Risale-i NurAl-Maktubat

Pembahasan Kedua

Al-Maktubat · hlm. 317

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَت۪ينُ ❊ وَكَاَيِّنْ مِنْ دَٓابَّةٍ لاَ تَحْمِلُ رِزْقَهَا اَللّٰهُ يَرْزُقُهَا وَاِيَّاكُمْ وَ هُوَ السَّم۪يعُ الْعَل۪يمُ

Wahai ahli iman! Telah engkau pahami dari uraian terdahulu betapa berbahayanya permusuhan. Pahami pula bahwa penyakit merusak yang paling dahsyat bagi kehidupan keislaman — sama seperti permusuhan — adalah juga ketamakan. Ketamakan adalah sebab kekecewaan, ia adalah penyakit dan kehinaan, serta mendatangkan kemelaratan dan kesengsaraan. Ya, kehinaan dan kesengsaraan Bangsa Yahudi — yang menyerbu dunia dengan ketamakan melebihi bangsa mana pun — adalah saksi yang pasti bagi hukum ini. Ya, ketamakan memperlihatkan pengaruh buruknya, mulai dari lingkaran yang paling luas di alam makhluk hidup hingga kepada individu yang paling kecil. Sebaliknya, mencari rezeki dengan penuh tawakal justru menjadi sumber ketenteraman dan memperlihatkan pengaruh baiknya di mana pun.

Lihatlah, pepohonan berbuah dan tetumbuhan — yang merupakan sejenis makhluk hidup dan membutuhkan rezeki — karena tetap tinggal di tempatnya dengan penuh tawakal dan qana'ah serta tidak menunjukkan ketamakan, maka rezeki mereka berlari mendatangi mereka. Mereka membesarkan anak jauh lebih banyak daripada hewan. Adapun hewan, karena berlari mengejar rezekinya dengan ketamakan, hanya dapat memperoleh rezekinya dengan susah payah dan serba kekurangan.

Selain itu, di dalam lingkaran hewan, diberikannya rezeki yang halal, sempurna, dan lembut dari perbendaharaan rahmat kepada anak-anak hewan yang bertawakal dengan lisan-hal kelemahan dan ketidakberdayaannya; serta rezeki tak sedap yang diperoleh dengan susah payah dan secara tidak halal oleh binatang-binatang buas yang menyerbu rezekinya dengan ketamakan — kedua hal itu menunjukkan bahwa: ketamakan adalah sebab kemelaratan; sedangkan tawakal dan qana'ah adalah wasilah rahmat.

Selain itu, di dalam lingkaran kemanusiaan, Bangsa Yahudi — yang menempel pada dunia dengan ketamakan melebihi bangsa mana pun dan terikat pada kehidupan duniawi dengan penuh gairah cinta — dengan kekayaan riba yang tidak halal, yang mereka peroleh dengan susah payah, yang sedikit manfaatnya bagi diri mereka, dan yang atasnya mereka hanya menjadi penjaga perbendaharaan belaka; serta tamparan kehinaan dan kesengsaraan, pembunuhan dan penghinaan yang mereka terima dari seluruh bangsa — semua itu menunjukkan bahwa: ketamakan adalah sumber kehinaan dan kerugian.

Selain itu, ada begitu banyak kejadian tentang seorang manusia yang tamak yang senantiasa terjatuh dalam kerugian, sehingga اَلْحَر۪يصُ خَائِبٌ خَاسِرٌ telah menjadi laksana peribahasa dan diterima sebagai hakikat umum dalam pandangan khalayak. Karena demikian halnya, jika engkau sangat mencintai harta, mintalah harta bukan dengan ketamakan, melainkan dengan qana'ah, agar ia datang berlimpah.

Ahli qana'ah dan ahli ketamakan menyerupai dua orang yang memasuki balai penghadapan seorang tokoh agung. Yang seorang berkata dalam hatinya: "Cukuplah bagiku bila ia sekadar menerimaku dan aku terlepas dari dingin di luar. Sekalipun mereka memberiku kursi yang paling bawah, itu sudah merupakan karunia." Adapun orang kedua, dengan angkuh berkata seolah-olah ia memiliki suatu hak dan seolah-olah setiap orang wajib menghormatinya: "Haruslah aku diberi kursi yang paling atas." Ia masuk dengan ketamakan, menancapkan pandangannya ke kedudukan-kedudukan yang tinggi, dan hendak menuju ke sana. Namun pemilik balai itu memutarnya kembali dan mendudukkannya di bawah. Padahal seharusnya ia berterima kasih, tetapi alih-alih berterima kasih, hatinya justru marah. Bukannya berterima kasih, ia malah mengkritik sang pemilik rumah. Maka sang pemilik rumah pun merasa jengkel kepadanya. Orang pertama masuk dengan rendah hati; ia ingin duduk di kursi yang paling bawah. Qana'ah-nya itu menyenangkan hati pemilik balai. "Silakan naik ke kursi yang lebih atas," katanya. Orang itu pun kian menambah rasa terima kasihnya, dan kian bertambahlah kegembiraannya.

