Risale-i NurAl-Maktubat

Nuktah Ketiga

Al-Maktubat · hlm. 356

Peristiwa dalam Mi'rajiyah tak dapat mengungkapkan hakikat suci lagi bersih itu dengan makna yang kita ketahui. Melainkan perbincangan itu adalah masing-masing gelar perenungan, sarana tafakur, isyarat kepada hakikat luhur lagi dalam, peringatan bagi sebagian hakikat iman, dan kiasan bagi sebagian makna yang tak dapat diungkapkan. Bukan suatu peristiwa dengan makna yang kita ketahui. Kita tak dapat mengambil hakikat itu dari perbincangan itu dengan khayal kita; melainkan dengan kalbu kita, kita dapat memperoleh suatu cita rasa imani yang menggetarkan dan suatu kesukaan ruhani yang bercahaya. Karena sebagaimana Allah tak memiliki tandingan, serupa, dan misal dalam Zat serta sifat-Nya; demikian pula tak ada misal dalam urusan rububiyah-Nya. Sebagaimana sifat-Nya tak menyerupai sifat makhluk, kecintaan-Nya pun tak menyerupai. Jika demikian, kami mengambil ungkapan-ungkapan ini sebagai jenis mutasyabihat, dan berkata: pada Zat Wâjib al-Wujûd terdapat sebagian urusan — seperti kecintaan — dengan cara yang layak bagi kewajiban wujud dan kesucian-Nya, serta sesuai dengan kemahakayaan zati dan kesempurnaan mutlak-Nya; yang diingatkan oleh peristiwa Mi'rajiyah. Kelimat Ketiga Puluh Satu tentang Mi'raj Nabi telah menjelaskan hakikat Mi'raj dalam lingkup usul iman. Dengan mencukupkan diri padanya, kami meringkas di sini.