Risale-i NurAl-Maktubat

Peristiwa Kedua

Al-Maktubat · hlm. 177

Yaitu peristiwa serigala yang, melalui lima-enam jalur, telah memperoleh hukum tawatur maknawi; kisah menakjubkan ini diriwayatkan melalui banyak jalur dari para sahabat yang masyhur. Di antaranya: Abu Sa'id al-Khudri, Salamah bin al-Akwa', Ibnu Abi Wahb, Abu Hurairah, dan seorang penggembala pemilik peristiwa (Uhban) — mengabarkan melalui banyak jalur bahwa: seekor serigala menangkap salah satu kambing; sang penggembala merebutnya dari tangan serigala. Serigala (dzi'b) berkata: "Engkau tak takut kepada Allah, engkau merampas rezekiku dari tanganku." Penggembala berkata: "Menakjubkan, mungkinkah serigala berbicara?" Serigala berkata kepadanya: "Yang menakjubkan adalah keadaanmu, sebab di balik tempat ini ada seorang sosok yang mengundang kalian ke surga, ia seorang nabi, tetapi kalian tak mengenalnya!" Seluruh jalur bersepakat tentang berbicaranya serigala, dan pada jalur yang kuat dari Abu Hurairah dikabarkan: penggembala berkata kepada serigala: "Aku akan pergi; tetapi siapa yang akan menjaga kambing-kambingku?" Serigala berkata: "Aku yang akan menjaganya." Lalu penggembala menyerahkan tugas menggembala kepada serigala dan pergi. Ia menjumpai Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, beriman, lalu kembali. Ia mendapati serigala menjaga; tiada yang hilang. Ia menyembelih seekor kambing untuk serigala, karena serigala itu telah menjadi gurunya.

Pada satu jalur: Abu Sufyan dan Shafwan, dari pemuka Quraisy, melihat seekor serigala mengejar seekor rusa lalu masuk ke Haram Syarif. Serigala itu berbalik, lalu mereka heran. Serigala berbicara, mengabarkan risalah Ahmadiyah. Abu Sufyan berkata kepada Shafwan: "Jangan kita ceritakan kisah ini kepada siapa pun; aku khawatir Mekah akan kosong dan mereka bergabung dengannya." Kesimpulannya, kisah serigala memberikan keyakinan yang pasti, laksana mutawatir maknawi.