Risale-i NurAl-Maktubat

Pembahasan Pertama

Al-Maktubat · hlm. 359

— yang membungkam Iblis, mendiamkan setan, dan menutup mulut ahli pembangkangan — adalah suatu peristiwa yang menolak secara pasti suatu tipu daya setan yang mengerikan, di dalam suatu penimbangan yang tak berpihak. Sebagian ringkas dari peristiwa itu telah kutulis sepuluh tahun lalu dalam Lam'ât. Yaitu:

Sebelas tahun sebelum penulisan risalah ini, pada Ramadan yang mulia di Istanbul, di Masjid Bayezid yang mulia aku sedang mendengarkan para hafiz. Tiba-tiba — aku tak melihat sosoknya, tetapi seolah kudengar suatu suara maknawi datang kepadaku. Ia memalingkan pikiranku kepadanya. Aku mendengarkan dengan khayal, kulihat ia berkata kepadaku:

"Engkau memandang Al-Qur'an amat luhur, amat cemerlang. Timbanglah dengan tak berpihak, pandanglah demikian. Yakni andaikanlah ia perkataan manusia, lalu pandanglah. Gerangan, akankah engkau melihat keistimewaan dan hiasan itu?"

Sungguh aku pun tertipu olehnya. Kuandaikan ia perkataan manusia, lalu kupandang demikian. Kulihat: sebagaimana tatkala sakelar listrik Bayezid diputar dan dipadamkan, sekeliling jatuh ke dalam kegelapan; demikian pula dengan pengandaian itu, cahaya-cahaya cemerlang Al-Qur'an mulai tersembunyi. Saat itu aku paham bahwa yang berbicara denganku adalah setan. Ia menggelincirkanku ke jurang. Aku memohon pertolongan dari Al-Qur'an. Tiba-tiba suatu cahaya datang ke kalbuku. Ia memberi kekuatan yang pasti untuk membela diri. Saat itu, terhadap setan, bermulalah perdebatan sedemikian.

Aku berkata: Wahai setan! Penimbangan yang tak berpihak adalah suatu posisi di tengah antara dua pihak. Padahal penimbangan tak berpihak yang engkau dan murid-muridmu di kalangan manusia katakan itu adalah pemihakan kepada pihak lawan, bukan ketakberpihakan. Ia adalah semacam kekafiran sementara. Karena memandang Al-Qur'an sebagai perkataan manusia dan menimbangnya demikian adalah menjadikan sisi lawan sebagai dasar. Ia adalah pemihakan kepada yang batil, bukan ketakberpihakan, melainkan keberpihakan kepada yang batil.

Setan berkata: Kalau begitu jangan katakan ia perkataan Allah, jangan pula perkataan manusia. Andaikan di tengah, lalu pandanglah.

Aku berkata: Itu pun tak dapat. Karena jika ada suatu harta yang diperselisihkan, apabila dua penggugat saling berdekatan dan ada kedekatan tempat; maka harta itu akan dititipkan di suatu tempat di tangan pihak ketiga selain keduanya, atau di tempat yang dapat dijangkau tangan keduanya. Siapa yang membuktikan, dia yang mengambilnya. Namun jika kedua penggugat amat berjauhan, yang satu di timur, yang lain di barat; maka menurut kaidah, harta itu dititipkan di tangan siapa pun yang memegangnya (sahib al-yad). Karena menitipkan di tengah tak mungkin. Maka Al-Qur'an adalah harta yang berharga. Sejauh mana perkataan manusia jauh dari perkataan Allah, sejauh itu pula — bahkan tak terhingga — kedua pihak itu berjauhan. Maka menitipkan di tengah antara dua pihak yang berjauhan bagai bumi dari bintang Tsurayya itu tak mungkin. Lagi pula tak ada tengahnya. Karena keduanya adalah dua yang berlawanan seperti wujud dan ketiadaan, seperti dua hal yang bertentangan; tak dapat ada tengahnya. Jika demikian, pemegang sah (sahib al-yad) bagi Al-Qur'an adalah pihak Ilahi. Jika demikian, ia diterima berada di tangan-Nya, lalu dengan begitu dalil-dalil pembuktian dipandang. Jika pihak lain menghancurkan seluruh bukti bahwa ia Kalâmullah satu demi satu, ia dapat mengulurkan tangannya kepadanya. Jika tidak, ia tak dapat mengulurkannya. Aduhai! Berlian raksasa ini, yang dipakukan ke Arasy Teragung dengan paku ribuan bukti pasti — tangan mana yang dapat mencabut seluruh paku itu, memotong tiang-tiangnya, dan menjatuhkannya? Maka wahai setan! Meski engkau tak suka, ahli kebenaran dan keadilan menimbang dengan penimbangan penuh hakikat seperti ini. Bahkan pada dalil terkecil pun mereka menambah iman mereka kepada Al-Qur'an. Adapun jalan yang engkau dan murid-muridmu tunjukkan: sekali diandaikan ia perkataan manusia — yakni berlian raksasa yang terikat ke Arasy itu dilemparkan ke tanah — maka diperlukan satu bukti yang sekuat seluruh paku dan sekukuh banyak bukti, untuk mengangkatnya dari tanah dan memakukannya ke arasy maknawi... supaya lepas dari kegelapan kekufuran dan sampai ke cahaya iman. Padahal berhasil dalam hal ini amat sukar. Karena itu, dengan tipu dayamu, di zaman ini banyak orang kehilangan iman mereka dengan dalih penimbangan yang tak berpihak.