Demikianlah, dunia ini adalah balai penghadapan Sang Rahmân. Permukaan bumi adalah hidangan rahmat. Adapun tingkatan-tingkatan rezeki dan derajat-derajat nikmat, laksana kursi-kursi itu.

Selain itu, dalam urusan yang paling kecil pun setiap orang dapat merasakan pengaruh buruk ketamakan. Misalnya: ketika dua pengemis meminta sesuatu, setiap orang merasakan dalam hatinya bahwa ia enggan dan tak mau memberi kepada pengemis yang mendesak dengan ketamakan, sedangkan ia berbelas kasih dan memberi kepada pengemis lain yang tenang. Misalnya pula: pada malam hari tidurmu hilang; jika engkau hendak tidur dan bersikap acuh, tidurmu bisa jadi datang. Namun jika engkau menginginkan tidur dengan ketamakan seraya berkata: "Aduh, biar aku tidur, biar aku tidur," maka engkau justru menghalau tidurmu sama sekali. Misalnya pula: engkau menanti seseorang dengan ketamakan demi suatu hasil yang penting; seraya berkata "Aduh, ia tak kunjung datang, ia tak kunjung datang," akhirnya ketamakan menghabiskan kesabaranmu sehingga engkau bangkit dan pergi; semenit kemudian orang itu datang; tetapi hasil penting yang engkau nantikan itu pun rusak.

Rahasia peristiwa-peristiwa ini adalah sebagai berikut: sebagaimana wujud sepotong roti bergantung pada ladang, tempat pengirikan, penggilingan, dan perapian; demikian pula, dalam susunan segala sesuatu terdapat suatu ketelitian penuh hikmah. Karena akibat ketamakan seseorang tidak bertindak dengan teliti, ia tidak mengindahkan anak-anak tangga maknawi pada susunan segala sesuatu itu; entah ia melompat lalu terjatuh, atau ia meninggalkan salah satu anak tangga hingga kurang, sehingga ia tak dapat naik menuju maksud yang dituju.

Wahai saudara-saudara yang telah pening oleh derita mata pencaharian dan mabuk oleh ketamakan dunia! Padahal ketamakan adalah sesuatu yang sedemikian merusak dan membawa bencana, bagaimana bisa di jalan ketamakan kalian melakukan setiap kehinaan, tak lagi membedakan haram dan halal sehingga menerima setiap harta, serta mengorbankan banyak hal yang diperlukan bagi kehidupan ukhrawi? Bahkan zakat, yang merupakan salah satu rukun penting dari rukun-rukun Islam, kalian tinggalkan di jalan ketamakan? Padahal zakat, bagi setiap orang, adalah sebab keberkahan dan penolak bala. Dari tangan orang yang tidak menunaikan zakat, harta sebesar zakat itu pasti akan keluar juga; entah ia akan memberikannya ke tempat-tempat yang tak berguna, atau suatu musibah akan datang mengambilnya.

Dalam suatu mimpi khayali yang mengandung hakikat, pada tahun kelima Perang Dunia Pertama, dalam suatu mimpi yang ajaib aku ditanya: "Kelaparan yang menimpa kaum Muslimin ini, kerugian harta dan kesukaran badani ini, dari manakah asalnya?"

Dalam mimpi itu aku berkata: "Allah 'Azza wa Jalla meminta dari kita sepersepuluh dari sebagian harta{(Catatan kaki-1): Yakni sepersepuluh dari harta seperti gandum yang setiap tahun Dia berikan secara segar.}atau seperempat puluh dari sebagian harta,{(Catatan kaki-2): Yakni dari seperempat puluh yang sejak dahulu Dia berikan; yang pada setiap tahun, pada umumnya dan sekurang-kurangnya, melalui laba perniagaan dan keturunan hewan, Dia berikan sepuluh yang segar dari yang empat puluh itu.}yakni salah satu dari harta yang Dia sendiri berikan; agar Dia menghasilkan bagi kita doa kaum fakir dan mencegah dendam serta kedengkian mereka. Namun demi ketamakan kita, kita berlaku loba dan tidak memberikannya. Maka Allah 'Azza wa Jalla mengambil zakat kita yang menumpuk itu, tiga puluh dari empat puluh, dan delapan dari sepuluh. Selain itu, setiap tahun hanya dalam satu bulan Dia meminta dari kita suatu kelaparan yang mengandung tujuh puluh hikmah. Namun kita mengasihani nafsu kita dan tidak mau menahan suatu lapar yang sementara dan lezat. Maka sebagai hukuman, Allah 'Azza wa Jalla memaksa kita menahan — selama lima tahun — sejenis puasa yang membawa bencana dari tujuh puluh sisi. Selain itu, dalam dua puluh empat jam Dia meminta dari kita satu jam saja, berupa sejenis pengajaran Rabbani yang menyenangkan, luhur, bercahaya, dan bermanfaat. Namun kita bermalas-malas dan tidak menunaikan salat dan munajat itu. Kita menyia-nyiakan satu jam itu dengan mencampurkannya ke jam-jam yang lain. Maka sebagai kafaratnya, Allah 'Azza wa Jalla membuat kita menunaikan sejenis salat — selama lima tahun — dengan latihan, pengajaran, dan dipaksa berlari pontang-panting." Demikianlah tadinya aku berkata.

