Risale-i NurAl-Maktubat

Nuktah Ketiga

Al-Maktubat · hlm. 439

Dengan munasabah isyarat khusus dan isyarat umum, kami akan mengisyaratkan suatu rahasia halus rububiyah dan Rahmaniyah:

Seorang saudaraku memiliki ucapan yang indah. Ucapan itu akan kujadikan bahan bagi persoalan ini. Ucapannya adalah: suatu hari kutunjukkan kepadanya suatu kesesuaian yang indah, ia berkata: "Indah! Memang setiap hakikat indah. Namun kesesuaian dan keberhasilan dalam Kelimat ini lebih indah lagi." Aku pun berkata: Ya, setiap sesuatu entah indah secara hakiki, indah dengan sendirinya, atau indah dari segi hasilnya. Dan keindahan ini memandang rububiyah umum, keluasan rahmat, dan tajalli umum. Sebagaimana engkau katakan, isyarat gaib dalam keberhasilan ini lebih indah. Karena ini dalam bentuk yang memandang rahmat khusus, rububiyah khusus, dan tajalli khusus. Ini akan kami dekatkan ke pemahaman dengan suatu perumpamaan. Yaitu:

Dengan kesultanan umum dan hukum seorang raja, belas kasih rajanya dapat diluaskan ke seluruh individu bangsa. Setiap individu secara langsung meraih kurnia dan kesultanan raja itu. Dalam bentuk umum itu, individu memiliki banyak hubungan khusus.

Segi kedua adalah pemberian khusus raja dan perintah khususnya; di atas hukum umum, ia memberi kurnia kepada satu individu, mengasihinya, memberi perintah.

Maka bagai perumpamaan ini; dari segi rububiyah umum dan keluasan rahmat Zat Wâjib al-Wujûd dan Sang Khâliq Yang Mahabijaksana lagi Rahîm, setiap sesuatu memperoleh bagian. Dari segi yang mengenai bagian setiap sesuatu, ia secara khusus berhubungan dengan-Nya. Lagi pula dengan kudrat, iradah, dan ilmu-Nya yang meliputi, Ia memiliki tasarruf atas setiap sesuatu, campur tangan dalam urusan paling parsial setiap sesuatu, dan rububiyah. Setiap sesuatu, dalam setiap keadaannya, membutuhkan-Nya. Dengan ilmu dan hikmah-Nya, urusan mereka ditunaikan dan ditata. Tak ada batas bagi tabiat untuk bersembunyi di lingkup tasarruf rububiyah itu dan menjadi pemilik pengaruh lalu campur tangan; tak pula ada hak bagi kebetulan untuk mencampuri urusan dalam lingkup timbangan hikmah yang halus itu. Pada dua puluh tempat dalam risalah, dengan hujah pasti kami menafikan kebetulan dan tabiat, dan dengan pedang Al-Qur'an kami memusnahkannya, kami tunjukkan campur tangan mereka mustahil. Namun dalam lingkup sebab lahiriah pada rububiyah umum, pada urusan yang hikmah dan sebabnya tak diketahui dalam pandangan ahli kelalaian, mereka memberi nama "kebetulan". Dan mereka tak dapat melihat kanun sebagian perbuatan Ilahi yang hikmahnya tak diliputi — yang tersembunyi di balik tabir tabiat — lalu mereka merujuk kepada tabiat.

Yang kedua adalah rububiyah khusus-Nya dan kasih khusus serta pertolongan Rahmani-Nya, sehingga kepada pertolongan bagi individu yang tak tahan di bawah tekanan hukum umum, nama Rahmân dan Rahîm datang menolong. Mereka menolong dengan cara khusus, menyelamatkan dari tekanan itu. Karena itu, setiap yang hidup, terutama manusia, setiap saat memohon pertolongan dari-Nya dan dapat meraih pertolongan.

