yang ia buka dengan pintu Mi'raj itu; seluruh wali umatnya, dengan perjalanan suluk sesuai derajat mereka, pergi secara ruhani dan kalbi di dalam naungan Mi'raj itu.