Penawar Hasad
Al-Maktubat · hlm. 312
Hendaklah si pendengki merenungkan akibat dari hal-hal yang ia dengki. Agar ia memahami bahwa keelokan, kekuatan, kedudukan, dan kekayaan duniawi yang ada pada saingannya itu fana dan sementara; faedahnya sedikit, susahnya banyak. Jika ia keutamaan ukhrawi, maka pada hal-hal itu memang tak boleh ada hasad. Jika ia berhasad pula pada hal-hal itu, maka: ia sendiri seorang yang riya, hendak membinasakan harta akhirat di dunia; atau ia menyangka yang didengki sebagai orang yang riya, lalu ia berbuat tak adil dan zalim.
Ia pun merasa senang atas musibah yang menimpa saingannya dan bersedih atas nikmatnya, lalu merajuk kepada takdir dan rahmat Ilahi atas kebaikan-kebaikan-Nya kepada orang itu. Seakan-akan ia mengkritik takdir dan menentang rahmat. Yang mengkritik takdir membenturkan kepalanya ke landasan besi, lalu pecah. Yang menentang rahmat, tetap terhalang dari rahmat.
Gerangan, keadilan mana yang menerima — dan hati nurani mana yang belum rusak yang dapat menampung — bahwa sesuatu yang sehari pun tak layak dimusuhi dibalas dengan kebencian dan permusuhan selama setahun? Padahal engkau tak dapat menimpakan seluruh keburukan yang datang kepadamu dari saudara mukminmu kepadanya lalu menghukumnya. Sebab pertama, takdir punya bagian di dalamnya. Bagian takdir dan qadha itu mesti dikeluarkan, lalu dihadapi dengan keridaan. Kedua, bagian nafsu dan setan pun mesti dipisahkan, lalu terhadap orang itu bukan permusuhan, melainkan rasa iba karena ia kalah oleh nafsunya, serta harapan bahwa ia akan menyesal. Ketiga, lihatlah kekuranganmu yang tak engkau lihat atau tak ingin engkau lihat pada nafsumu sendiri; berikan pula satu bagian kepadanya. Kemudian terhadap satu bagian kecil yang tersisa, jika engkau membalas dengan pemaafan dan kelapangan serta kemuliaan jiwa — yang paling selamat dan paling cepat mengalahkan lawan — engkau akan selamat dari kezaliman dan kerugian. Jika tidak, membalas urusan-urusan duniawi yang fana, sirna, sementara, dan tak berarti — yang tak bernilai lima peser — dengan ketamakan sengit, kebencian abadi, dan permusuhan berkepanjangan, seakan-akan engkau kekal di dunia dan akan tinggal bersama selamanya, adalah — dengan bentuk mubalaghah — suatu kezaliman besar, atau suatu kemabukan, dan semacam kegilaan; persis bagai seorang saudagar Yahudi yang mabuk dan gila, yang membeli pecahan kaca dan bongkahan es dengan harga intan.
Maka terhadap permusuhan dan pikiran balas dendam yang sedemikian membahayakan kehidupan pribadi ini — jika engkau mencintai dirimu — janganlah beri jalan agar ia masuk ke kalbumu. Jika ia telah masuk ke kalbumu, janganlah dengarkan ucapannya. Lihatlah, dengarkanlah Hafiz asy-Syirazi yang memandang hakikat:
دُنْيَا نَه مَتَاعِيسْت۪ى كِه اَرْزَدْ بَنِزَاع۪ى Yakni: "Dunia bukanlah suatu barang yang layak diperselisihkan." Karena ia tak bernilai lantaran fana dan berlalu. Jika dunia yang besar saja demikian, engkau dapat memahami betapa tak berartinya urusan-urusan kecil dunia!.. Ia pun berkata:
آسَايِشِ دُو گ۪يت۪ى تَفْس۪يرِ اِينْ دُو حَرْفَسْتْبَادُوسِتَانْ مُرُوَّتْ بَادُشْمَنَانْ مُدَارَا Yakni: "Ketenteraman dan keselamatan dua alam ditafsirkan dan diraih oleh dua huruf: bergaul secara berbudi terhadap para sahabat, dan bersikap damai terhadap para musuh."