Nuktah Keempat
Al-Maktubat · hlm. 529
Sebagian tokoh dari golongan ahli kesesatan dan bidah diterima dalam pandangan umat. Ada pula tokoh-tokoh yang persis seperti mereka; padahal tak ada perbedaan lahiriah sama sekali, namun umat menolaknya. Aku heran akan hal ini. Misalnya: seperti az-Zamakhsyari dalam mazhab Mu'tazilah — padahal ia individu paling fanatik dalam I'tizal — para muhaqqiq Ahlus Sunnah tak mengafirkan dan menyesatkannya menghadapi keberatan-keberatannya yang keras itu, melainkan mereka mencari suatu jalan keselamatan baginya. Sementara para imam Mu'tazilah seperti Abu Ali al-Jubbâ'î yang jauh lebih rendah dari derajat kekerasan az-Zamakhsyari, mereka anggap tertolak dan terusir. Lama rahasia ini mengusik rasa penasaranku. Kemudian dengan karunia Ilahi aku memahami bahwa: keberatan az-Zamakhsyari terhadap Ahlus Sunnah berasal dari cinta kebenaran dalam jalan yang ia sangka hak. Yakni, misalnya: penyucian hakiki (tanzih); dalam pandangannya, terwujud dengan hewan menjadi pencipta perbuatannya sendiri. Karena itu, dari cinta menyucikan Allah, ia tak menerima dustur Ahlus Sunnah dalam persoalan penciptaan perbuatan. Adapun para imam Mu'tazilah lain yang tertolak, mereka tertolak karena — bukan dari cinta kebenaran, melainkan karena akal pendek mereka tak mencapai dustur luhur Ahlus Sunnah dan kaidah luas Ahlus Sunnah tak muat di pikiran sempit mereka — mereka mengingkarinya. Persis seperti penyimpangan Ahli I'tizal terhadap Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam Ilmu Kalam ini, penyimpangan sebagian ahli tarekat di luar Sunnah yang Mulia pun terjadi dari dua sisi:
Yang satu: seperti az-Zamakhsyari; dari sisi terpikat pada keadaan dan masyrabnya, ia bersikap agak acuh terhadap adab syariat yang belum ia capai derajat cita rasanya.
Adapun bagian yang lain: hâsyâ (mahasuci Allah dari itu), ia memandang adab syariat tak berarti dibandingkan dustur tarekat. Karena daya tampungnya yang sempit tak dapat meliputi cita rasa yang luas itu, dan maqamnya yang pendek tak mencapai adab yang tinggi itu.