Risale-i NurAl-Maktubat

Nuktah Pertama

Al-Maktubat · hlm. 353

Tentang Buraq yang didatangkan dari surga, penulis Maulid, Süleyman Efendi, menuturkan suatu kisah cinta yang mengharukan. Karena tokoh itu ahli wilayah dan membangun tuturannya di atas riwayat, tentu ia mengungkapkan suatu hakikat dengan cara itu.

Hakikatnya semestinya demikian: makhluk alam kekekalan amat berkaitan dengan cahaya Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Karena dengan cahaya yang dibawanya itulah surga dan negeri akhirat akan meriah dengan jin dan manusia. Seandainya ia tak ada, kebahagiaan abadi itu tak akan ada, dan jin serta manusia — yang siap memanfaatkan setiap jenis makhluk surga — tak akan meramaikan surga; dari satu segi ia akan tinggal sebagai reruntuhan tak bertuan. Sebagaimana diterangkan pada Cabang Keempat dari Kelimat Kedua Puluh Empat: sebagaimana kisah cinta bulbul terhadap mawar; untuk mengumumkan kebutuhan cinta yang menggebu dari golongan hewan terhadap golongan tumbuhan — yang mencapai derajat cinta — kepada kafilah tumbuhan yang datang dari khazanah rahmat dan mengangkut rezeki hewan, dipilihlah sebagai khatib rabbani, di puncaknya bulbul-mawar dan dari setiap jenis sejenis bulbul; dan nyanyian mereka pun adalah suatu sambutan indah yang bertasbih di puncak tumbuhan yang terindah, semacam ucapan selamat datang, suatu tepuk sorak.

Persis seperti ini: terhadap Zat Muhammad al-Arabî صلى الله عليه وسلم — yang menjadi sebab penciptaan falak, sarana kebahagiaan dua negeri, dan Kekasih Rabbul-Âlamîn — sebagaimana dari jenis malaikat, Malaikat Jibrîl Alaihissalâm berkhidmat dengan kecintaan yang sempurna, dan menunjukkan ketundukan serta ketaatan malaikat kepada Nabi Adam Alaihissalâm beserta rahasia sujud itu; demikian pula keterikatan ahli surga — bahkan bagian hewan surga sekalipun — kepada tokoh itu diungkapkan dengan perasaan cinta Buraq yang ia tunggangi.