Kemudian aku terjaga, aku renungkan, dan aku pahami bahwa dalam mimpi khayali itu terdapat suatu hakikat yang amat penting. Sebagaimana telah dibuktikan dan dijelaskan dalam Kelimat Kedua Puluh Lima, pada pembahasan perbandingan antara peradaban dengan hukum Al-Qur'an; sumber segala kebejatan akhlak dan segala huru-hara dalam kehidupan sosial umat manusia adalah dua kalimat. Yang pertama: "Setelah aku kenyang, apa peduliku jika orang lain mati kelaparan?" Yang kedua: "Engkau bekerja, aku yang makan."

Yang melanggengkan kedua kalimat ini adalah beredarnya riba dan ditinggalkannya zakat. Satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan kedua penyakit sosial yang dahsyat ini adalah wajibnya zakat dan haramnya riba, dengan menjalankan zakat dalam bentuk suatu undang-undang yang berlaku umum. Bukan hanya pada perorangan dan jamaah-jamaah tertentu, melainkan bagi kebahagiaan hidup seluruh umat manusia, zakat adalah rukun yang paling penting; bahkan bagi kelangsungan kehidupan insani, zakat adalah tiang yang paling penting. Sebab pada manusia terdapat dua lapisan: kalangan khawas dan kalangan awam. Yang dapat menjamin belas kasih dan kebajikan dari kalangan khawas kepada kalangan awam, serta penghormatan dan ketaatan dari kalangan awam kepada kalangan khawas, adalah zakat. Jika tidak, dari atas turunlah kezaliman dan penindasan ke atas kepala kalangan awam, dan dari kalangan awam muncullah dendam dan pemberontakan terhadap orang-orang kaya. Kedua lapisan manusia berada dalam suatu pergulatan maknawi yang tak henti, dalam suatu kekacauan pertikaian. Lambat laun, sebagaimana yang terjadi di Rusia, mereka mulai bergumul dalam bentuk perjuangan antara tenaga kerja dan modal.

Wahai ahli kemurahan dan hati nurani, dan wahai ahli kedermawanan dan kebajikan! Jika kebajikan tidak dilakukan atas nama zakat, ada tiga kerugiannya. Kadang ia pun menjadi sia-sia. Karena engkau tidak memberi atas nama Allah, secara maknawi engkau mengungkit-ungkit budi; engkau membiarkan si fakir yang malang terkurung di bawah belenggu utang budi. Selain itu, engkau pun terhalang dari doanya yang makbul. Selain itu, padahal sesungguhnya engkau adalah petugas pembagi untuk menyerahkan harta Allah 'Azza wa Jalla kepada hamba-hamba-Nya, engkau justru menyangka dirimu sebagai pemilik harta sehingga engkau mengingkari nikmat. Namun jika engkau memberi atas nama zakat, karena engkau memberi atas nama Allah 'Azza wa Jalla, engkau memperoleh pahala dan menunjukkan rasa syukur atas nikmat. Orang yang membutuhkan itu pun, karena tidak terpaksa menjilat kepadamu, harga dirinya tidak terluka, dan doanya menjadi makbul bagimu. Ya, di manakah letak samanya — memberi sebanyak zakat, bahkan lebih, dalam bentuk sedekah sunah dan kebajikan atau bentuk-bentuk lain, namun memperoleh kerugian-kerugian seperti riya dan pamer, ungkitan budi dan penghinaan — dan di manakah — melakukan segala kebaikan itu atas nama zakat sehingga memperoleh sekaligus penunaian fardu, pahala, keikhlasan, dan sebuah doa yang makbul?

سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۨالَّذ۪ى قَالَ اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ الْمَرْصُوصِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَ قَالَ اَلْقَنَاعَةُ كَنْزٌ لاَ يَفْنٰى وَعَلٰٓى اٰلِه۪ وَصَحْبِه۪ٓ اَجْمَع۪ينَ اٰم۪ينَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ

--