Risale-i NurAl-Maktubat

Nuktah Kelima

Al-Maktubat · hlm. 85

Kasih sayang — yang termasuk penampakan rahmat Ilahi yang paling halus, paling indah, paling menyenangkan, lagi paling manis — adalah sebuah iksir yang bercahaya. Ia jauh lebih tajam daripada cinta yang membara. Dengan cepat ia menjadi wasilah untuk sampai kepada Allah. Sebagaimana cinta majazi dan cinta duniawi, dengan melewati amat banyak kesulitan, berubah menjadi cinta hakiki dan menemukan Allah; demikian pula kasih sayang — tetapi tanpa kesulitan — mengikat hati kepada Allah dengan cara yang lebih ringkas lagi lebih murni. Baik ayah maupun ibu mencintai buah hatinya bagai mencintai seluruh dunia. Tatkala buah hatinya diambil dari tangannya, jika ia berbahagia, jika ia benar-benar ahli iman, ia memalingkan wajahnya dari dunia dan menemukan Sang Pemberi Nikmat Yang Hakiki. Ia berkata: "Karena dunia ini fana, ia tidak layak untuk dipertautkan dengan hati..." Ia pun menumbuhkan pertautan hati ke arah ke mana pun buah hatinya telah pergi, dan memperoleh suatu keadaan maknawi yang agung.

Ahli kelalaian dan kesesatan terhalang dari kebahagiaan dan kabar gembira yang terkandung dalam lima hakikat ini. Betapa pedih keadaan mereka, dapat engkau kiaskan dengan ini: Seorang perempuan tua menyaksikan satu-satunya anaknya yang menggemaskan lagi sangat ia cintai tengah berada dalam sakratulmaut; oleh karena — akibat kelalaian atau kesesatan, menurut anggapan keliru tentang keabadian dunia — ia membayangkan kematian sebagai ketiadaan dan perpisahan yang abadi; oleh karena, sebagai ganti dari kasurnya yang empuk, ia justru terbayang tanah kubur; dan oleh karena, disebabkan kelalaian atau kesesatan, ia tidak memikirkan Surga rahmat dan surga nikmat dari Sang Arhamurrâhimîn — Yang Maha Penyayang di antara para penyayang — maka dapatlah engkau kiaskan betapa dahsyat duka dan derita penuh keputusasaan yang ia rasakan. Akan tetapi, iman dan Islam, yang menjadi wasilah kebahagiaan dua negeri, berkata kepada orang mukmin: Sang Khâliq Yang Rahîm dari anak yang tengah menghadapi sakratulmaut itu akan mengeluarkannya dari dunia yang fana ini dan membawanya ke surga-Nya. Dia akan menjadikannya bagimu sebagai pemberi syafaat sekaligus anak yang abadi. Perpisahan ini hanya sementara, janganlah engkau risau; ucapkanlah اَلْحُكْمُ لِلّٰهِ ❊ اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُونَ, dan bersabarlah. اَلْبَاق۪ى هُوَ الْبَاق۪ى

Said Nursî