Maka pemberian dalam rububiyah khusus ini tak tersembunyi di bawah kebetulan menghadapi ahli kelalaian pun, dan tak dirujukkan kepada tabiat.

Maka berdasarkan rahasia inilah; isyarat gaib dalam Kemukjizatan Al-Qur'an dan Mukjizat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم kami anggap dan yakini sebagai suatu isyarat khusus. Dan kami yakini bahwa ia suatu pertolongan khusus dan suatu inayah khusus yang akan menunjukkan dirinya menghadapi para pembangkang. Dan semata karena Allah kami mengumumkannya. Jika kami keliru, semoga Allah mengampuni. Âmîn. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَٓا اِنْ نَس۪ينَٓا اَوْ اَخْطَاْنَا

[Ini petikan guru Ahmed Galib yang khidmatnya berharga dalam penyalinan bersih Kalimat.]

Tatkala di tangan ada bukti hakikat bagai Al-Qur'an,

adakah beban di kalbuku untuk membungkam pengingkar?

Ucapan itu inti, wahai jiwa, bukan buat-buat;

ia sari yang jernih dari ilmu ladunni,

ini bukan karangan yang dibuat-buat kemudian.

Ini hikmah cahaya makrifat,

bukan hawa nafsu, kesia-siaan, dan berfilsafat.

Penyuci nafsu dan pembersih ruh,

pendidik kalbu — bukan sekadar tasawuf.

Kalimat itu matahari seluruh makrifat;

ucapanku benar, bukan mengada-ada.

Ia cahaya batin yang terpantul ke lafal,

bukan sekadar berulang di satu-dua baris.

Lafal-lafal yang bersesuaian satu sama lain;

ini sekali-kali bukan buat-buat, bukan kebetulan.

Seluruh hurufnya tersusun dengan aturan;

ia tawafuq, sekali-kali bukan perbedaan.

Ini manifestasi rahasia kemukjizatan,

yang dari Al-Qur'an, bukan kekosongan.

Keindahan kesesuaian ini indah, sungguh indah;

apa pun yang dikatakan dalam bab ini tak berlebih.

Said Badiuzzaman an-Nursi,

penjelasannya indah, bukan basa-basi.

Pena di tangannya yang belum meraih hiburan

menampakkan wajah hakikat, bukan penyimpangan.

Ketepatan ini datang dari sisi Al-Haqq;

ini bukan disengaja, bukan campur tangan manusia.

Bagi pandangan buruk yang tak melihat ini,

"sungguh sayang" kukatakan, bukan sekadar sesal.

Karena umumnya ada keheranan maknawiku,

penjelasanku di jalan ini bukan sekadar permohonan.

Tawafuq pada ucapannya, apakah itu berlebih baginya?

Keunggulan baginya bukan mencari kemuliaan.

Semoga Al-Haqq memberinya keberhasilan dalam banyak hal;

tawafuq bukan maqam untuk berhenti!

Ahmed Galib

(rahmatullâhi 'alaih)

[Ini petikan almarhum Mayor Âsım Bey.]

Aku bersumpah, benar ucapannya beserta intinya;

orang-orang berwatak buruk yang tak menerima dan membenarkan hakikat ini

tinggal dalam kesesatan dan lembah kerugian sekian tahun.

Membimbing dan menyelamatkan mereka itulah keahlian;

jika hidayah sampai, saat itu ia menundukkan leher.

Memohon perbaikan bagi semua, mari kita bermohon kepada Sang Khâliq;

mari kita baca dan jelaskan Kalimat yang merupakan cahaya Qur'ani;

di jalan ini kita pun meraih limpahan dan berbahagia hati;

dalam mengubah kefanaan menjadi kekekalan, semoga kita meraih rida Sang Bâri'.

Petikan Galib yang tak ternilai, layak akan seratus ribu pujian;

dengan mengucapkan hakikat ini, tanpa ragu ia menjadi pemenang.

Mayor Âsım

(rahmatullâhi 'alaih)