Risale-i NurAl-Maktubat

Nuktah Ketiga

Al-Maktubat · hlm. 219

Suatu ketika, untuk suatu ringkasan-terringkas dari hakikat Al-Qur'an yang menampakkan mukjizat penuturan, Allah mengaruniakan ke dalam kalbuku sebuah tafakur hakiki dengan ungkapan berbahasa Arab. Kini akan kami tuliskan tafakur itu sebagaimana adanya dalam bahasa Arab, lalu kami terangkan maknanya. Inilah:

سُبْحَانَ مَنْ شَهِدَ عَلٰى وَحْدَانِيَّتِه۪ وَصَرَّحَ بِاَوْصَافِ جَمَالِه۪ وَجَلاَلِه۪ وَكَمَالِهِ اَلْقُرْاٰنُ الْحَك۪يمُ الْمُنَوَّرُ جِهَاتُهُ السِّتُّ اَلْحَاو۪ى لِسِرِّ اِجْمَاعِ كُلِّ كُتُبِ اْلاَنْبِيَٓاءِ وَاْلاَوْلِيَٓاءِ وَالْمُوَحِّد۪ينَ الْمُخْتَلِف۪ينَ فِى اْلاَعْصَارِ وَالْمَشَارِبِ وَالْمَسَالِكِ الْمُتَّفِق۪ينَ بِقُلُوبِهِمْ وَعُقُولِهِمْ عَلٰى تَصْد۪يقِ اَسَاسَاتِ الْقُرْاٰنِ وَكُلِّيَّاتِ اَحْكَامِه۪ عَلٰى وَجْهِ اْلاِجْمَالِ وَهُوَ مَحْضُ الْوَحْىِ بِاِجْمَاعِ الْمُنْزِلِ وَالْمُنْزَلِ وَالْمُنْزَلِ عَلَيْهِ وَعَيْنُ الْهِدَايَةِ بِالْبَدَاهَةِ وَمَعْدَنُ اَنْوَارِ اْلا۪يمَانِ بِالضَّرُورَةِ وَمَجْمَعُ الْحَقَٓائِقِ بِالْيَق۪ينِ وَمُوصِلٌ اِلَى السَّعَادَةِ بِالْعَيَانِ وَذُو اْلاَثْمَارِ الْكَامِل۪ينَ بِالْمُشَاهَدَةِ وَمَقْبُولُ الْمَلَكِ وَاْلاِنْسِ وَالْجَانِّ بِالْحَدْسِ الصَّادِقِ مِنْ تَفَار۪يقِ اْلاَمَارَاتِ وَالْمُؤَيَّدُ بِالدَّلآَئِلِ الْعَقْلِيَّةِ بِاِتِّفَاقِ الْعُقَلآَءِ الْكَامِل۪ينَ وَالْمُصَدَّقُ مِنْ جِهَةِ الْفِطْرَةِ السَّل۪يمَةِ بِشَهَادَةِ اِطْمِئْنَانِ الْوِجْدَانِ وَالْمُعْجِزَةُ اْلاَبَدِيَّةُ الْبَاق۪ى وَجْهُ اِعْجَازِه۪ عَلٰى مَرِّ الزَّمَانِ بِالْمُشَاهَدَةِ وَالْمُنْبَسِطُ دَائِرَةُ اِرْشَادِه۪ مِنَ اْلَمَـَلاِ اْلاَعْلٰٓى اِلٰى مَكْتَبِ الصِّبْيَانِ يَسْتَف۪يدُ مِنْ عَيْنِ دَرْسٍ اَلْمَلٰٓئِكَةُ مَعَ الصَّبِيّ۪ينَ وَ كَذَا هُوَ ذُو الْبَصَرِ الْمُطْلَقِ يَرَى اْلاَشْيَٓاءَ بِكَمَالِ الْوُضُوحِ وَالظُّهُورِ وَيُح۪يطُ بِهَا وَيُقَلِّبُ الْعَالَمَ فِى يَدِه۪ وَيُعَرِّفُهُ لَنَا كَمَا يُقَلِّبُ صَانِعُ السَّاعَةِ السَّاعَةَ ف۪ى كَفِّه۪ وَيُعَرِّفُهَا لِلنَّاسِ فَهٰذَا الْقُرْاٰنُ الْعَظ۪يمُ الشَّانِ هُوَ الَّذ۪ى يَقُولُ مُكَرَّرًا اَللّٰهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ فَاعْلَمْ اَنَّهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ

