Nuktah Pertama
Al-Maktubat · hlm. 438
Dalam Persoalan Ketujuh Surat Kedua Puluh Delapan, kami mendakwakan bahwa kami melihat manifestasi isyarat gaib itu — yang kami rasakan dari tujuh-delapan inayah Ilahi yang menyeluruh dan maknawi — dalam ukiran di bawah ungkapan "tawafuq" dengan nama "Inayah Kedelapan". Dan kami mendakwakan bahwa: tujuh-delapan inayah menyeluruh ini sedemikian kuat dan pasti sehingga masing-masing sendiri membuktikan isyarat gaib itu. Secara pengandaian mustahil, jika sebagian dilihat lemah, bahkan diingkari; itu tak merusak kepastian isyarat gaib itu. Yang tak dapat mengingkari delapan inayah itu, tak dapat mengingkari isyarat itu. Namun karena lapisan manusia beragam, dan karena lapisan awam yang berjumlah banyak lebih mempercayai matanya; karena yang paling nyata di antara delapan inayah itu — bukan yang paling kuat — adalah tawafuq; — sekalipun yang lain lebih kuat, tetapi ini lebih umum — untuk menolak waham yang datang kepadanya, aku terpaksa menerangkan suatu hakikat berupa semacam penimbangan. Yaitu:
Tentang inayah lahiriah itu telah kami katakan: pada risalah yang kami tulis, pada kata "Al-Qur'an" dan kata "Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم" tampak suatu derajat kesesuaian sedemikian.. tak menyisakan keraguan sama sekali bahwa ia ditata dengan suatu kesengajaan dan diberi posisi yang sejajar. Adapun kesengajaan dan iradah, dalilku bahwa ia bukan milik kami adalah: kami baru menyadarinya tiga-empat tahun kemudian. Jika demikian, kesengajaan dan iradah ini adalah gaib sebagai suatu jejak inayah. Semata dalam bentuk menguatkan kemukjizatan Al-Qur'an dan kemukjizatan Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم, posisi ajaib itu diberikan pada kedua kata itu dalam bentuk kesesuaian. Keberkahan dua kata ini, di samping menjadi stempel pembenaran bagi kemukjizatan Al-Qur'an dan kemukjizatan Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم; kata-kata semisal lainnya pun diberi kesesuaian dengan mayoritas yang agung. Namun kata-kata itu khusus pada satu halaman. Kedua kata ini tampak di seluruh satu-dua risalah dan di kebanyakan risalah. Namun telah kami katakan berulang: asal kesesuaian ini dapat banyak ditemukan pula di kitab lain; tetapi tak dalam derajat keajaiban yang menunjukkan kesengajaan dan iradah luhur seperti ini. Kini, sementara mustahil merusak dakwaan kami ini, dalam pandangan lahir dapat ada satu-dua segi yang membuatnya tampak seolah rusak:
Salah satunya: mereka dapat berkata "Kalian memikirkannya, lalu menepatkan kesesuaian seperti itu." "Membuat hal seperti ini jika dengan sengaja, adalah hal yang mudah dan gampang." Terhadap ini kami katakan: dalam suatu dakwaan, dua saksi yang jujur mencukupi. Bahwa dalam dakwaan kami ini kesengajaan dan iradah kami tak terlibat, dan kami baru menyadarinya tiga-empat tahun kemudian, dapat ditemukan seratus saksi yang jujur. Dengan munasabah ini akan kukatakan satu titik: karamah kemukjizatan ini bukan dari jenis balaghah Al-Qur'an al-Hakîm yang berada pada derajat mukjizat. Karena dalam kemukjizatan Al-Qur'an, kekuatan manusia menempuh jalan itu tetapi tak sampai ke derajat itu. Adapun karamah kemukjizatan ini tak dapat terjadi dengan kekuatan manusia; kekuatan tak dapat campur tangan dalam pekerjaan itu. Jika ia campur, ia menjadi buatan, rusak.
[Catatan kaki: Pada Isyarat Kedelapan Belas Surat Kesembilan Belas; dalam suatu naskah, pada satu halaman terdapat sembilan "Qur'an" dalam bentuk kesesuaian, lalu kami tarik garis di antaranya, pada keseluruhannya keluar lafal "Muhammad". Pada halaman di hadapan halaman itu, terdapat delapan "Qur'an" dengan kesesuaian, pada keseluruhannya keluar Lafzhullâh. Pada kesesuaian ada banyak hal indah semacam ini. Makna catatan kaki ini kami lihat dengan mata kami sendiri. Bekir, Tevfik, Süleyman, Galib, Said.]