Risale-i NurAl-Maktubat

Nuktah Pertama

Al-Maktubat · hlm. 460

Puasa di Ramadan yang mulia adalah salah satu yang pertama dari lima rukun Islam. Ia pun termasuk yang teragung dari syiar Islam.

Maka puasa di Ramadan yang mulia memiliki banyak hikmah; hikmah yang memandang rububiyah Allah, kehidupan sosial manusia, kehidupan pribadinya, tarbiah nafsu, dan syukur atas nikmat Ilahi.

Salah satu dari banyak hikmah puasa dari segi rububiyah Allah adalah ini:

Karena Allah menciptakan muka bumi dalam bentuk suatu meja nikmat, dan menata seluruh jenis nikmat di meja itu dengan cara مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ, dengan keadaan itu Ia mengungkapkan kesempurnaan rububiyah serta Rahmaniyah dan Rahimiyah-Nya. Manusia, di bawah tabir kelalaian dan di lingkup sebab, tak dapat melihat sepenuhnya hakikat yang diungkapkan keadaan itu, kadang melupakannya. Adapun di Ramadan yang mulia, ahli iman seketika berkedudukan sebagai tentara yang teratur. Menjelang petang, dalam keadaan bagai diundang ke jamuan Sang Sultan Azali dan menanti perintah "Silakan", mereka menunjukkan sikap penuh ubudiyah; menghadapi Rahmaniyah yang penuh kasih, megah, dan menyeluruh itu, mereka membalas dengan ubudiyah yang luas, agung, dan teratur. Gerangan, apakah manusia yang tak turut serta dalam ubudiyah luhur dan kemuliaan karamah semacam ini layak akan nama manusia?