Penutup
Al-Maktubat · hlm. 538
Penjelasan empat langkah dalam jalan ketakberdayaan, kefakiran, kasih sayang, dan tafakur ini; telah dibahas di dua puluh enam Kelimat yang berkenaan dengan ilmu hakikat, hakikat syariat, dan hikmah Al-Qur'an. Hanya di sini kami akan memberi isyarat singkat pada satu-dua titik. Yakni:
Ya, jalan ini lebih pendek. Karena ia empat langkah. Ketakberdayaan, jika ia menarik tangannya dari nafsu, ia memberikannya secara langsung kepada Sang Qadîr Dzul-Jalâl. Padahal cinta — jalan yang paling tajam — menarik tangannya dari nafsunya, tetapi berpegang pada kekasih majazi. Setelah menemukan kesirnaannya, barulah ia pergi ke Sang Kekasih Hakiki. Dan jalan ini lebih selamat. Karena tak ada syathahat dan dakwa muluk nafsu. Karena ia tak menemukan pada nafsunya selain ketakberdayaan, kefakiran, dan cela, sehingga ia tak melampaui batasnya. Dan jalan ini lebih umum dan merupakan jalan raya besar. Karena ia tak terpaksa — seperti ahli wahdatul wujud yang, untuk meraih kehadiran abadi, menganggap alam semesta terhukum ditiadakan lalu menghukumi "Lâ maujûda illâ Hû (tak ada yang maujud selain Dia)" — atau seperti ahli wahdatusy syuhud yang, demi kehadiran abadi, membayangkan alam semesta terhukum dipenjara dalam penjara pelupaan mutlak lalu berkata "Lâ masyhûda illâ Hû (tak ada yang tersaksikan selain Dia)". Melainkan, karena Al-Qur'an dengan amat jelas membebaskan (alam semesta) dari peniadaan dan pemenjaraan, ia pun berpaling dari itu, dan dengan memberhentikan maujud dari khidmat atas nama diri mereka sendiri lalu memperkerjakannya atas nama Sang Fâthir Dzul-Jalâl, memakainya dalam tugas menjadi tempat penampakan dan cermin bagi asma'ul husna-Nya, memandang mereka dengan pandangan makna harfi, terselamatkan dari kelalaian mutlak, dan masuk ke kehadiran abadi; yakni menemukan suatu jalan kepada Allah pada segala sesuatu.