Jawaban
Al-Maktubat · hlm. 365
Pertama, jika dipandang dari jarak yang amat jauh, sesuatu yang terbesar dapat tampak sekecil sesuatu yang terkecil. Sebuah bintang dapat dikatakan sebesar sebatang lilin.
Kedua, jika dipandang dengan pandangan yang mengikut lagi dangkal, sesuatu yang amat mustahil dapat tampak mungkin. Suatu ketika, seorang tua memandang langit untuk melihat hilal Ramadan. Sehelai rambut putih turun ke matanya. Rambut itu ia sangka bulan. "Aku melihat bulan," katanya. Maka mustahil bahwa hilal itu adalah rambut putih. Namun karena ia sengaja memandang bulan secara langsung, dan rambut itu tampak secara mengikut, tak langsung, dan pada derajat kedua, ia menganggap kemustahilan itu mungkin.
Ketiga, tidak menerima itu satu hal, mengingkari itu hal lain. Ketiadaan penerimaan adalah suatu ketidakpedulian, suatu memejamkan mata, dan suatu ketiadaan hukum yang bodoh. Dalam bentuk ini banyak hal mustahil dapat tersembunyi di dalamnya. Akalnya tak bergelut dengannya. Adapun pengingkaran; itu bukan ketiadaan penerimaan, melainkan penerimaan ketiadaan, suatu hukum. Akalnya terpaksa bergerak. Dalam keadaan itu, setan sepertimu merampas akalnya dari tangannya. Lalu menyuapkan pengingkaran kepadanya. Dan wahai setan! Dengan tipu daya setani seperti kelalaian, kesesatan, sofisme, kekerasan hati, kilah, keras kepala, penyesatan, dan kebiasaan turun-temurun — yang menampakkan yang batil sebagai benar dan yang mustahil sebagai mungkin — engkau telah menyuapkan kekufuran dan pengingkaran, yang membuahkan banyak kemustahilan, kepada hewan-hewan berupa manusia malang itu.
Keempat, mengandaikan Al-Qur'an sebagai perkataan manusia mengharuskan: bahwa suatu kitab yang — dengan penyaksian, membimbing para asfiya, shiddiqin, dan aqtab yang bercahaya bagai bintang di langit alam kemanusiaan; secara nyata terus-menerus mengajarkan kebenaran dan kelurusan, kejujuran dan kesetiaan, keamanan dan amanah kepada seluruh lapisan ahli kesempurnaan; menjamin kebahagiaan dua alam dengan hakikat rukun iman dan dustur rukun Islam; dan dengan kesaksian pelaksanaan ini niscaya haruslah merupakan kebenaran murni, hakikat jernih, amat lurus, dan amat sungguh-sungguh — dibayangkan bersifat dengan kebalikan sifat, pengaruh, dan cahayanya, dan — sekali-kali tidak — dipandang sebagai himpunan kepalsuan dan fitnah; ini, di samping merupakan igauan kufur yang keji yang bahkan membuat kaum Sofis dan setan malu serta gemetar; dengan kesaksian agama dan syariat Islam yang ia perlihatkan, dengan petunjuk ketakwaannya yang luar biasa dan ubudiyahnya yang murni lagi jernih yang disepakati sepanjang hidupnya, dengan tuntutan akhlak baik yang disepakati tampak pada dirinya, dan dengan pembenaran seluruh ahli hakikat dan pemilik kesempurnaan yang ia didik — mengandaikan seorang tokoh yang paling teguh keyakinannya, paling kukuh, paling terpercaya, dan paling jujur, sebagai — sekali-kali dan seratus ribu kali sekali-kali tidak — tak berkeyakinan, paling tak terpercaya, tak takut kepada Allah, dan tak menghindari dusta; sehingga mengharuskan menanggung bentuk kemustahilan yang paling buruk dan menjijikkan, serta bentuk kesesatan yang paling zalim dan penuh kegelapan.