Risale-i NurAl-Maktubat

Nuktah Kedelapan

Al-Maktubat · hlm. 466

Puasa Ramadan yang mulia, dari segi memandang kehidupan pribadi manusia, salah satu dari banyak hikmahnya adalah ini:

Ia adalah suatu perhentian material dan maknawi bagi manusia dari jenis obat terpenting, dan suatu diet secara medis: tatkala nafsu manusia bertindak sesuka hati dalam hal makan-minum, sebagaimana ia merugikan kehidupan material seseorang secara medis; menyerbu sembarang hal tanpa membedakan halal-haram pun seakan meracuni kehidupan maknawinya. Lebih sukar bagi nafsu itu untuk taat kepada kalbu dan ruh. Ia mengambil kendalinya dengan pembangkang. Manusia tak dapat menungganginya lagi, ia yang menunggangi manusia. Di Ramadan yang mulia, dengan perantaraan puasa ia terbiasa dengan semacam perhentian; ia berupaya riyadhah dan belajar mendengar perintah. Ia pun tak mendatangkan penyakit dengan mengisi lambung lemah yang tak berdaya dengan makanan sebelum pencernaan. Dan dari segi meninggalkan yang halal dengan perantaraan perintah, ia memperoleh kemampuan untuk mendengar perintah akal dan syariat demi menjauhi yang haram. Ia berupaya tak merusak kehidupan maknawi.

Lagi pula mayoritas mutlak manusia sering kali terjangkit kelaparan. Kelaparan yang memberi latihan bagi kesabaran dan ketahanan membutuhkan riyadhah. Puasa di Ramadan yang mulia adalah suatu kesabaran, ketahanan, riyadhah, dan latihan atas masa lapar yang berlangsung lima belas jam, dan jika tanpa sahur dua puluh empat jam. Artinya, salah satu obat bagi ketidaksabaran dan ketidaktahanan yang melipatgandakan musibah manusia pun adalah puasa.

Lagi pula pabrik lambung itu memiliki banyak pelayan. Dan ada banyak piranti manusiawi yang berkaitan dengannya. Jika nafsu tak menghentikan pekerjaan pada siang hari selama sebulan yang bersifat sementara; ia membuat para pelayan pabrik itu dan piranti-piranti itu melupakan ibadah khusus mereka, menyibukkan mereka dengan dirinya, dan membiarkan mereka di bawah penindasannya. Ia pun mengeruhkan piranti manusiawi lain dengan gemuruh dan asap roda-roda pabrik maknawi itu. Ia senantiasa menarik perhatian mereka kepada dirinya. Untuk sementara ia membuat mereka melupakan tugas-tugas luhur mereka. Karena itulah sejak dahulu banyak ahli wilayah, demi penyempurnaan diri, membiasakan diri pada riyadhah, sedikit makan dan minum. Namun dengan puasa Ramadan yang mulia, para pelayan pabrik itu memahami bahwa mereka tak diciptakan semata untuk pabrik itu. Dan piranti-piranti lain, sebagai ganti hiburan rendah pabrik itu, di Ramadan yang mulia menikmati hiburan yang bersifat malaikat dan ruhani, lalu menujukan pandangan mereka kepadanya. Karena itulah di Ramadan yang mulia kaum mukmin, sesuai derajatnya, meraih cahaya, limpahan karunia, dan kegembiraan maknawi yang berbeda-beda. Lataif (daya-daya halus rohani) seperti kalbu, ruh, akal, dan sir — pada bulan yang diberkahi itu, dengan perantaraan puasa, memiliki banyak peningkatan dan limpahan. Sekalipun lambung menangis, mereka tersenyum polos.