Setan berbalik dan berkata: Al-Qur'an menyerupai perkataan manusia. Ia dalam gaya percakapan mereka. Artinya, ia perkataan manusia. Seandainya ia perkataan Allah, tentu akan memiliki gaya yang luar biasa dalam segala segi, yang layak bagi-Nya. Sebagaimana seni-Nya tak menyerupai seni manusia, perkataan-Nya pun semestinya tak menyerupai?

Aku menjawab: Sebagaimana Nabi kita صلى الله عليه وسلم — selain mukjizat dan kekhususannya — dalam perbuatan, keadaan, dan lakonnya tetap dalam kemanusiaan, tunduk dan taat kepada kebiasaan Ilahi dan perintah penciptaan-Nya seperti manusia. Ia pun merasakan dingin, merasakan derita, dan seterusnya... Pada setiap keadaan dan lakonnya tak diberikan keadaan luar biasa. Supaya ia menjadi imam bagi umatnya dengan perbuatannya, pembimbing dengan lakonnya, dan memberi pelajaran dengan seluruh geraknya. Seandainya ia luar biasa pada setiap lakonnya, ia tak akan dapat menjadi imam dalam segala segi secara langsung. Ia tak akan dapat menjadi pembimbing mutlak bagi setiap orang. Ia tak akan dapat menjadi Rahmatan lil-âlamîn dengan seluruh keadaannya. Persis demikian pula: Al-Qur'an al-Hakîm adalah imam bagi ahli kesadaran, pembimbing bagi jin dan manusia, penuntun bagi ahli kesempurnaan, dan guru bagi ahli hakikat. Jika demikian, keberadaannya dalam gaya percakapan dan uslub manusia adalah suatu keniscayaan yang pasti. Karena jin dan manusia mengambil munajat mereka darinya, mempelajari doa mereka darinya, menyebut persoalan mereka dengan lisannya, mempelajari adab pergaulan darinya, dan seterusnya... Setiap orang menjadikannya rujukan. Jika demikian, seandainya ia dalam gaya Kalâmullah yang didengar Nabi Mûsâ Alaihissalâm di Bukit Sinai, manusia tak akan sanggup mendengar dan menyimaknya, serta tak dapat menjadikannya rujukan. Seorang ulul azm seperti Nabi Mûsâ Alaihissalâm hanya sanggup mendengar beberapa perkataan. Nabi Mûsâ Alaihissalâm berkata: اَهٰكَذَا كَلاَمُكَ قَالَ اللّٰهُ ل۪ى قُوَّةُ جَم۪يعِ اْلاَلْسِنَةِ

Setan kembali berbalik, berkata: Banyak tokoh mengucapkan persoalan semacam persoalan Al-Qur'an atas nama agama. Karena itu, tidakkah mungkin seorang manusia melakukan hal seperti ini atas nama agama?

Aku menjawab dengan cahaya Al-Qur'an:

Pertama, seorang yang beragama, demi kecintaan pada agama, berkata: "Kebenaran begini. Hakikat begini. Perintah Allah begini." Ia tak membuat Allah berbicara sesuai kehendaknya. Ia tak melampaui batas hingga derajat tak terhingga, meniru Allah, lalu berbicara di tempat-Nya. Ia gemetar oleh dustur فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللّٰهِ.

