Nuktah Kesembilan
Al-Maktubat · hlm. 467
Salah satu hikmah puasa Ramadan yang mulia — dari segi secara langsung mematahkan rububiyah khayali nafsu dan memberitahukan ubudiyahnya dengan menunjukkan ketakberdayaannya — adalah ini:
Nafsu tak ingin mengenal Rabb-nya, ia menghasratkan rububiyah bagi dirinya sendiri secara firauni. Betapa pun azab ditimpakan kepadanya, urat itu tetap ada padanya. Namun dengan lapar urat itu patah. Maka puasa di Ramadan yang mulia secara langsung memukul dan mematahkan sisi kefiraunan nafsu. Ia menunjukkan ketakberdayaan, kelemahan, dan kefakirannya. Ia memberitahukan bahwa ia seorang hamba.
Dalam riwayat hadis disebutkan: Allah berfirman kepada nafsu: "Aku ini apa, engkau ini apa?" Nafsu menjawab: "Aku adalah aku, Engkau adalah Engkau!" Ia diberi azab, dilemparkan ke neraka, lalu ditanya lagi. Ia tetap menjawab: "Ana ana, anta anta (aku aku, engkau engkau)." Azab jenis apa pun diberikan, ia tak melepaskan keakuannya. Kemudian ia diberi azab dengan lapar, yakni dibiarkan lapar. Ditanya lagi: "Man ana wa mâ anta? (Siapa aku dan apa engkau?)" Nafsu menjawab: اَنْتَ رَبِّى الرَّحِيمُ ❊ وَاَنَا عَبْدُكَ الْعَاجِزُ Yakni: "Engkau adalah Rabb-ku Yang Maha Pengasih, aku hamba-Mu yang tak berdaya."
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تَكُونُ لَكَ رِضَٓاءً وَ لِحَقِّهِ اَدَٓاءً بِعَدَدِ ثَوَابِ قِرَائَةِ حُرُوفِ الْقُرْاٰنِ ف۪ى شَهْرِ رَمَضَانَ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ وَ سَلِّمْسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ❊ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَل۪ينَ ❊ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ ❊ اٰم۪ينَ