Nuktah Kedua
Al-Maktubat · hlm. 461
Puasa Ramadan yang diberkahi, dari segi memandang syukur atas nikmat Allah, salah satu dari banyak hikmahnya adalah ini: sebagaimana dikatakan pada Kelimat Pertama, makanan yang dibawa seorang pelayan dari dapur seorang raja menuntut suatu harga. Sebagaimana memberi persen kepada pelayan, lalu menyangka nikmat yang amat berharga itu tak bernilai dan tak mengenal Pemberi nikmatnya, adalah kebodohan pada derajat tertinggi; demikian pula Allah menyebarkan jenis nikmat-Nya yang tak terhingga kepada jenis manusia di muka bumi. Sebagai balasannya, sebagai harga nikmat itu, Ia meminta syukur. Sebab lahiriah dan pemilik nikmat itu berkedudukan sebagai pelayan. Kita memberi harga kepada pelayan itu, kita berterima kasih kepada mereka; bahkan kita memberi penghormatan dan terima kasih yang jauh melampaui yang mereka layak terima. Padahal Sang Pemberi Nikmat Hakiki, dengan perantaraan nikmat itu, tak terhingga lebih layak akan syukur daripada sebab-sebab itu. Maka berterima kasih kepada-Nya terjadi dengan mengetahui nikmat itu secara langsung dari-Nya, menghargai nilai nikmat itu, dan merasakan kebutuhan kita akan nikmat itu.
Maka puasa di Ramadan yang mulia adalah kunci syukur yang hakiki, ikhlas, agung, dan umum. Karena kebanyakan manusia — yang tak berada di bawah keterpaksaan pada waktu lain — tatkala tak merasakan lapar hakiki, tak dapat memahami nilai banyak nikmat. Sepotong roti kering, bagi orang yang kenyang, terutama jika ia kaya, derajat nikmat padanya tak dipahami. Padahal pada waktu berbuka, daya perasa bersaksi bahwa roti kering itu, dalam pandangan seorang mukmin, adalah nikmat Ilahi yang amat berharga. Setiap orang, mulai dari raja hingga fakir termiskin, di Ramadan yang mulia meraih syukur maknawi dengan memahami nilai nikmat itu. Lagi pula dari segi terlarangnya makan di siang hari; "Nikmat itu bukan milikku. Aku tak bebas memakannya; artinya ia milik dan pemberian Yang Lain. Aku menanti perintah-Nya." demikian ia mengenal nikmat sebagai nikmat; ia bersyukur maknawi. Maka dengan cara ini puasa, dari banyak segi, berkedudukan sebagai kunci syukur yang merupakan tugas hakiki manusia.