Nuktah Kedua
Al-Maktubat · hlm. 354
Salah satu peristiwa dalam Mi'raj Nabi: kecintaan tersucikan Allah kepada Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم diungkapkan dengan kalimat "Aku telah jatuh cinta kepadamu." Ungkapan ini, secara makna lazim, tak sesuai dengan kesucian Wâjib al-Wujûd dan kemahakayaan zati-Nya. Karena Maulid Süleyman Efendi, dengan dalil diterimanya secara luas oleh khalayak, tokoh itu ahli wilayah dan ahli hakikat, tentu makna yang ia tunjukkan benar. Maknanya adalah:
Zat Wâjib al-Wujûd memiliki keindahan dan kesempurnaan yang tak terhingga. Karena seluruh jenis keindahan dan kesempurnaan — yang terbagi ke seluruh bagian alam semesta — adalah tanda, isyarat, dan ayat keindahan serta kesempurnaan-Nya. Maka bagaimanapun, sebagaimana pemilik keindahan dan kesempurnaan tentu mencintai keindahan serta kesempurnaannya, Zat Dzul-Jalâl pun amat mencintai keindahan-Nya. Ia mencintainya dengan kecintaan yang layak bagi diri-Nya. Ia pun mencintai asma-Nya yang merupakan pancaran keindahan-Nya. Karena Ia mencintai asma-Nya, tentu Ia mencintai seni-Nya yang menunjukkan keindahan asma-Nya. Jika demikian, Ia mencintai pula makhluk-Nya yang menjadi cermin bagi keindahan dan kesempurnaan-Nya. Karena Ia mencintai yang menunjukkan keindahan dan kesempurnaan-Nya, tentu Ia mencintai kebaikan makhluk-Nya yang mengisyaratkan keindahan dan kesempurnaan asma-Nya. Kepada lima macam kecintaan ini, Al-Qur'an al-Hakîm mengisyaratkan dengan ayat-ayatnya.
Maka Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, karena ia individu paling sempurna di antara makhluk dan pribadi paling istimewa di antara makhluk:
Ia mempertontonkan dan mengagumi seni Ilahi dengan gemuruh zikir dan tasbih.
Ia telah membuka khazanah keindahan dan kesempurnaan dalam asma Ilahi dengan lisan Al-Qur'an.
Ia menerangkan petunjuk ayat-ayat penciptaan alam semesta atas kesempurnaan Pembuatnya, dengan cara yang cemerlang dan pasti melalui lisan Al-Qur'an.
Ia menjadi cermin bagi rububiyah Ilahi dengan ubudiyahnya yang menyeluruh. Dan dengan kemenyeluruhan mahiyahnya, ia menjadi wadah paling sempurna bagi seluruh asma Ilahi.
Tentu karena inilah dapat dikatakan: Sang Jamîl Dzul-Jalâl, dengan mencintai keindahan-Nya, mencintai Muhammad al-Arabî صلى الله عليه وسلم yang merupakan cermin berkesadaran paling sempurna bagi keindahan itu.
Dan dengan mencintai asma-Nya, Ia mencintai Muhammad al-Arabî صلى الله عليه وسلم yang merupakan cermin paling cemerlang bagi asma itu, dan mencintai pula orang-orang yang menyerupai Muhammad al-Arabî صلى الله عليه وسلم sesuai derajat mereka.
Dan karena Ia mencintai seni-Nya, tentu Ia mencintai Muhammad al-Arabî صلى الله عليه وسلم yang menyebarkan seni-Nya ke seluruh alam semesta dengan suara tertinggi, mendengungkan telinga langit, dan mengumumkannya dengan gemuruh zikir dan tasbih yang menarik daratan dan lautan ke dalam ekstase; dan Ia mencintai pula orang-orang yang mengikutinya.
Dan karena Ia mencintai makhluk-Nya, tentu Ia lebih mencintai yang hidup — yang paling sempurna dari makhluk itu — dan yang berkesadaran — yang paling sempurna dari yang hidup — dan manusia — yang paling utama dari yang berkesadaran — dan Muhammad al-Arabî صلى الله عليه وسلم — yang dengan sepakat paling sempurna dari manusia.
Dan karena Ia mencintai kebaikan akhlak makhluk-Nya, Ia mencintai Muhammad al-Arabî صلى الله عليه وسلم yang dengan sepakat berada pada martabat tertinggi dalam kebaikan akhlak, dan mencintai pula orang-orang yang menyerupainya sesuai derajat. Artinya, kecintaan Allah — seperti rahmat-Nya — telah meliputi alam semesta.
Maka pada setiap segi dari lima segi tersebut di antara para kekasih yang tak terhingga itu, maqam tertinggi khusus bagi Muhammad al-Arabî صلى الله عليه وسلم, sehingga gelar "Habîbullah" diberikan kepadanya.
Maka maqam kecintaan tertinggi ini diungkapkan Süleyman Efendi dengan kalimat "Aku telah jatuh cinta kepadamu." Ungkapan ini adalah suatu sarana tafakur, suatu isyarat dari kejauhan kepada hakikat ini. Namun demikian, karena ungkapan ini membawa ke khayal makna yang tak sesuai dengan urusan rububiyah; yang terbaik, sebagai ganti ungkapan ini hendaknya dikatakan: "Aku telah rida kepadamu."