Risale-i NurAl-Maktubat

Nuktah Pertama

Al-Maktubat · hlm. 527

Syariat secara langsung, tanpa bayang, tanpa tabir, adalah hasil khitab Ilahi dari sisi rububiyah mutlak dengan rahasia ahadiyah. Tingkatan tertinggi tarekat dan hakikat, berkedudukan sebagai bagian-bagian syariat. Jika tidak, mereka senantiasa berkedudukan sebagai sarana, pengantar, dan pelayan. Hasilnya adalah muhkamat syariat. Yakni: untuk mencapai hakikat-hakikat syariat, jalan tarekat dan hakikat berkedudukan sebagai sarana, pelayan, dan anak tangga. Lambat laun pada tingkat tertinggi, mereka berubah menjadi makna hakikat dan rahasia tarekat yang terdapat dalam syariat itu sendiri. Ketika itu mereka menjadi bagian-bagian syariat terbesar. Jika tidak, membayangkan syariat sebagai kulit lahiriah dan hakikat sebagai isi, hasil, dan tujuannya — sebagaimana disangka sebagian ahli tasawuf — tidaklah benar. Ya, tersingkapnya syariat berbeda-beda menurut tingkatan manusia. Menyangka lahiriah syariat menurut orang awam sebagai hakikat syariat, lalu memberi nama "hakikat dan tarekat" pada tingkat syariat yang tersingkap bagi khawas, adalah keliru. Syariat memiliki tingkatan yang memandang seluruh lapisan.

Maka karena rahasia inilah: semakin maju ahli tarekat dan ahli hakikat, semakin bertambah ketertarikan, kerinduan, dan ittiba' mereka terhadap hakikat syariat. Mereka memandang Sunnah yang Mulia yang paling kecil bagai maksud terbesar, berupaya mengikutinya, menirunya. Karena sebagaimana wahyu jauh lebih tinggi daripada ilham; adab syar'i yang merupakan buah wahyu, sedemikian lebih tinggi dan penting daripada adab tarekat yang merupakan buah ilham. Karena itu, asas terpenting tarekat adalah ittiba' pada Sunnah yang Mulia.