Nah, terjemahan dan makna tafakur Arab ini ialah: keenam sisi Al-Qur'an yang menampakkan mukjizat penuturan itu gemilang dan bercahaya. Waham dan syubhat tak dapat masuk ke dalamnya. Sebab punggungnya bersandar pada Arasy; pada sisi itu ada cahaya wahyu. Di hadapan dan sasarannya ada kebahagiaan dua negeri. Ia telah mengulurkan tangan ke keabadian dan akhirat; ada cahaya surga dan kebahagiaan. Di atasnya bersinar cap kemukjizatan. Di bawahnya ada tiang-tiang bukti dan dalil. Bagian dalamnya adalah hidayah yang murni. Kanannya, dengan اَفَلاَ يَعْقِلُونَ, membuat akal berkata "Engkau benar" melalui penyelidikan. Kirinya, dengan memberi kalbu zauk ruhani, membuat nurani bersaksi lalu mengucap "Bârakallah" — maka dari sudut mana, dari sisi mana, pencuri waham dan syubhat dapat masuk ke dalam Al-Qur'an yang menampakkan mukjizat penuturan ini?

Ya, Al-Qur'an yang menampakkan mukjizat penuturan menghimpun rahasia ijmak dari kitab-kitab para nabi, wali, dan ahli tauhid yang berbeda abad, masyrab, dan jalannya. Yakni, seluruh ahli kalbu dan akal itu, dalam bentuk membenarkan hukum dan asas ringkas Al-Qur'an Yang Mahabijaksana, telah menyebutkan dan menerima asas-asas itu dalam kitab mereka. Berarti mereka laksana akar bagi pohon samawi Al-Qur'an. Dan Al-Qur'an Yang Mahabijaksana bersandar pada wahyu dan ia adalah wahyu. Sebab Zat Dzul-Jalâl yang menurunkan Al-Qur'an, dengan mukjizat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم, menunjukkan dan membuktikan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu. Dan Al-Qur'an yang diturunkan pun, dengan kemukjizatan di atasnya, menunjukkan bahwa ia datang dari Arasy. Dan sosok yang kepadanya ia diturunkan, Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, kegugupannya pada awal wahyu, keadaannya yang seakan hilang kesadaran saat turunnya wahyu, serta keikhlasan dan penghormatannya kepada Al-Qur'an melebihi siapa pun, menunjukkan bahwa: ia adalah wahyu yang datang dari azali, lalu bertamu kepadanya.

Dan Al-Qur'an itu dengan sendirinya adalah hidayah yang murni. Sebab lawannya, dengan mata kepala, adalah kesesatan kekufuran. Dan secara niscaya Al-Qur'an adalah tambang cahaya-cahaya iman. Sudah pasti kebalikan cahaya iman adalah kegelapan. Pada banyak Kalimat telah kami buktikan ini secara pasti.

Dan Al-Qur'an dengan yakin adalah kumpulan hakikat. Khayalan dan khurafat tak dapat masuk ke dalamnya. Dengan kesaksian alam keislaman hakiki yang ia bentuk, syariat asasi yang ia tampakkan, dan kesempurnaan luhur yang ia tunjukkan, ia membuktikan bahwa pada pembahasannya tentang alam gaib pun — seperti pembahasannya tentang alam kesaksian — ia adalah hakikat itu sendiri, dan bahwa di dalamnya tak ada pertentangan.

Dan Al-Qur'an dengan nyata lagi tanpa ragu menyampaikan kepada kebahagiaan dua negeri, dan menggiring manusia kepadanya. Siapa yang punya keraguan, sekali saja bacalah dan simaklah Al-Qur'an, apa yang ia katakan? Dan buah yang diberikan Al-Qur'an sempurna sekaligus hidup. Kalau begitu, akar pohon Al-Qur'an berada pada hakikat, dan ia hidup. Sebab hidupnya buah menunjukkan hidupnya pohon. Nah, lihatlah; pada setiap abad ia memberikan buah hidup lagi bercahaya yang sempurna lagi kamil seperti para asfiya dan wali.