Dan kedua, seorang manusia melakukan hal seperti ini seorang diri dan berhasil, dengan cara apa pun sama sekali tak mungkin. Bahkan ia seratus derajat mustahil. Karena tokoh-tokoh yang saling berdekatan dapat saling meniru. Yang sejenis dapat masuk ke dalam rupa satu sama lain. Yang berdekatan martabatnya dapat meniru maqam satu sama lain. Mereka menyesatkan manusia untuk sementara, tetapi tak dapat menyesatkan selamanya. Karena dalam pandangan ahli perhatian, kepura-puraan dan kejanggalan dalam lakon serta keadaannya bagaimanapun akan menampakkan kepalsuannya, tipuannya tak akan berlanjut. Jika yang berupaya meniru dengan kepalsuan itu amat jauh dari yang ditiru — misalnya seorang biasa hendak meniru seorang jenius seperti Ibnu Sina dalam ilmu, dan seorang gembala mengambil sikap seorang raja — tentu ia tak akan dapat menipu siapa pun. Bahkan ia sendiri akan menjadi bahan tertawaan. Setiap keadaannya akan berteriak: Ini palsu.

Maka — sekali-kali tidak, seratus ribu kali sekali-kali tidak! Tatkala Al-Qur'an diandaikan sebagai perkataan manusia: sebagaimana seekor kunang-kunang tampak selama seribu tahun sebagai bintang hakiki tanpa kepura-puraan kepada para pengamat.. dan seekor lalat memperlihatkan rupa merak sepenuhnya selama setahun tanpa buat-buat kepada para penonton.. dan seorang prajurit rendahan yang palsu mengambil sikap seorang panglima agung yang termasyhur, duduk di maqamnya, tinggal demikian sekian lama, dan tak menampakkan tipuannya.. dan seorang pembohong pemfitnah yang tak beriman memperlihatkan — seumur hidupnya, kepada pandangan paling teliti, tanpa cemas — keadaan dan posisi seorang tokoh yang paling jujur, paling terpercaya, dan paling teguh keyakinannya, serta menyembunyikan kepura-puraannya dari pandangan para jenius? Ini seratus derajat mustahil; tak ada yang berakal dapat menyebutnya mungkin, dan mengandaikannya demikian adalah suatu igauan bagai mengandaikan kemustahilan yang jelas sebagai suatu kejadian. Persis demikian pula, mengandaikan Al-Qur'an sebagai perkataan manusia mengharuskan: bahwa mahiyah Kitab Mubîn — yang di langit Alam Islam, dengan penyaksian, dianggap sebagai suatu bintang hakikat yang amat cemerlang dan senantiasa menyebarkan cahaya hakikat, bahkan suatu matahari kesempurnaan — sekali-kali dan sekali-kali tidak, adalah rekaan penuh khurafat dari seorang manusia tukang buat-buat yang berkedudukan bagai kunang-kunang; dan orang-orang yang paling dekat dengannya serta yang memandangnya dengan teliti tak menyadarinya, dan senantiasa mengenalnya sebagai bintang luhur lagi sumber hakikat. Ini, di samping seratus derajat mustahil, wahai setan, meski engkau maju seratus derajat dalam kesetananmu, engkau tak dapat menjadikannya mungkin, engkau tak dapat memperdaya akal yang belum rusak! Engkau hanya menipu dengan membuat dipandang dari kejauhan secara maknawi! Engkau menunjukkan bintang sekecil kunang-kunang.

Ketiga, mengandaikan Al-Qur'an sebagai perkataan manusia mengharuskan: bahwa hakikat tersembunyi suatu Furqan yang keemasan — yang dengan jejak, pengaruh, dan hasilnya, dengan penyaksian, adalah yang paling berjiwa dan menghidupkan, paling penuh hakikat dan membawa kebahagiaan, paling mencakup dan mukjizat penjelasannya, serta bersalut keistimewaan luhur di alam kemanusiaan — sekali-kali tidak, adalah karangan pikiran satu manusia yang tanpa bantuan dan tanpa ilmu; dan bahwa kecerdasan besar dan kejeniusan luhur yang menyaksikannya dari dekat dan memperhatikannya dengan saksama tak pernah, dari segi apa pun, melihat jejak kepalsuan dan kepura-puraan padanya.. melainkan senantiasa menemukan kesungguhan, ketulusan, dan keikhlasan! Ini, di samping seratus derajat mustahil, adalah suatu igauan pikiran yang bahkan membuat setan pun malu — dengan mengandaikan seorang tokoh yang dengan seluruh keadaan, ucapan, dan geraknya sepanjang hidupnya menunjukkan dan mengajarkan amanah, iman, keamanan, keikhlasan, kesungguhan, dan keistikamahan, serta mendidik para shiddiqin, dan dianggap serta diterima memiliki tabiat tertinggi, tercemerlang, dan terluhur — sebagai yang paling tak terpercaya, paling tak ikhlas, paling tak berkeyakinan; bagai melihat suatu kemustahilan berlipat sebagai kejadian.

