Risale-i NurAl-Maktubat

Pembahasan Pertama

Al-Maktubat · hlm. 340

Dalam lima isyarat yang akan datang, untuk mengamati urusan-urusan rububiyah, akan ditulis masing-masing suatu perumpamaan berupa teropong kecil yang redup. Perumpamaan-perumpamaan ini tak dapat menangkap, tak dapat meliputi, dan tak dapat menjadi ukuran bagi hakikat urusan rububiyah; namun ia dapat membuat kita memandang. Pada perumpamaan yang akan datang itu dan pada rumus-rumus yang lalu, ungkapan yang tak layak bagi urusan Zat Yang Mahasuci adalah kekurangan perumpamaan itu.

Misalnya: makna kelezatan, kesukaan, dan kesenangan yang kita ketahui tak dapat mengungkapkan urusan-urusan suci; namun ia masing-masing merupakan gelar perenungan dan sarana tafakur. Lagi pula perumpamaan-perumpamaan ini, dengan menunjukkan ujung dari suatu kanun rububiyah yang meliputi lagi agung dalam suatu contoh kecil, membuktikan hakikat kanun itu dalam urusan-urusan rububiyah. Misalnya dikatakan: sekuntum bunga pergi dari wujud, ia pergi dengan meninggalkan ribuan wujud. Dengannya ditunjukkan suatu kanun rububiyah yang agung, bahwa kanun rububiyah ini berlaku pada seluruh musim semi, bahkan pada seluruh makhluk di dunia.

Ya, dengan kanun apa Sang Khâliq Yang Rahîm mengganti dan menyegarkan pakaian berbulu seekor burung, dengan kanun yang sama Sang Pembuat Yang Mahabijaksana setiap tahun memperbarui pakaian bola Bumi. Dan dengan kanun yang sama pula, Ia mengganti bentuk dunia pada setiap abad. Dan dengan kanun yang sama, pada waktu kiamat Ia mengubah dan mengganti rupa alam semesta.

Dan dengan kanun apa Ia menggerakkan zarah laksana penari mevlevi; dengan kanun yang sama Ia memutar bola Bumi laksana penari mevlevi yang terpesona dan bangkit menari, dan dengan kanun itu Ia memutar alam-alam demikian, serta mengedarkan tata surya.

Dan dengan kanun apa Ia menyegarkan, memperbaiki, dan mengurai zarah-zarah sel dalam tubuhmu; dengan kanun yang sama Ia memperbarui kebunmu setiap tahun dan menyegarkannya berkali-kali pada setiap musim. Dengan kanun yang sama, Ia memperbarui muka bumi pada setiap musim semi, menariknya dengan cadar baru.

Dan Sang Pembuat Yang Mahakuasa, dengan kanun hikmah apa Ia menghidupkan seekor lalat; dengan kanun yang sama Ia menghidupkan pohon cinar di hadapan kita ini pada setiap musim semi, dan dengan kanun itu Ia menghidupkan bola Bumi pula pada musim semi itu, dan dengan kanun yang sama Ia menghidupkan makhluk pula pada hari kebangkitan. Mengisyaratkan rahasia ini, Al-Qur'an berfirman مَا خَلْقُكُمْ وَلاَ بَعْثُكُمْ اِلاَّ كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ. Dan demikianlah, bandingkanlah. Ada banyak kanun rububiyah seperti ini yang berlaku mulai dari zarah hingga keseluruhan alam.

Maka pandanglah keagungan kanun-kanun yang terdapat dalam aktivitas rububiyah ini, perhatikanlah keluasannya, dan lihatlah rahasia kesatuan di dalamnya; ketahuilah bahwa setiap kanun adalah bukti kesatuan. Ya, kanun-kanun yang amat banyak dan amat agung ini, di samping masing-masing merupakan manifestasi ilmu dan iradah; karena ia sekaligus tunggal dan meliputi, maka ia membuktikan keesaan Sang Pembuat serta ilmu dan iradah-Nya dengan cara yang amat pasti. Maka kebanyakan perumpamaan dalam kebanyakan Kalimat, dengan menunjukkan ujung-ujung kanun demikian melalui suatu contoh kecil, mengisyaratkan wujud kanun yang sama pada dakwaan. Karena dengan perumpamaan ditunjukkan terbuktinya kanun, ia membuktikan dakwaan dengan cara yang meyakinkan bagai bukti logis. Artinya, kebanyakan perumpamaan dalam Kalimat berkedudukan sebagai bukti yang meyakinkan, hujah yang pasti.