Dan dengan sebuah firasat dan keyakinan yang lahir dari tak terhingga tanda yang beragam, Al-Qur'an diterima dan disenangi oleh manusia, jin, dan malaikat; sehingga tatkala ia dibaca, mereka berkumpul dengan rindu di sekitarnya laksana laron.

Dan Al-Qur'an, beserta ia adalah wahyu, dikukuhkan dan diperkuat dengan dalil-dalil akal. Ya, kesepakatan para cendekiawan yang kamil menjadi saksi atasnya. Mula-mula para allamah ulama ilmu Kalam, serta para jenius filsafat seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd, secara sepakat telah membuktikan asas-asas Al-Qur'an dengan kaidah dan dalil mereka. Dan Al-Qur'an, dari sisi fitrah yang lurus, dibenarkan. Jika tak ada gangguan dan penyakit, setiap fitrah yang lurus membenarkannya. Sebab ketenteraman nurani dan ketenangan kalbu terjadi dengan cahaya-cahayanya. Berarti fitrah yang lurus, dengan kesaksian ketenteraman nurani, membenarkannya. Ya, fitrah berkata kepada Al-Qur'an dengan bahasa keadaannya: "Kesempurnaan fitrah kami tak mungkin tanpamu!" Hakikat ini telah kami buktikan di banyak tempat.

Dan Al-Qur'an, dengan mata kepala lagi dengan sendirinya, adalah mukjizat abadi lagi kekal. Setiap saat ia menampakkan kemukjizatannya. Ia tak padam seperti mukjizat lain, waktunya tak berakhir, ia abadi.

Dan pada derajat bimbingan Al-Qur'an ada keluasan sedemikian rupa sehingga: pada satu pelajaran, Jibril Alaihissalâm dan seorang bocah yang baru tumbuh menyimak pelajaran itu bahu-membahu, dan mengambil bagian mereka. Dan filsuf paling jenius seperti Ibnu Sina, bersama seorang pembaca yang paling awam, membaca pelajaran yang sama lutut-berlutut, dan mengambil pelajaran mereka. Bahkan kadang terjadi: orang awam itu, dari sisi kekuatan dan kejernihan iman, lebih banyak memetik manfaat daripada Ibnu Sina.

Dan di dalam Al-Qur'an ada sebuah mata sedemikian rupa sehingga: ia melihat dan meliputi seluruh alam raya, dan menampung alam raya di depan mata laksana lembar-lembar sebuah kitab, lalu menerangkan tingkatan dan alam-alamnya. Sebagaimana pembuat sebuah jam memutar, membuka, menunjukkan, dan menjelaskan jamnya; demikian pula Al-Qur'an — yang menggenggam alam raya di tangannya — berbuat demikian. Nah, Al-Qur'an Yang Mahaagung semacam inilah yang berkata فَاعْلَمْ اَنَّهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ, mengumumkan keesaan.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْاٰنَ لَنَا فِى الدُّنْيَا قَر۪ينًا وَ فِى الْقَبْرِ مُونِسًا وَ فِى الْقِيَامَةِ شَف۪يعًا وَ عَلَى الصِّرَاطِ نُورًا وَ مِنَ النَّارِ سِتْرًا وَ حِجَابًا وَ فِى الْجَنَّةِ رَف۪يقًا وَ اِلَى الْخَيْرَاتِ كُلِّهَا دَل۪يلاً وَ اِمَامًا ❊ اَللّٰهُمَّ نَوِّرْ قُلُوبَنَا وَ قُبُورَنَا بِنُورِ اْلا۪يمَانِ وَ الْقُرْاٰنِ وَ نَوِّرْ بُرْهَانَ الْقُرْاٰنِ بِحَقِّ وَ بِحُرْمَةِ مَنْ اُنْزِلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ عَلَيْهِ وَ عَلٰٓى اٰلِهِ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ مِنَ الرَّحْمٰنِ الْحَنَّانِ اٰم۪ينَ