Karena persoalan ini tak ada tengahnya. Sebab, secara pengandaian mustahil, jika Al-Qur'an bukan Kalâmullah, ia jatuh bagai runtuh dari Arasy ke bumi. Ia tak tinggal di tengah. Padahal ia himpunan hakikat, ia menjadi sumber khurafat; dan tokoh yang menunjukkan firman luar biasa itu, sekali-kali dan sekali-kali tidak, seandainya bukan Rasulullah صلى الله عليه وسلم; maka harus jatuh dari puncak 'illiyyin ke dasar safilin, dan turun dari derajat sumber kesempurnaan ke maqam tambang tipu daya. Ia tak dapat tinggal di tengah. Karena yang memfitnah atas nama Allah dan berdusta, jatuh ke derajat paling hina. Sebagaimana melihat seekor lalat secara tetap sebagai merak, dan senantiasa menyaksikan sifat-sifat besar merak padanya, adalah amat mustahil; persoalan ini pun demikian mustahil. Diperlukan seorang gila yang mabuk dan tak berakal secara fitri untuk memberi kemungkinan padanya.

Keempat, mengandaikan Al-Qur'an sebagai perkataan manusia mengharuskan: bahwa Al-Qur'an — komandan suci umat Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم, tentara terbesar dan termegah bani Adam — yang dengan penyaksian, melalui kanun-kanunnya yang kuat, dustur-dusturnya yang kukuh, dan perintah-perintahnya yang menembus, telah memberikan pada tentara yang amat besar itu suatu keteraturan hingga derajat dapat menaklukkan dua alam, menempatkannya di bawah ketertiban, melengkapinya secara lahir dan maknawi, mengajari akal seluruh individu sesuai derajat mereka, mendidik kalbu mereka, menundukkan ruh mereka, menyucikan hati nurani mereka, serta mempekerjakan dan memanfaatkan anggota badan mereka — sekali-kali dan seratus ribu kali sekali-kali tidak, adalah rekaan tak berkekuatan, tak berharga, dan tak berdasar; di samping mengharuskan penerimaan seratus derajat kemustahilan.. dan bahwa seorang tokoh yang sepanjang hidupnya dengan gerak yang sungguh-sungguh mengajarkan kanun kebenaran kepada bani Adam, dengan perbuatan yang tulus mengajarkan dustur hakikat kepada manusia, dengan ucapan yang ikhlas lagi masuk akal menunjukkan dan menegakkan usul keistikamahan dan kebahagiaan, dan dengan kesaksian seluruh riwayat hidupnya amat takut akan azab Allah dan lebih dari siapa pun mengenal serta memperkenalkan Allah, dan dengan kemegahan sempurna menjadi panglima bagi seperlima jenis manusia dan separuh bola bumi selama seribu tiga ratus lima puluh tahun, serta dengan urusan-urusannya yang termasyhur menggemparkan dunia menjadi sumber kebanggaan bani Adam bahkan alam semesta — sekali-kali dan seratus ribu kali sekali-kali tidak, harus diandaikan tak takut kepada Allah, tak mengenal-Nya, tak menghindari dusta, dan tak mengenal harga dirinya; sehingga mengharuskan menanggung seratus derajat kemustahilan sekaligus. Karena persoalan ini tak ada tengahnya. Sebab, secara pengandaian mustahil, jika Al-Qur'an bukan Kalâmullah; jika ia jatuh dari Arasy, ia tak dapat tinggal di tengah. Melainkan harus diterima bahwa ia milik seorang yang paling pendusta di bumi. Ini, wahai setan, meski engkau seratus derajat menjadi setan berlapis, engkau tak dapat memperdaya akal yang belum rusak dan tak dapat meyakinkan kalbu yang belum lapuk.

Setan berbalik, berkata: Bagaimana aku tak dapat memperdaya? Aku telah membuat kebanyakan manusia dan para cendekiawan manusia yang termasyhur mengingkari Al-Qur'an dan Muhammad صلى الله عليه وسلم, dan aku telah memperdaya mereka.