Risale-i NurAl-Maktubat

Langkah Keempat

Al-Maktubat · hlm. 536

Sebagaimana memberi pelajaran كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَهُ: nafsu mengetahui dirinya bebas, mandiri, dan maujud pada dirinya sendiri. Ia mendakwa semacam rububiyah dari dirinya. Ia membawa suatu pemberontakan penuh permusuhan terhadap Mabudnya. Maka dengan memahami hakikat yang akan datang ini, ia terselamatkan darinya. Hakikatnya adalah: segala sesuatu pada dirinya, dengan makna ismi, adalah fana, hilang, baru (hâdis), dan tiada. Tetapi dengan makna harfi, dari sisi menjadi cermin bagi nama-nama Sang Shâni' Dzul-Jalâl, dan dari sisi pengembanan tugas, ia adalah saksi, tersaksikan, ada, dan maujud. Pada maqam ini cara menyucikan dan membersihkannya adalah: dalam wujudnya ada ketiadaan, dalam ketiadaannya ada wujud. Yakni, jika ia mengetahui dirinya dan memberikan wujud (kepada dirinya); ia berada di dalam gelapnya ketiadaan seluas alam semesta. Yakni, jika ia mengandalkan wujud pribadinya dan lalai dari Sang Mûjid Hakiki (Pengada Hakiki), cahaya wujud pribadinya bagai kunang-kunang; berada dan tenggelam di tengah gelapnya ketiadaan dan perpisahan yang tak berkesudahan. Tetapi tatkala ia meninggalkan egoisme dan melihat bahwa nafsunya pada dirinya adalah ketiadaan (nihil) serta ia adalah cermin tajalli Sang Mûjid Hakiki, ia meraih seluruh maujud dan suatu wujud yang tak berkesudahan. Karena suatu kalbu yang menemukan Zat Wâjib al-Wujûd — yang seluruh maujud adalah tempat tampaknya manifestasi nama-nama-Nya — menemukan segala sesuatu.