Jawaban
Al-Maktubat · hlm. 218
Pada kemukjizatan Al-Qur'an ada dua mazhab. Mazhab mayoritas lagi kuat (râjih) ialah: kelembutan balaghah dan keutamaan makna dalam Al-Qur'an berada di atas kemampuan manusia.
Mazhab kedua yang lemah (marjûh) ialah:
Menandingi satu surah Al-Qur'an masih dalam kemampuan manusia. Namun Allah, sebagai mukjizat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم, telah mencegahnya. Sebagaimana seseorang dapat berdiri, tetapi sebagai jejak mukjizat, seorang Nabi berkata: "Engkau tak akan dapat berdiri!" lalu ia pun tak dapat berdiri, maka itu menjadi mukjizat. Mazhab yang marjûh ini disebut Mazhab Sharfah. Yakni, Allah mencegah jin dan manusia agar tak dapat menandingi satu surah Al-Qur'an. Seandainya Ia tak mencegah, niscaya jin dan manusia dapat menandingi satu surahnya. Nah, menurut mazhab ini, ucapan para ulama yang berkata "satu katanya pun tak dapat ditandingi" adalah hakikat. Sebab selama Allah mencegah mereka demi kemukjizatan, mereka tak dapat membuka mulut untuk menandingi. Sekalipun mereka membuka mulut, tanpa izin Ilahi, mereka tak dapat mengeluarkan satu kata pun.
Adapun menurut mazhab pertama yang râjih lagi mayoritas, pandangan yang diterangkan para ulama itu pun memiliki segi halus demikian: kalimat dan kata Al-Qur'an Yang Mahabijaksana saling berkaitan. Kadang satu kata memandang sepuluh tempat; padanya terdapat sepuluh nuktah balaghah, sepuluh keterkaitan. Sebagaimana pada tafsir bernama Isyârât al-I'jâz, di antara sebagian kalimat surah Al-Fâtihah dan di antara kalimat الٓمٓ ❊ ذٰلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ف۪يه۪, telah kami tunjukkan sebagian contoh dari nuktah-nuktah ini. Misalnya: sebagaimana pada istana yang berhias, menempatkan sebuah batu yang menjadi simpul beragam ukiran pada tempat yang menghadap seluruh ukiran, bergantung pada pengetahuan tentang seluruh dinding beserta ukirannya. Dan sebagaimana menempatkan bola mata pada kepala manusia, terjadi dengan mengetahui seluruh keterkaitan tubuh, tugas-tugasnya yang menakjubkan, dan kedudukan mata terhadap tugas-tugas itu. Demikian pula: sebagian ahli hakikat yang teramat maju telah menunjukkan banyak keterkaitan pada kata-kata Al-Qur'an, serta segi dan hubungan yang memandang kalimat-kalimat pada ayat lain. Khususnya ulama ilmu huruf yang lebih maju, telah menerangkan dan membuktikan rahasia sebanyak satu halaman pada satu huruf Al-Qur'an kepada ahlinya. Dan selama ia adalah kalam Khâliq segala sesuatu, setiap katanya dapat menjadi kalbu dan benih. (Ia dapat menjadi kalbu bagi sebuah jasad maknawi yang tersusun dari rahasia di sekitarnya, dan benih bagi sebuah pohon maknawi.) Nah, pada ucapan manusia dapat ditemukan kata-kata, bahkan kalimat dan ayat, seperti kata-kata Al-Qur'an. Namun pada tempat kata itu diletakkan dalam Al-Qur'an dengan memperhatikan banyak keterkaitan, diperlukan ilmu yang meliputi agar ia terletak demikian tepat pada tempatnya.