Risale-i NurAl-Maktubat

Nuktah Ketujuh

Al-Maktubat · hlm. 464

Puasa Ramadan, dari segi memandang perolehan jenis manusia yang datang ke dunia untuk bertani dan berdagang bagi akhirat, salah satu dari banyak hikmahnya adalah ini: di Ramadan yang mulia pahala amal berlipat seribu. Dengan nash hadis, setiap huruf Al-Qur'an al-Hakîm memiliki sepuluh pahala; dihitung sepuluh kebaikan, membawa sepuluh buah surga. Di Ramadan yang mulia, setiap huruf bukan sepuluh melainkan seribu, dan setiap huruf ayat seperti Ayat Kursi ribuan, dan pada hari Jumat Ramadan lebih banyak lagi. Dan pada Lailatul Qadar dihitung tiga puluh ribu kebaikan. Ya, Al-Qur'an al-Hakîm yang setiap hurufnya memberi tiga puluh ribu buah kekal, berkedudukan sebagai suatu pohon Tuba bercahaya yang memberikan jutaan buah kekal itu kepada kaum mukmin di Ramadan yang mulia. Maka mari, pandanglah perniagaan suci, abadi, dan menguntungkan ini, saksikan dan pikirkan: pahamilah betapa tak terhingga kerugian mereka yang tak menghargai nilai huruf-huruf ini!

Maka Ramadan yang mulia seakan sebuah pameran dan pasar yang amat menguntungkan bagi perniagaan akhirat. Dan ia adalah tanah yang amat subur bagi hasil ukhrawi. Dan ia adalah bulan April di musim semi bagi pertumbuhan amal. Ia berkedudukan sebagai suatu hari raya suci yang paling cemerlang bagi pawai ubudiyah manusia menghadapi kesultanan rububiyah Ilahi. Dan karena demikian, ia diwajibkan berpuasa supaya tak masuk ke kebutuhan hewani nafsu yang lalai seperti makan-minum, dan ke syahwat sia-sia lagi penuh hawa nafsu. Seolah untuk sementara keluar dari kehewanan dan masuk ke keadaan malaikat atau ke perniagaan akhirat, dengan meninggalkan sementara kebutuhan duniawi, ia masuk ke keadaan seorang ukhrawi dan ruh yang tampak berwujud jasad; dengan puasanya, ia menjadi semacam cermin bagi Shamadiyah. Ya, Ramadan yang mulia, di dunia fana ini, di dalam umur fana dan hidup yang singkat, mengandung dan menghasilkan suatu umur kekal dan kehidupan kekal yang panjang.

Ya, satu Ramadan saja dapat menghasilkan buah umur delapan puluh tahun. Adapun Lailatul Qadar, dengan nash Al-Qur'an lebih baik daripada seribu bulan, adalah suatu hujah pasti bagi rahasia ini. Ya, sebagaimana seorang raja, dalam masa kesultanannya, bahkan mungkin setiap tahun, menjadikan sebagian hari sebagai hari raya, entah dengan nama penobatan atau dengan nama manifestasi kesultanannya yang megah lainnya. Pada hari itu ia menjadikan rakyatnya meraih — bukan dalam lingkup hukum umum — melainkan pemberian khususnya, kehadiran tanpa tabir, kasih khusus, tindakan luar biasa, dan perhatian khusus secara langsung kepada bangsanya yang layak dan setia. Demikian pula: Sang Raja Dzul-Jalâl dari dua puluh delapan ribu alam, Sultan Azali dan Abadi, menurunkan Al-Qur'an al-Hakîm — firman mahaagung-Nya yang memandang dan tertuju kepada dua puluh delapan ribu alam itu — di Ramadan yang mulia. Tentu Ramadan itu berkedudukan sebagai suatu hari raya Ilahi khusus, pameran rabbani, dan majelis ruhani — ini tuntutan hikmah. Karena Ramadan adalah hari raya itu; tentu untuk menarik manusia sampai derajat tertentu dari kesibukan rendah dan hewani, ia diperintahkan berpuasa. Dan puasa yang paling sempurna adalah: membuat seluruh indra — seperti mata, telinga, kalbu, khayal, dan pikiran, yang merupakan piranti manusia — berpuasa pula seperti lambung. Yakni: menariknya dari yang diharamkan dan yang sia-sia, dan menggiring masing-masing ke ubudiyah khususnya. Misalnya: membuat lidah berpuasa dengan menjauhkannya dari dusta, gibah, dan ungkapan kasar. Dan menyibukkan lidah itu dengan hal seperti tilawah Al-Qur'an, zikir, tasbih, salawat, dan istigfar... Misalnya: mencegah mata dari memandang yang bukan mahram dan telinga dari mendengar hal buruk, lalu memakai mata untuk ibrah dan telinga untuk mendengar perkataan benar dan Al-Qur'an — demikian membuat piranti lain pun berpuasa. Karena lambung adalah pabrik terbesar, jika dengan puasa ia dihentikan dari pekerjaan, bengkel-bengkel kecil lain dapat dengan mudah mengikutinya.